
Jona menyuruh sopir taksi untuk menepikan mobil yang di kendarai,
saat perjalanan menuju hotel tempatnya menginap masih setengah perjalanan.
"Iya tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya sopir taksi tersebut saat sudah menghentikan laju mobilnya.
"Tolong tinggalkan kami berdua, tenang saja nanti aku kasih uang lebih," pinta Jona dan sopir taksi tersebut langsung turun dari mobilnya mengikuti perintah Jona.
Sopir taksi yang sudah keluar dari mobil, menjauh dari mobil yang di parkir kan nya, dan mengelus dadanya saat mobil miliknya mulai bergoyang. "Ya ampun apa tidak bisa menahannya, tidak tahu apa aku jomblo," ujar sopir taksi tersebut yang membalik tubuhnya tidak ingin pikiran liarnya memenuhi kepala saat melihat mobilnya terus bergoyang.
Jona menatap Jane yang berada di samping dan mulutnya tidak berhenti merancau yang tidak jelas. "Kapan mulainya ganteng? Aku sudah gatal,"
"Gatal, gatal kamu panuan?"
"Bukan itu ganteng tapi– Jane tidak meneruskan ucapannya saat Jona membuka sweater yang di kenakan nya. "Apa kita ingin melakukannya di sini?"
"Tentu," Jona mendekati Jane dan melepas sweater Jane, tentu saja Jane yang sudah kehilangan akal sehatnya langsung membantu melepas sweater yang di kenakan nya.
"Celana aku yang buka aku, apa kamu ganteng?"
__ADS_1
"Tentu saja aku yang akan membukanya, kamu berbaring oke,"
"Oke ganteng," Jane yang benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya mengikuti perintah Jona dan langsung berbaring di kursi belakang taksi tersebut.
"Bagus, dan sekarang aku akan menutup mulutmu yang tidak bisa diam,"
"Ayo lah Jono ganteng, eh kok Jono ah siapa kamu namanya?" tanya Jane sambil merentangkan tangannya. "Ah apa yang kamu lakukan ganteng?"
"Membuat kamu diam!"
"Ach ganteng, kenapa kamu–"
Jona keluar dari dalam mobil sambil merapikan pakaiannya setelah membuat Jane terdiam. Lalu Jona menghampiri sopir taksi yang tidak jauh dari taksi yang di parkirnya, lalu Jona menepuk punggung sopir taksi tersebut. "Pak, kita lanjutkan lagi perjalanannya,"
"Maksudnya apa pak?"
"Ah tidak ada, sudah lupakan," ujar sopir taksi tersebut dan berjalan tepat di belakang Jona yang berjalan terlebih dahulu. "Gede badan doang, tapi ah lemah," gumam sopir taksi tersebut sambil menatap Jona yang berpindah duduk di samping kursi pengemudi.
Sopir taksi yang baru masuk ke dalam mobil sekilas menatap kursi belakang saat jiwa keponya meronta. Dan menatap kursi belakang lagi takut yang dilihatnya salah. Lalu bergantian menatap Jona yang duduk sambil bersandar di kursi tempatnya duduk. "Tuan,"
__ADS_1
"Biarkan saja, biar dia tidak berisik,"
"Tapi tuan ini–"
"Pak lajukan saja mobilnya, dia akan baik-baik saja," ujar Jona memotong perkataan sopir taksi tersebut saat melihat Jane dengan kaki dan tangannya di Ikat menggunakan sweater dan tak lupa mulutnya di tutup menggunakan sapu tangan, yang masih terdengar suara rancau dari bibir Jane dengan mata yang mulai terpejam.
Sopir taksi tersebut menoleh ke arah Jona sebelum melajukan mobilnya. "Pikiranku sudah berfantasi liar, eh ternyata oh ternyata," gumam supir taksi tersebut sambil tersenyum dan tak lupa menggelengkan kepalanya.
*
*
*
Zain duduk di pinggiran tempat tidur saat baru saja bangun dari tidurnya dan menatap jam dinding di kamar tersebut yang menunjukkan pukul delapan pagi, lalu Zain menatap tempat tidur yang di dudukinya, dan mengingat kembali jika tempat tidur tersebut adalah tempat tidur di mana dirinya sering tidur menghabiskan malam dengan Jane. Saat Zain memutuskan sekarang tinggal di rumah bibi Berta setelah Albert di bawa ke kantor polisi. Berharap Jane pulang ke rumah.
"Jane kamu di mana? Aku sangat merindukan kamu," ucap Zain sambil meraup wajahnya karena dirinya sudah mencari keberadaan Jane, tapi belum juga menemukannya.
Zain yang sudah membersihkan diri, kini berada di dapur untuk memasak mi instan saat merasakan lapar, dan ingatannya kembali lagi di mana dirinya sering memasak di dapur tersebut dengan bibi Berta, dan Jane yang tidak bisa memasak hanya duduk di kursi meja makan, menunggu makanannya siap.
__ADS_1
Zain yang ingin menyantap mi instan untuk sarapan dirinya urungkan saat pintu rumah bibi Berta di ketuk dari depan. "Jangan-jangan Jane pulang," Zain beranjak dari duduknya dan dengan antusias segera berjalan menuju ke arah pintu.
Bersambung.............