
Seminggu berlalu Zifa dan juga Zain tinggal di rumah yang sama, keduanya menjalani kehidupan seperti biasa, dan tidak ada hal yang istimewa, apa lagi Zifa yang sudah menaruh hati pada Zain, kini dirinya singkirkan saat Zain pernah mengatakan jika dirinya sangat menyayangi Jane.
Sayang berarti cinta, itu yang selalu terpikir oleh Zifa hingga dirinya benar-benar menutup hatinya tidak ingin merasakan kecewa karena menyukai pria yang mencintai orang lain.
Hari ini saatnya Zifa libur bekerja, dan hari ini dirinya memutuskan untuk bangun pagi dan membuat sarapan, karena setiap hari Zain lah yang membuat sarapan, dan juga pekerjaan rumah tangga Zain yang mengerjakan semua, karena akhir-akhir ini Zifa sangat sibuk untuk mencari tahu keberadaan Albert yang belum menemukan titik terang.
Zifa turun dari tempat tidurnya bertepatan dengan pintu kamarnya di buka dari luar dan memperlihatkan Zain yang masuk ke dalam kamar sambil memegangi keningnya.
"Zain ada apa–" Zifa tidak jadi meneruskan ucapannya dan langsung berlari menuju ke arah Zain lalu menahan tubuhnya saat Zain ingin ambruk. "Ya Ampun Zain kamu demam," ujar Zifa saat mendapati tubuh Zain panas sekali, kemudian Zifa memapah tubuh Zain menuju tempat tidur yang selama ini menjadi tempat tidurnya.
Zifa merebahkan tubuh Zain dengan perlahan di atas tempat tidur, sebelum dirinya keluar dari kamar untuk mencari makanan dan obat penurun panas.
Setengah jam kemudian Zifa kembali ke kamar sambil membawa sebungkus bubur dan juga obat penurun panas yang dirinya beli di warung, karena apotik belum ada yang buka.
__ADS_1
Zifa menaruh obat dan bubur di atas meja nakas di samping tempat tidur di mana Zain sedang menggigil. "Zain bangunlah, makan dan minum obat dulu," pinta Zifa dan Zain langsung beranjak dari tempat tidur dan ingin meraih mangkok berisi bubur, namun tangannya langsung di cekal oleh Zifa. "Aku akan menyuapi mu," dan Zain pun tidak menolak, kemudian menerima suapan demi suapan yang di berikan oleh Zifa.
"Aku sudah kenyang," tolak Zain saat sudah menghabiskan setengah mangkuk bubur.
"Baiklah, sekarang minum obatnya," Zifa mengambil obat yang tadi dirinya beli dan memberikannya pada Zain yang langsung meminumnya.
Zifa menoleh ke arah tempat tidur di mana Zain sudah memejamkan matanya setelah meminum obat, sebelum Zifa keluar dari kamar.
Zifa yang sudah ke keluar kamar langsung menuju meja makan untuk sarapan yang tadi dirinya beli saat keluar rumah untuk membeli obat Zain, dan hari ini dirinya tidak jadi membuat sarapan. Hembusan nafas kasar keluar dari bibirnya saat melihat foto Zain dan juga Jane sedang berpelukan yang terdapat di dinding ruang makan. Kemudian Zifa berpindah duduk agar tidak melihat foto tersebut.
Setelah Zifa selesai memakan sarapan dan membersihkan tempat makan, dirinya kembali lagi menuju kamar dengan membawa segelas teh hangat untuk Zain.
Zifa yang baru masuk ke dalam kamar langsung menautkan ke dua alisnya saat mendengar rintihan dari Zain, kemudian Zifa mendekatinya dan memegang keningnya. "Ya ampun kenapa jadi semakin panas," ujar Zifa saat mendapati suhu badan Zain meningkatkan.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Zifa melepas kaos yang Zain gunakan. "Zifa apa yang kamu lakukan?" tanya Zain dengan lemah saat menyadari Zifa melepas kaos yang di gunakan nya.
Tapi bukannya menjawab pertanyaan Zain, Zifa malah membuka kancing baju tidur yang di kenakan nya lalu naik ke atas tempat tidur, kemudian membawa Zain ke dalam pelukannya untuk melakukan skin to skin berharap demam Zain segera menurun.
"Aku hanya ingin menurunkan demam mu dengan cara ini,"
Dan entah mengapa Zain langsung melingkarkan tangannya dan memeluk balik Zifa yang hanya menggunakan kain pembungkusan gunung kembarnya.
*
*
*
__ADS_1
"Berhenti Jane, ada apa denganmu?"
Bersambung....................