
Jona menutup sambungan ponselnya setelah menghubungi Bela, tepatnya ponsel Bela yang di angkat oleh managernya, yang mengatakan Bela sedang melakukan pemotretan dengan salah satu brand ternama di sebuah hotel bintang lima di pusat kota, tentu saja Jona tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh manager sang kekasih karena jona melihat sendiri mobil Bela memasuki parkiran klub malam dan ini juga sudah larut.
"Pak berhenti," perintah Jona pada sopir taksi yang di naikinya, lalu dengan segera sopir tersebut menginjak rem untuk menghentikan laju mobilnya. "Sekarang putar balik, ke arah klub malam King,"
"Baik Tuan," ujar sopir taksi online tersebut mengikuti perintah Jona dan memutar mobil yang di kendarai nya ke klub malam yang di sebut Jona.
Sopir taksi tersebut memarkirkan mobilnya di parkiran klub malam mengikuti perintah Jona, yang menyuruhnya untuk menunggu dirinya hingga keluar dari klub malam dan menjaga Jane yang masih terlelap.
"Pak tolong jaga dia," ujar Jona sambil membuka pintu mobilnya ingin keluar, namun tangannya langsung di cekal oleh Jane, yang perlahan membuka matanya.
"Jona apa kita sudah sampai?" tanya Jane sambil beranjak dari tidurnya, saat Jona tadi menidurkan Jane di jok mobil. Kemudian Jane melepas tangannya yang masih memegangi tangan Jona, beralih menutup mulutnya saat akan menguap.
"Belum, kamu tetap di sini aku akan segera kembali,"
"Memangnya kamu mau ke mana?"
__ADS_1
"Ada urusan sebentar," jawab Jona dan ingin menutup pintu mobil, namun pintu tersebut langsung di tahan oleh Jane yang juga ikut turun dari dalam mobil.
"Enak saja aku di suruh menunggu di sini, bersama dengan orang yang tidak aku kenal, kalau aku di culik bagaimana? Apa jangan-jangan kamu sengaja agar aku di culik, biar kamu tidak repot lagi menjagaku seperti yang selalu kamu katakan,"
Mendengar ucapan Jane, Jona langsung meraih tangan Jane lalu membawa Jane ke dalam pelukannya, dan tak lupa satu tangannya mengacak acak rambut Jane. "Jane pikiran kamu negatif sekali, aku hanya sebentar masuk ke dalam klub ini,"
"Klub malam? Di mana?" tanya Jane sambil mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan adanya klub malam karena bangunan yang berada di sekelilingnya menyerupai kastil tua.
Dan Jona langsung menunjuk sebuah tulisan yang terpampang nyata tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"King?"
"Masuk doang apa salahnya, dulu aku sering keluar masuk klub malam untuk menemui partner kerja aku, tapi aku selalu ingat pesan bibi Berta jangan pernah mengambil minuman yang di berikan orang ke padamu jika kamu berada di klub malam, dan jangan juga meminum minuman keras yang bisa membuat kamu kehilangan kesadaran, dan itu yang akan membahayakan aku jika sedang bekerja, dan aku akan selalu mengingat pesan bibi, meskipun aku beberapa kali minum itu dari berbagai merek dengan Zain untuk mencoba rasanya bagaimana, dan aku bisa membedakan ternyata lebih enak minum boba sih dari pada minuman tidak jelas itu," ujar Jane mengingat lagi karena penasaran dengan rasa minuman keras dirinya dan juga Zain diam-diam membeli minuman keras dan mencobanya tanpa sepengetahuan bibi Berta.
"Dasar anak nakal, baiklah sekarang kamu boleh ikut masuk, tapi tetap berada di sisiku,"
__ADS_1
"Siap bos," ujar Jane lalu beralih memeluk lengan Jona memasuki klub malam tersebut, setelah Jona melepas pelukannya.
Jane yang sudah memasuki klub malam tersebut hanya bisa senyum senyum sendiri melihat begitu banyak pasangan sendang bercumbu tanpa tahu tempat, namun sedetik kemudian matanya di tutup dengan telapak tangan Jona. "Singkirkan tanganmu, menghalangi pemandangan indah saja," Jane menyingkirkan tangan Jona saat dirinya sedang menatap banyaknya pria dengan tubuh kekar sedang menari menikmati alunan musik yang di mainkan DJ.
"Jangan terkecoh, tubuh boleh kotak-kotak, tapi main terong terongan,"
"Masa sih aku tidak percaya," lalu Jane menoleh ke arah Jona. "Kamu juga kotak, jangan bilang–
"Aku pria sejati Jane, jangan macam-macam kamu, aku hajar baru tau rasa,"
"Tidak mau sudah tua pasti mengkirut,"
"Wah bocil tidak tahu yang tua lebih perkasa,"
"Sulit di percaya,"
__ADS_1
Namun Jona tidak lagi menanggapi perkataan Jane, saat matanya menatap seseorang yang sangat di kenalnya, sedang memeluk lengan seorang pria.
Bersambung...................