
Jane melepas pelukannya dan menghapus api matanya. Karena Jane sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi, dan menerima takdir Tuhan yang sudah di tentukan untuknya. Dan Jane coba ikhlas meskipun berat di tinggal oleh sang suami yang sangat di cintai nya.
Fokusnya sekarang hanya pada anak yang masih berada di dalam kandungannya, bagaimana dirinya nanti menjadi seorang ibu dan juga ayah untuk anaknya.
Senyum di tunjukkan Jane pada Zain dan juga Zifa yang berdiri di samping ranjangnya.
"Kalian kembali lah ke rumahku, aku baik baik saja, kasihan Zifa jika harus berada di sini," ucap Jane.
"Kami akan berada di sini menemanimu Jane, jangan paksa kami untuk pulang,"
"Zain, jangan keras kepala kasihan istri kamu jika terus berada di sini, apa lagi kalian baru sampai di kota ini, di sini tidak ada tempat tidur untuk Zifa istirahat,"
"Siapa bilang?" tanya Zifa lalu naik ke atas ranjang perawatan Jane yang ukurannya cukup untuk tidur berdua. "Aku ingin tidur bersamamu malam ini," ucap Zifa lalu merebahkan tubuhnya di ranjang perawatan Jane.
Dan Jane langsung mengukir senyum dan ikut merebahkan tubuhnya, yang memang masih merasa lemas tepat di samping Zifa.
Zain yang sudah duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut menatap sang istri dan juga Jane yang sedang berbincang bincang.
Air mata membasahi pipi Zain, yang benar benar prihatin dengan apa yang di alami oleh sahabatnya, di tinggal sang suami untuk selamanya saat sedang mengandung.
"Jane, aku akan selalu ada untukmu dan anakmu kapan pun kamu membutuhkan," ucap lirih Zain lalu menjatuhkan punggungnya kasar di sandaran sofa yang di duduki nya.
"Zifa," panggil Jane sambil memiringkan tubuhnya untuk menatap Zifa.
__ADS_1
Dan Zifa yang mendengar Jane memanggilnya juga memiringkan tubuhnya untuk menatap Jane.
"Iya Jane, katakan saja apa yang ingin kamu katakan, aku akan mendengarnya,"
"Maukah kamu mengantarku ke bandara besok, aku ingin memastikan sendiri tentang suamiku,"
"Tentu aku akan mengantarmu, tapi tidak besok lihatlah dirimu ini Jane,"
"Tapi aku merasa sudah baik kan, jika kamu tidak ingin mengantar juga tidak masalah, aku bisa pergi sendiri," ucap Jane lalu membalik tubuhnya telentang.
"Oke aku dan Zain akan mengantarmu ke bandara, tapi janji kamu–"
"Tenang saja aku tidak akan pernah menangis lagi, aku sudah ikhlas menerima takdir Tuhan untukku ini," sambung Jane memotong perkataan Zifa.
"Tapi aku punya satu permintaan jane," ucap Zifa, membuat Jane langsung menoleh untuk menatap Zifa. "Ikut lah dengan aku dan Zain kembali ke ibu kota, aku tidak ingin kamu tinggal di sini sendirian dan membesarkan anak kamu seorang diri,"
Mendengar permintaan Zifa, Jane hanya mengukir senyum yang di paksakan, lalu melepas tangan Zifa yang masih menggenggamnya, dan sekarang Jane yang beralih menggenggam tangan Zifa.
"Terima kasih sebelumnya, kalian sangat perhatian padaku, tapi maaf, aku tidak akan pergi ke mana pun, aku akan tetap tinggal di kota ini mengurus showroom suamiku, dan membesarkan anakku seorang diri,"
"Tapi Jane di kota ini kamu hanya sendiri,"
"Kata siapa? Aku mempunyai banyak tetangga di sini, yang sudah seperti saudara. Dan aku tidak akan pernah meninggalkan kota ini sampai kapan pun Zifa. Jadi maaf aku tidak ingin kembali bersama kalian," sambung Jane sambil mengulas senyum.
__ADS_1
Lalu Zifa memeluk tubuh Jane. "Aku sungguh tidak bisa menebak dirimu Jane, beberapa hari lalu kamu bagai anak kecil yang manja, tapi sekarang kamu sungguh berbeda,"
"Karena sudah tidak ada lagi yang akan memanjakan aku, jadi aku harus membuang sifat kekanak kanakan itu, tidak mungkin aku harus menunjukkan sifat itu pada anakku, apa yang akan anakku katakan jika melihat ibunya kekanak kanakan, tidak lucu bukan?"
"Jane," panggil Zifa dan mengeratkan pelukan nya.
"Zifa, lepaskan pelukanmu. Peluklah sana suamimu,"
"Biarkan aku tidur sambil memelukmu Jane," pinta Zifa masih dalam posisinya, dan coba untuk memejamkan matanya.
Jane tidak mengatakan apa pun lagi, dan membiarkan Zifa dengan posisinya. Kemudian Jane coba untuk memejamkan matanya meskipun sangat sulit, karena selalu terbayang wajah sang suami.
"Jane,"
Suara yang sangat Jane kenal dan juga Jane rindukan terdengar jelas di telinganya saat dirinya sudah bisa memejamkan matanya.
Lalu Jane membuka matanya, tepat jam dinding di ruangan tempatnya berada menunjukkan pukul dua dini hari, dan itu artinya, dirinya baru saja sekitar satu Jane memejamkan mata.
Jane menautkan ke dua alisnya saat tidak mendapati Zifa yang tadi tidur sambil memeluk nya, sudah tidak ada lagi di sampingnya.
Kemudian Jane menatap sosok yang sangat di rindukan berdiri sambil mengukir senyum ke arahnya, tidak jauh dari ranjang tempatnya berada.
Bersambung.........................
__ADS_1