Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Kamu Sudah Gila


__ADS_3

Brak!


Untuk ke dua kalinya Bagas menggebrak meja yang ada di hadapannya, kemudian dirinya beranjak dari duduknya sambil bertolak pinggang, dan matanya menatap tajam ke arah pria yang masih duduk di kursi nya dengan gagah.


"Awas saja jika kamu mengusik putriku Albert!"


"Tapi putrimu salah satu pengahalang bisnisku, kamu tahu itu Bagas," sambung Albert sambil menghisap puntung rokok yang tersalip di sela-sela jarinya.


"Tapi aku bisa mengeluarkan kamu dari penjara,"


"Sekarang, tidak tahu nanti. Untuk berjaga jaga jika kamu tidak bisa lagi mengeluarkan aku dari penjara, Aku harus melakukan apa yang harus aku lakukan pada putrimu, maafkan aku."


"Sial kau Albert!" Bagas mendekati Albert dan menarik kerah baju yang di gunakan nya. "Oke kalau itu mau kamu, jangan salahkan aku jika aku juga mengusik putramu, aku tahu meskipun kamu dingin padanya tapi kamu sangat menyayangi putra yang lahir dari wanita yang sangat kamu cintai itu, dan aku tahu kamu rela mati untuk putramu. Hingga kamu menyewa seseorang untuk terus mengawasi nya dan menjaganya dari para musuhmu. Dan aku tidak main-main dengan apa yang aku katakan ini Albert!" tegas Bagas lalu melepas tangannya yang masih memegangi kerah baju Albert dengan kasar. Kemudian Bagas keluar dari ruangan di mana keduanya sedari tadi berada.


Senyum tersungging dari sebelah sudut bibir Albert setelah kepergian Bagas. "Kamu ingin menantang ku? Baiklah akan aku kirim jazad putrimu tepat di depan rumahmu kawan," ucap Albert lalu menyesap rokok yang masih terdapat di sela-sela jarinya. "Masuk!" perintah Albert saat pintu ruangan di mana dirinya berada di ketuk dari luar.


"Malam bos," ucap salah satu anak buah Albert saat sudah berada di dalam ruangan di mana Albert berada.


"Malam, katakan informasi apa yang kamu dapat dari Jane dan juga putraku,"


"Untuk Jane dan Jona kita benar-benar kehilangan jejak nya bos, saat kita sudah tahu rumah persenbunyinya, rumah tersebut sudah milik orang lain,"


"Sialan!" Albert beranjak dari duduknya dengan kesal lagi-lagi anak buahnya tidak dapat menemukan Jane dan juga Jona. "Cari mereka sampai ketemu dan habisi mereka, aku ingin menghabisi penghianat sampai akar akarnya."


"Baik bos sesuai perintah,"

__ADS_1


"Bagaimana dengan Zain putraku?"


"Dia baik-baik saja bos,"


"Apa kamu tahu di mana dia sekarang tinggal?"


"Tahu bos, dia tinggal di rumah Berta, tapi dia tinggal tidak sendiri,"


"Maksud kamu?" tanya Albert penasaran sambil menautkan ke dua alisnya.


"Ini bos," anak buah Albert menyodorkan beberapa lembar foto kehadapan Albert yang langsung di ambilnya, lalu Albert menautkan ke dua alisnya saat sudah melihat beberapa foto tersebut. "Sepertinya putra bos sangat dekat dengan polisi itu, apa yang harus aku lakukan bos?" tanya anak buah Albert tapi tidak mendapat jawaban karena Albert yang langsung meremas foto sang putra bersama dengan Zifa, dan melemparnya ke sembarangan arah sebelum keluar dari ruangan tersebut.


*


*


*


"Jangan senyum-senyum sendiri Jane, nanti orang pikir kamu sudah gila," ujar Jona setelah sekilas menoleh di mana Jane duduk.


"Tidak masalah, yang penting aku punya baju baru, tas baru dan juga hak tinggi baru dari bard ternama yang memang selama ini aku inginkan, tapi sebelumnya terima kasih ya Jona," sambung Jane lalu mendekatkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di lengan Jona yang sedang fokus mengemudikan mobilnya, namun itu hanya sekilas karena Jane langsung menegakkan tubuhnya lalu menatap tajam ke arah Jona.


"Jangan menatapku seperti itu," ucap Jona saat melihat sekilas ke arah Jane yang sekarang menatapnya dengan tajam.


"Jona dari mana kamu mendapatkan uang ini, jangan bilang kamu menekuni bisnis ilegal itu lagi,"

__ADS_1


"Tentu saja tidak, aku sudah memberi tahu kamu bukan jika aku membelikan apa yang kamu mau karena aku sudah mendapat pekerjaan di showroom mobil elit di kota ini,"


"Apa kamu sedang membohongiku? Kamu hanya bekerja bukan pemilik showroom, yang bisa membelikan aku barang mewah,"


"Tadi aku mengatakan pada mu, aku membeli itu dari sisa tabunganku Jane, kenapa kamu tidak percaya sih, turunlah kita sudah sampai rumah,"


"Iya aku percaya, tapi gendong, kakiku pegal seharian keliling pusat perbelanjaan,"


"Dasar manja," Jona turun dari mobil terlebih dahulu dan membuka pintu mobil di mana Jane duduk dan langsung merentangkan tangannya.


"Aku mau di gendong di belakang,"


"Ya sudah kalau tidak mau," Jona menurunkan tangannya dan ingin meninggalkan Jane.


"Ish menyebabkan, iya aku mau," ucap Jane yang memang sudah kelelahan lalu Jona menggendong Jane di depannya dengan wajah saling bertemu.


"Jane,"


"Apa,"


"Boleh ya aku mencium bibir mu sekali saja, untuk–


Belum juga Jona meneruskan ucapannya Jane mencium bibirnya sekilas. "Dah tuh tanda teri– Jane tidak jadi meneruskan ucapannya saat matanya menatap seseorang.


Bersambung...................

__ADS_1


__ADS_2