Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Rumit


__ADS_3

"Lagi, terus keluarkan semua hingga tidak tersisa, biar ah mantap, terus uh nikmatnya. Kapan lagi bisa begini iya kan Jona,"


"Jane,"


"Terus lagi ayo. Ah cihuy kapan lagi bisa kaya mendadak iya kan?"


"Nih sekalian dompetnya juga!" ucap kesal Jona lalu menaruh dompet miliknya yang baru saja di keluarkan semua isinya di atas tumpukan uang yang berada di tangan Jane, yang meminta imbalan atas apa yang telah dirinya katakan pada mama Yessi setelah ke duanya sudah sampai di kamar hotel tempatnya menginap.


"Jangan marah dong, harusnya kamu berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkan kamu dari lobang kendor dan juga wanita tua tadi. Aku heran dengan kamu Jona, kenapa kamu bisa bisanya menjalin kasih dengan siapa itu mamanya lobang kendor?"


"Bela,"


"Cie masih ingat saja namanya, cie cie," ledek Jane dan Jona pun langsung meng fokuskan menatap Jane tidak suka.


"Diam kamu Jane!" Jona kemudian langsung menjatuhkan tumbuhnya di atas kamar hotel, lalu memijat keningnya.


Namun tidak dengan Jane yang memasukkan kembali uang yang berada di tangannya ke dompet Jona yang juga berada di tangannya, kemudian melemparnya ke atas tubuh Jona. "Nih aku kembalikan uang dan juga dompet kamu, aku tahu kamu sekarang kere. Tapi ada syaratnya,"


"Tidak usah Jane ambil saja, jika kamu mengembalikan harus ada syaratnya, kamu ini benar benar tidak bisa membuat hidupku tenang sedikit,"


"Kenapa kamu berkata seperti itu," sambung Jane yang sekarang menatap Jona dengan wajah yang di tekuk. "Kamu sendiri yang bilang, jika kamu akan menjagaku dan melindungi ku, tapi kenapa kamu berkata seperti itu padaku, kamu melukai hatiku," ucap Jane yang sekarang tiba-tiba menangis dan menuju sofa yang ada di dalam kamar hotel tersebut.

__ADS_1


Hembusan nafas kasar keluar bibir Jona yang langsung beranjak dari tidurnya. "Memang wanita itu makhluk paling rumit di dunia ini, tadi minta uang, sudah di kasih kemudian di kembalikan, tapi setelahnya minta syarat, tidak di turuti ngambek. Ya Tuhan bisa tidak otak wanita di buat minimalis, dan tidak ribet,"


"Aku tidak bolot, aku mendengar apa yang kamu katakan," sambung Jane di sela isak tangisnya.


Jona menggelengkan kepalanya dan turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa di mana Jane berada.


"Kenapa sih harus menangis? Sekarang katakan syarat apa?" tanya Jona yang sekarang duduk di samping Jane.


Mendengar pertanyaan Jona, Jane langsung menghentikan tangisnya lalu menghapus air matanya, dan menoleh ke sebelah kiri di mana Jona duduk. "Tidak jadi, aku tahu kamu terpaksa mengatakan itu,"


"Ya ampun salah lagi. Ya sudah kalau tidak mau," Jona beranjak dari duduknya.


"Jona!"


"Kamu itu jadi pria tidak peka ya, harusnya kamu membujuk ku, dan minta maaf padaku,'


" Aku sudah membujuk mu, dan untuk apa aku minta maaf? Kamu ini aneh Jane,"


"Jona!" teriak Jane menghentikan langkah Jona saat akan meninggalkan Jane.


"Apa lagi?"

__ADS_1


"Aku benci padamu!" Jane yang sudah beranjak dari dari duduknya langsung menuju tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kasar. Dan Jona hanya menggelengkan kepalanya dan mendekat ke arah Jane.


"Iya Jane aku minta maaf,"


"Sudah terlambat, sekarang pijitin badanku, dan jangan banyak alasan,"


"Iya," ucap singkat Jona yang langsung naik ke atas tempat tidur. "Dari sebelah mana dulu Jane?"


"Punggung," jawab Jane yang sudah tidur dengan tengkurap.


Dan tanpa bertanya lagi Jona langsung memijat punggung Jane.


"Nah begitu jadi pria tuh harus peka pada apa yang di inginkan wanita, jangan membuatnya sedih,"


"Iya," sambung Jona tidak ingin lagi berdebat dengan Jane yang tidak akan ada habisnya.


"Padahal kan tadi aku hanya ingin memintamu untuk membelikan coklat,"


"Apa coklat yang tadi pagi aku belikan sudah habis?" tanya Jona karena tadi pagi saat dirinya membelikan roti tawar untuk Jane, Jona juga membelikan beberapa coklat, tahu jika wanita yang sedang mengalami datang bulan mood nya tidak baik, dan dengan memakan coklat akan memperbaiki mood nya, meskipun Jona tidak tahu itu benar atau salah.


Jane menepuk jidatnya lalu membalik tubuhnya. "Oh iya aku lupa," dan tak lupa Jane nyengir kuda memperlihatkan giginya yang rapi. "Sekarang ambilkan untukku," perintah Jane namun tidak di hiraukan oleh Jona yang langsung mengambil ponsel miliknya yang ada di kantong celana.

__ADS_1


"Apa!" Jona menautkan ke dua alisnya saat sudah mengangkat sambungan ponselnya.


Bersambung..........................


__ADS_2