
Bukannya melepas tautan bibirnya, Jane malah memejamkan mata entah mengapa dirinya begitu menikmati setiap sesapan bibir Jona, yang sangat berbeda saat keduanya lakukan ketika berada di Paris untuk berakting, Jane yang benar-benar hilang kendali tanpa sadar naik ke pangkuan Jona dengan bibir yang masih saling bertautan, lalu melingkarkan kedua tangannya ke belakang leher Jona, dan sekarang Jane yang bergantian meluumaat bibir Jona, membuat gairah di tubuh Jona benar-benar tidak bisa di kontrol lagi, apa lagi saat adik kecilnya mulai menggeliat di bawah sana.
Jane yang sedari tadi memejamkan mata kini beralih membuka matanya dan melepas tautan bibirnya, lalu menautkan ke dua alisnya menatap wajah Jona, kemudian turun dari pangkuan Jona lalu duduk di sampingnya.
Plak!
"Awww Jane apa yang kamu lakukan?"
"Lagian nakal sekali, berdiri tidak tahu tempat dasar burung laknat!"
Plak!
Sekali lagi Jane memukul junior Jona, dan kali ini lebih kencang dari yang pertama, membuatnya Jona langsung mengerang kesakitan sambil memegangi juniornya, yang tadi sudah menegang sekarang menciut tak berbentuk lagi.
"Jane awas kamu jika milikku tidak berfungsi seperti sedia kala," ujar Jona sambil menahan sakit.
"Percuma berfungsi jika hanya untuk main arisan ha ha ha," sambung Jane sambil tertawa kencang.
"Awas kamu Jane!" Jona langsung menarik tubuh Jane dan memeluknya.
"Jona lepaskan! Kalau tidak aku pukul sekali lagi nih burung kamu, agar mati suri,"
__ADS_1
"Coba saja kalau berani," tantang Jona yang sekarang sudah memegang ke dua tangan Jane, membuat Jane terus mecoba melepas tangannya.
"Kalian berdua seperti anak kecil," sambung Tom yang sudah menghentikan mobil yang di kendarai nya.
"Aku memang masih bocil memang kenapa?" tanya Jane yang sekarang bisa melepas tangannya, lalu mendorong tubuh Jona untuk menjauh darinya.
"Apa kalian tidak ingin turun? Dan terus berkelahi?" tanya Tom untuk menghentikan keduanya yang tidak bisa diam di kursi belakang.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Jane dan langsung menghentikan aksinya saat ingin memukul Jona kembali, lalu mengedarkan pandangannya ke luar mobil yang sudah terparkir di depan rumah sederhana kemudian Jane beralih menatap Jona yang ada di sampingnya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku kere, jadi tidak mampu membeli rumah mewah," ucap Jona lalu turun dari mobil tapi tidak dengan Jane yang menekuk wajahnya dengan kesal, masa dirinya harus tinggal di rumah yang lebih kecil dari rumah mendiang bibi Berta yang di tempati nya, setelah dirinya kehilangan kemewahan dalam hidupnya. "Apa kamu masih ingin diam di situ?" tanya Jona lalu menarik tangan Jane untuk turun dari mobil.
"Lepaskan! Apa kamu tidak salah rumah ini kecil sekali Jona!"
"Bagaimana kamu tahu, kamu saja belum tinggal di rumah itu?" tunjuk Jane pada rumah bercat grey yang ada di hadapannya.
"Tentu saja tahu, karena ada kamu yang akan tinggal satu atap bersamaku,"
"Cih," sambung Jane sambil melirik tajam ke arah Jona dan tak lupa sebelah sudut bibitnya di tarik ke atas.
"Jangan begitu, aku gigit bibir kamu baru tahu rasa,"
__ADS_1
"Bodo amat," ujar Jane lalu berjalan menuju pintu rumah tersebut di mana Tom baru saja membuka pintu meninggalkan Jona yang sedang mengukir senyum menatap punggung Jane.
Jane diam terpaku tepat di depan pintu saat sudah memasuki rumah sederhana tersebut lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru isi rumah tersebut, rumah sederhana dari luar, namun megah di dalam, dengan tiga kamar, ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, dan ruang makan yang menyatu dengan dapur, tentu nya dengan interior megah. Jane mengukir senyum saat mendapati sudut rumah tersebut di sulap menjadi minimarket minimalis yang serba ada.
"Jane kamu masih waras?" tanya Jona yang baru masuk ke dalam rumah dan berdiri di samping Jane yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Tentu saja waras, ternyata benar kata pepatah jangan melihat sesuatu dari luarnya saja, seperti rumah ini,"
"Bagaimana menurutmu, kamu suka?"
"Suka sekali, terima kasih Jona," ucap Jane lalu menatap Jona yang ada di sampingnya, dan tak lupa senyum terus terukir dari ke dua sudut bibirnya.
"Hanya itu?"
"Tentu saja tidak," jawab Jane lalu naik ke punggung Jona. "Gendong ke kamar kakiku lelah,"
"Yakin,"
"Buruan jalan!"
"Oke jangan menyesal nanti," ujar Jona dan melangkah kan kaki menuju kamar Jane, namun baru beberapa langkah, Jona menghentikan langkahnya, saat pintu rumah di ketuk seseorang dari luar. "Tom, kamu bilang di sini aman," ucap Jona pada Tom yang baru saja keluar dari salah satu kamar.
__ADS_1
Bersambung.....................