
Mendengar perkataan Jona, Jane mengfokuskan pandangannya ke arah Jona lalu menatap nya intens. "Kamu itu terlalu tua untukku, jangan macam-macam, aku yakin kamu juga sudah memiliki istri,"
"Tua kamu bilang, aku baru berumur tiga puluh lima tahun, aku masih muda Jane,"
"Muda matamu, muda itu seperti aku dua puluh tahun, dasar!"
"Buktinya aku belum memiliki istri, berarti masih muda,"
"Tapi aku yakin kamu telah memiliki kekasih,"
"Kalau itu betul tapi– Jona tidak jadi meneruskan perkataannya beralih meminum susu segar di gelas yang berada di samping kanan tangannya.
" Tapi apa? Jangan bilang sudah bosan, begini ini tipe pria tidak setia baru berpacaran sudah bilang bosan, bagaimana jika sudah miliki istri yang akan hidup selamanya, makanya itu aku benci pria yang keluar masuk lubang, padahal sudah memiliki lubang sendiri di rumah, apa yang mereka cari aku juga bingung, kan bentuknya sama iya kan?"
"Tapi rasanya berbeda," jawab Jona dengan enteng nya membuat Jane langsung melempar sendok yang berada di tangannya ke arah Jona dan tepat mengenai tangannya.
"Jangan bilang kamu suka celap celup,"
"Tidak, aku tipe laki-laki setia,"
"Pret tadi kamu bilang apa? Katanya rasanya berbeda,"
"Itu kan menurut orang-orang, sudahlah jangan di bahas, sekarang cepat jawab pertanyaan aku, kamu mau tidak jadi istriku?"
Dan sekarang Jane beralih melempar garpu yang berada di tangan kirinya ke arah Jona, yang langsung di tangkap olehnya.
__ADS_1
"Aku bilang tidak mau, kamu itu terlalu tua untukku, lagian kamu sudah memiliki kekasih,"
"Kalau aku tidak memiliki kekasih, kamu mau?"
"Tidak! Menikah itu untuk seumur hidup bukan main-main, kamu saja baru mengenalku begitupun aku, lebih baik kamu nikahi kekasih kamu, aku yakin kamu sering sodok menyodok dengannya iya kan?"
"Tapi orang tua kita sudah mengenal lama, mau ya?"
"Jona! Sudah cukup sekali tidak tetap tidak. Sekarang aku ingin mengunjungi bibi kalau kamu tidak ingin mengantarku aku bisa pergi sendiri,"
"Pergi saja sendiri,"
"Ih kamu menyebalkan sekali,"
"Iya aku akan mengantarmu, tapi sebelum itu ganti pakaian kamu dulu, aku tidak ingin ada orang lain melihatmu berpakaian seperti ini,"
"Calon suamimu,"
"Jangan berharap, dasar menyebalkan," ujar Jane lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jona menuju kamar yang dirinya tempati.
Setelah kepergian Jane ke kamarnya Jona memanggil Tom untuk mendekat ke ruang makan di mana dirinya berada.
"Duduklah Tom,"
Dan Tom pun langsung duduk di kursi bekas Jane duduk dan berhadapan dengan Jona.
__ADS_1
"Katakan apa yang ingin bos ketahui,"
"Kenapa Bela tidak menghubungi ku, dan aku menghubungi nya ponsel nya selalu di matikan,"
"Apa aku harus memberi tahu bos?"
"Tom!"
"Baik bos, sepertinya di sedang ada pekerjaan baru,"
"Hanya itu?" tanya Jona penasaran saat melihat wajah yang berbeda dari Tom, dan Tom pun langsung mengangguk. "Terus kenapa kamu membelikan pakaian yang sangat minim untuk Jane?" tanya Jona lagi pasalnya Tom yang membelikan semua pakaian Jane atas perintah Jona.
"Kan bos sendiri yang menyuruhku untuk memberikan majalah fashion pada nya, dan membelikan apa yang dia inginkan, bos juga tidak masalah setiap Bela mengenakan pakaian lebih terbuka dari Jane iya kan?"
"Tapi mereka lain Tom,"
"Kalau begitu bos tahu apa yang sedang Bela lakukan sekarang,"
Mendengar ucapan Tom, Jona langsung meng fokuskan tatapannya ke arah Tom. "Apa maksudmu? Apa kamu mengira Bela belum berubah?"
Bukannya menjawab pertanyaan Jona, Tom langsung beranjak dari duduk nya saat Jane yang baru turun dari kamarnya kembali menuju ruang makan.
"Jona ada apa denganmu?" tanya Jane saat sudah berada di ruang makan, dan melihat ekspresi wajah Jona yang berbeda. "Aku sudah mengganti bajuku, sekarang ayo kita pergi,"
Jane menarik tangan Jona untuk beranjak dari duduknya dan berjalan di belakang Jane yang terus menarik tangannya, namun tatapannya terus menatap ke arah Tom mengisyaratkan agar Tom menjawab pertanyaannya nanti.
__ADS_1
"Batu beton, berat sekali tubuhmu," ujar Jane dan terus menarik tangan Jona keluar dari rumah.
Bersambung...................