
Jona dan Zain yang baru menyadari jika sedang memeluk dokter yang baru saja memeriksa istri mereka langsung melepas pelukannya.
"Maaf dok, tadi refleks," ujar Jona namun tidak dengan Zain yang kembali menghampiri sang istri lalu memeluknya dengan penuh kebahagian.
"Tidak masalah peluk lagi juga boleh, sudah lama aku meriang," sambung dokter wanita tersebut sambil mengedipkan sebelah matanya dan tak lupa mengukir senyum untuk merayu Jona.
Melihat dokter yang ada di hadapannya Jona bergidik lalu menghampiri sang istri yang sedang menatapnya dengan tajam, dan menyingkirkan tubuh sang suami dari hadapannya agar dirinya bisa menatap dokter kandungan yang belum lama memeriksanya, dan dokter tersebut masih terus mengukir senyum menatap Jona meskipun Jona sudah menghindar.
"Dokter," panggil Jane, dan dokter tersebut bergantian menatap Jane.
"Iya Bu, ada yang bisa aku bantu,"
"Bu?" tanya Jane tidak suka. "Dokter pikir aku setua itu? Enak saja memanggil Bu. Kalau aku di panggil Bu, dokter di panggil apa nek, begitu?" tanya Jane lagi yang masih tidak suka dengan dokter yang sekarang mengukir senyum ke arah Jane. "Jangan senyum senyum. Dan aku ingatkan pada dokter jangan genit genit pada suamiku. Pakai bilang meriang segala, aku tahu apa meriang yang dokter katakan. Merindukan kasih sayang kan?"
"Kok tahu, anda luar biasa, boleh peluk suaminya lagi tidak?" tanya dokter tersebut untuk meledek Jane.
Membuat Jane langsung beranjak dari tidurnya dan mengepalkan ke dua telapak tangannya ke arah dokter yang masih berdiri di samping ranjang miliknya.
"Dokter tinggal pilih rumah sakit apa kuburan," ancam Jane dan menunjukkan satu persatu kepalan tangannya.
"Ya ampun mbak cantik, aku hanya sedang bercanda jangan di bawa serius. Oke," ucap dokter tersebut sambil mengukir senyum. "Oh ya sekali lagi selamat untuk kehamilannya,"
"Terima kasih dok," sambung Jona sambil memeluk bahu sang istri.
"Bapak boleh ikut aku untuk mengambil resep obat dan vitamin untuk di konsumsi istri bapak, dan setelahnya istri Bapak boleh pulang, karena istri Bapak kondisinya baik baik saja,"
__ADS_1
"Baik dok,"
"Sekarang ikut denganku,"
"Ets tunggu dulu," sambung Jane sambil menarik tangan Jona yang ingin mengikuti dokter kandungan yang ingin keluar dari ruang UGD. "Aku juga ikut,"
"Tapi sayang kamu harus–"
"Harus apa? Membiarkan para pelakor mendekat dan memberi kesempatan," sambung Jane memotong perkataan sang suami.
"Ya ampun sayang kenapa kamu jadi seperti ini. Meskipun banyak pelakor yang mendekat, aku tidak akan pernah tertarik. Karena hanya kamu yang ada di dalam hatiku,"
"Pret, sekarang iya bisa bicara begitu tapi nanti lain lagi,"
"Jangan bicara lagi, dan diam saja," ujar Jane yang berjalan terlebih dahulu mengikuti dokter kandungan, karena kondisinya sudah membaik di ikuti Jona dari belakang meninggalkan. Zain dan juga Zifa hanya menggelengkan kepalanya mendengar percakapan Jane dan juga Jona.
Zain mencium punggung tangan sang istri kemudian mengukir senyum menatap sang istri yang masih berada di ranjangnya.
"Terima kasih sayang sebentar lagi aku akan menjadi papa muda," ucap Zain penuh kebahagiaan. "Aku akan menghubungi mama Linda dan memberi tahu kabar gembira ini,"
"Sayang nanti saja memberi tahunya," larang Zifa lalu beranjak dari tidurnya.
"Memang kenapa sayang?"
"Aku ingin memberi kejutan untuk mama,"
__ADS_1
"Baiklah sayang. Oh iya aku mengambil resep dulu apa kamu ingin ikut?"
"Untuk apa ikut, aku tunggu di sini saja,"
"Apa kamu tidak akan cemburu jika dokter muda tadi menggodaku,"
"Tidak, karena aku yakin kamu tidak akan tergoda, dan aku percaya jika cintamu hanya untuk ku seorang," sambung Zifa sambil mengukir senyum.
"Oh terima kasih sayang," ucap Zain yang langsung membawa sang istri ke dalam pelukannya, lalu mencium bibir nya.
*
*
*
Dua hari kemudian Jane dan juga Jona yang sudah kembali ke kota S duduk bersebelahan di sofa ruang tamu yang ada di rumahnya, berhadapan dengan Tom yang duduk di hadapan ke duanya dengan memasang wajah serius.
Ketika Tom benar benar mengunjungi sang sepupu seperti pesan yang di kirim ke Jona beberapa waktu lalu.
"Apa kamu sudah gila!" bentak Jona pada Tom sambil menggenggam tangan sang istri yang sekarang memeluknya dengan erat dari samping. Setelah mendengar apa yang di katakan oleh Tom.
"Ini demi keamanan kalian,"
Bersambung....................
__ADS_1