
Ucapan dan juga tindakan tidak sesuai dengan apa yang di lakukan Zifa sekarang, karena dirinya begitu menikmati sentuhan demi sentuhan yang Zain lakukan, yang sekarang masih berada tepat di atas tubuhnya untuk mengungkungnya.
Zifa tidak di beri kesempatan untuk mengatakan sesuatu, karena saat dirinya akan mengucapkan apa yang akan dirinya katakan, bibirnya langsung di sambar dan di lummat oleh Zain yang entah mengapa malam hari ini terlihat begitu sangat agresif.
Padahal Zifa hanya ingin mengantar makan malam untuk Zain, karena Zain dari tadi siang setelah kejadian di kamar bersama Zifa, dia tidak keluar sama sekali dari kamar, begitu pun dengan Zifa yang masih benar-benar tidak bisa mengerti apa yang telah dirinya lakukan, meminta lebih hanya sekedar berciuman pada Zain, yang membuatnya benar benar malu.
Dan setelah dirinya bisa melupakan kejadian tadi siang, Zifa yang tidak mendapati Zain keluar kamar memberanikan diri ke kamar Zain untuk mengantar makan malam dan sekaligus memastikan Zain sudah baik-baik saja.
Namun saat dirinya yang sudah masuk ke dalam kamar dan menaruh makan malam yang di bawanya, Zifa begitu terkejut saat tangannya di tarik oleh Zain yang sedang terbaring di tempat tidur, dan langsung membawa nya ke dalam pelukannya, awalnya Zifa sempat memberontak tapi tidak untuk setelahnya, karena dirinya hanya pasrah dengan sentuhan yang Zain berikan.
Zifa yang juga menikmati apa yang di lakukan oleh Zain, sekarang beralih memeluk tubuh Zain, Saat Zain yang sudah puas dengan bibir Zifa, beralih menjilati leher Zifa sebelum memberikan tanpa kepemilikan, membuat hasrat di tubuh nya tidak bisa di kontrol.
Begitu pun dengan Zain yang entah mengapa tidak bisa mengontrol hasratnya seperti tadi siang dan ingin terus mengeksplor tubuh Zifa yang sekarang terlihat begitu gelisah mendapatkan sentuhan yang tidak pernah dirinya rasakan, apa lagi Zain sekarang membuka kancing baju tidur milik Zifa dan mencium gundukan kenyal, yang baru kali ini Zain lakukan.
Tentu saja burung miliknya di bawah sana sudah menegang dan ingin mencari sarangnya.
__ADS_1
"Emm ahhh Zain aku–" Zifa tidak jadi meneruskan ucapannya di gantikan dengan dessaahan saat Zain bagaikan anak bayi yang sedang kehausan menghisap dua choco chip bergantian yang ada di atas gunung kembarnya, yang membuat tangan Zifa menekan belakang leher Zain agar dia terus menghisap chico chip miliknya saat merasakan sesuatu yang nikmat di dalam tubuhnya.
Zain menegakkan kepalanya saat sudah puas dengan apa yang dirinya lakukan, senyum terukir dari ke dua sudut bibirnya dan mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Zifa yang sedang mengatur nafasnya, lalu membalas senyum Zain.
"Apa aku boleh melakukannya?" tanya Zain meminta persetujuan dari wanita yang ada di bawahnya, dan Zifa langsung menganggukkan kepalanya.
"Zain, ada apa?" tanya Zifa dan mengerutkan dahinya ketika tiba-tiba Zain menjatuhkan tubuhnya tepat di samping dirinya, tapi tidak mendapat jawaban dari Zain yang langsung meraup wajahnya dengan kasar, saat pikiran jernihnya menghapus pikiran kotornya di kepala yang sedari tadi menyelimuti nya.
"Maaf kan aku Zifa aku tidak bermaksud–"
"Untuk saat ini aku belum bisa,"
"Kenapa? Apa karena kamu tidak mencintaiku?" tanya Zifa yang sekarang memiringkan tubuhnya untuk menatap Zain.
"Bukan itu, aku juga memiliki rasa untukmu, tapi aku tidak ingin merusak citra dirimu di masyarakat," jelas Zain yang langsung membawa Zifa ke dalam pelukannya. "Aku akan melakukan itu jika kita sudah mengikat janji suci sehidup semati dan itu tidak lama lagi setelah aku memiliki pekerjaan,"
__ADS_1
Mendengar apa yang di katakan oleh Zain, Zifa begitu bahagia dan terharu lalu memeluk Zain balik. Lalu ke duanya saling melepas pelukannya saat mendengar pintu rumah di ketuk seseorang berkali kali.
Kemudian Zifa Beranjak dari tidurnya begitu pun dengan Zain.
"Aku yang akan membukanya, dan kamu tetap di sini," pinta Zain yang langsung turun dari tempat tidur.
"Tidak mau, kamu yang tetap di sini aku takut ini sangat berbahaya untukmu," Zifa menarik tangan Zain.
"Zifa aku pria, jika itu bahaya aku yang akan melindungi mu bukan kamu yang melindungi ku, meskipun aku tahu kamu penegak hukum," ujar Zain yang langsung berjalan menuju pintu.
"Aku ikut," sambung Zifa yang mengikuti Zain dari belakang.
Bersambung....................
Judul ini mengandung iklan ya gaes 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1