
Sekali lummataan dua kali, tiga kali Zain di buat candu dengan apa yang dirinya lakukan, apa lagi Zifa yang masih memejamkan matanya, membuat Zain benar-benar mempraktekkan apa yang dirinya tonton dalam film dewasa cara berciuman bagaimana.
Sebenernya Zifa tidak lah tidur, dirinya juga menikmati setiap sentuhan bibir yang Zain lakukan, dirinya enggan membuka matanya berharap Zain melakukannya lebih, entah dari mana Zifa berfikir seperti itu, yang dirinya pikirkan saat ini adalah Zain bisa melakukan hal lebih hanya sekedar berciuman dengannya agar Zain bisa melupakan Jane, dan Zifa bisa memiliki Zain untuk seutuhnya dan untuk selamanya.
Zain terus melummmat bibir Zifa dengan rakus saat tiba-tiba pusingnya benar-benar hilang dari kepala dan dirinya merasakan hal yang berbeda dalam tubuhnya entah rasa apa itu Zain tidak tahu.
Zain melepas tautan bibirnya lalu menautkan ke dua alisnya, dan tangan satunya memegang juniornya yang tiba-tiba sudah berdiri di sarangnya. Zain yang tidak percaya, menegakkan tubuhnya dengan bertemu pada ke dua lututnya saat dirinya masih berada di atas tubuh Zifa yang masih memejamkan matanya meskipun sempat mengintip sebentar.
Zain menarik celana kolor yang dikenakan nya, untuk mengintip burung miliknya yang benar-benar sudah bisa berdiri tegak di bawah sana. Senyum terukir dari ke dua sudut bibir Zain, dan pikiran liarnya tiba-tiba muncul di kepala, dan mengingat lagi film dewasa yang pernah dirinya tonton, selain berciuman ada adegan panjang yang membuat Zain ingin merasakannya.
Zain yang tidak bisa mengontrol hasrat di tubuhnya yang menggebu gebu dan ingin merasakan apa yang sudah terlintas di dalam pikirannya, langsung mengungkung tubuh Zifa yang ada di bawahnya. Zain menatap lekat wajah Zifa yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Wajah yang begitu luwes dan tidak akan pernah bosan untuk menatap nya lebih lama.
Memang Zain sudah terpesona dengan Zifa dari pertama kali bertemu, namun Zain sadar banyak perbedaan di antara ke duanya, dan salah satunya adalah usia Zifa lebih tua lima tahun dari nya.
Dan dari situ Zain lebih menutup rasa tertariknya pada wanita yang sekarang ada di bawah tubuhnya. Tapi untuk saat ini Zain tidak bisa berpikir normal, yang ada di pikirannya saat ini adalah menyalurkan hasratnya.
__ADS_1
Zain kembali menempelkan bibirnya dan kembali mellummat bibir Zifa, lalu satu tangannya masuk ke dalam pembungkus gunung kembar yang masih menempel di dada Zifa, dan Zain meremas gundukan tersebut. Hasrat Zain benar-benar tidak bisa di kontrol lagi dan dirinya langsung menggesek gesekan miliknya yang sudah menegang di bawah sana, meskipun masih berada di sarangnya, lalu Zain melepas tautan bibirnya beralih mencium ceruk leher Zifa.
Zifa yang sedari tadi pura-pura tertidur membuka matanya yang juga merasakan hasrat di tubuhnya, suara desashhan keluar dari bibirnya membuat Zain langsung menghentikan aksinya, dan menatap Zifa yang sedang mengukir senyum dari kedua sudut bibir nya.
"Zifa," ucap Zain namun tidak ada tanggapan dari Zifa yang langsung memeluk tubuh Zain yang masih berada di atasnya.
"Zain apa yang kamu lakukan ini tidak benar," entah dari mana suara itu terdengar jelas di telinga Zain, membuat Zain diam sejenak lalu turun dari tempat tidur tanpa mengatakan apa pun, dan ingin meninggalkan kamar tersebut.
"Zain," panggil Zifa dan menghentikan langkahnya saat Zifa memeluknya dari belakang. "Kenapa tidak di teruskan, aku tidak masalah kamu melakukannya. Karena aku mencintaimu Zain," Akhirnya perasaan cinta yang selama ini Zifa pendam untuk Zain dirinya ungkapkan.
"Tidak Zain. Aku sungguh sangat mencintaimu," jawab Zifa lalu memeluk tubuh Zain.
Zain diam terpaku sejenak sebelum dirinya juga balik memeluk Zifa. Dan keduanya saling berpelukan untuk beberapa saat sebelum Zifa melepas pelukannya. "Zain lakukan apa yang ingin kamu lakukan tadi, agar kamu tahu betapa besarnya cinta ku padamu," Zifa menarik tangan Zain namun langsung di tahan oleh Zain.
"Zifa tadi aku khilaf, dan kita belum menikah, maaf aku tidak bisa melakukannya,"
__ADS_1
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku," ujar Zifa dengan sedih membuat Zain langsung membawa nya ke dalam pelukannya.
"Bukan aku tidak mencintaimu, tapi aku akan memantaskan diri untuk membalas cintamu Zifa, kamu tahu aku pengangguran dan tidak memiliki apa pun,"
"Aku tidak peduli Zain, aku mencintaimu apa adanya,"
"Dan aku tidak mau di cintai apa adanya, aku akan membuktikan padamu jika aku pantas di cintai olehmu Zifa," ujar Zain dan mengecup kening Zifa yang masih berada di pelukannya.
*
*
*
Brak!
__ADS_1
Bersambung.......................