
"Ah Jona wanita ini menampar pipiku," Jane merengek sambil menghentak hentakan kakinya di atas lantai dan menunjuk Bela tepat di hadapannya yang baru saja menampar pipi kanannya.
"Bela!" bentak Jona sambil menahan tangannya yang akan menampar pipi Jane kembali. "Jangan pernah menyentuhnya!" Jona melepas tangan Bela dengan kasar hingga Bela mundur beberapa langkah.
"Wow sejak kapan kamu berani membentak ku Jona? Apa setelah mengenal anak ingusan ini?"
"Setelah kita tidak memiliki hubungan apa pun lagi!"
"Bagus, aku tahu alasan kamu yang menuduhku bukan-bukan, karena anak ingusan ini?" tanya Bela sambil menunjuk ke arah Jane yang langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Anak ingusan aku?" tanya Jane sambil menunjuk dirinya sendiri, lalu memasukkan jari telunjuk nya ke lubang hidungnya sendiri kemudian mengeluarkan nya. "Tidak aku tidak ingusan, lihat saja nih," Jane mendekat ke arah Bela sambil menunjukkan jari telunjuk yang baru saja di masukan ke lubang hidung.
"Dasar tidak waras," Bela memundurkan langkahnya ketika Jane terus mendekat. "Wek,"
"Syukur," ucap Jane yanga baru saja memegang Bela menggunakan jari telunjuknya tepat di tangannya.
"Dasar kurang ajar!"
Bugh!
"Ach," Bela mengaduh kesakitan ketika tubuhnya membentur tembok saat Jane mendorong nya dengan kencang, sebelum Bela mendorong nya.
__ADS_1
Jane mendekat ke arah Bela yang masih mengaduh kesakitan, dan tangan Jane langsung meremas kedua gunung kembar Bela dengan kencang.
"Aku ingin tahu isinya apa kenapa biasa sebesar ini, kamu operasi di mana?
"Dasar kurang– ach," Bela tidak jadi meneruskan ucapannya di gantikan teriakan saat Bela dengan sengaja meremas gunung kembarnya dengan kencang.
"Ya ampun lobang kendor, ternyata bukan gunung tapi balon pantesan besar, mendingan punya aku kecil tapi orisinil," ujar Jane sambil melepas ke dua tangannya.
"Kurang ajar!"
"Baby hentikan!" ujar om-om yang sekarang menahan tubuh Bela saat akan menendang Jane.
"Jane apa yang kamu lakukan?" Jona memeluk tubuh Jane dari samping yang ingin bergoyang sambil memegangi ke dua gunung kembarnya.
"Eh kamu ganteng, sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Jane ketika menoleh ke arah Jona yang berada di sampingnya, membuat Jona langsung menautkan ke dua alisnya lalu mendekatkan wajahnya ke arah Jane.
"Jane kamu mabuk, kapan kamu minum?" tanya Jona setelah mencium aroma minuman keras dari nafas yang keluar dari mulut Jane.
Bukannya menjawab pertanyaan Jona, Jane malah memajukan bibirnya. "Ganteng kenapa tidak Jadi, ayo lah bibirku rasanya manis, eh bukan manis tapi pahit tadi aku baru saja minum kopi di sana," ujar Jane sambil menunjuk ke arah meja dan Jona langsung menatap meja yang terdapat minuman keras dengan kadar alkohol yang lumayan tinggi. "Ganteng apa yang kamu lakukan?" tanya Jane saat Jona menarik tangannya. "Urusan aku belum selesai dengan nya,"
"Jangan tunjuk-tunjuk," kesal Bela saat jari Jane menunjuk ke arah Bela.
__ADS_1
"Eh maaf salah," ujar Jane sambil tersenyum lalu beralih menunjuk om-om yang berada di samping Bela. "Om jadi kan, main tusuk menusuk?"
"Jane!" teriak Jona yang sekarang menarik tangan Jane ingin keluar dari ruangan tersebut sebelum Jane menghentikan langkahnya.
"Om calling ya di nomor kosong kosong kosong apa lagi lupa," ujar Jane sambil tersenyum dan tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saat dirinya mulai mabuk.
"Jane!" teriak Jona lagi dan menarik tangan Jane keluar dari ruangan tersebut.
"Ganteng kenapa main tarik aja katakan kamu mau apa ha?" tanya Jane yang sudah mulai sempoyongan. "Kamu juga mau main tusuk menusuk? Ayo kamu punya uang berapa?"
"Jane!" teriak Jona untuk kesekian kali yang langsung menggendong Jane di pundaknya tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Ganteng sabar dong, sudah tidak sabar amat, aku tidak bakal lari," ucap Jane yang mulai melantur tidak jelas. Namun tidak di hiraukan oleh Jona yang terus menggendong Jane keluar dari klub malam dan tidak menghiraukan banyaknya pasang mata yang menatapnya.
"Ach ganteng apa kamu ingin melakukannya di sini baiklah aku siap,"
"Ya ampun Jane!" bentak Jona saat keduanya sudah berada di dalam taksi yang sedari tadi menunggunya.
"Aku suka nih yang model begini galak-galak asoy," Jane tersenyum sambil menarik Jona yang duduk di sampingnya untuk mendekat.
Bersambung...................
__ADS_1