
Jona membuka matanya dan satu tangannya meraba tempat tidur di mana dirinya baru saja bangun dari tidurnya, saat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul enam pagi.
Jona yang mendapati sang istri sudah tidak berada di samping nya, segera beranjak dari tidurnya sambil menguap, dan tak lupa merentangkan tangannya untuk mengulet.
Senyum terukir dari ke dua sudut bibirnya, saat dirinya tahu persis di mana sekarang istrinya berada, kemudian Jona turun dari tempat tidur dan menyambar pakaian yang tercecer di lantai, mengingat lagi semalam tidak ada lelahnya melayani sang istri yang tidak ingin menyudahi aktifitas malamnya.
"Sayang," panggil Jona saat sudah keluar dari dalam kamar, namun tidak mendapat jawaban dari Jane.
Jona yang tahu persis kebiasaan sang istri akhir akhir ini, melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Sayang kenapa kamu tidak menjawab saat aku panggil," ujar Jona dengan manja ketika sudah berada di dapur menghampiri sang istri yang sedang memasak.
"Kamu tidak lihat aku sedang sibuk, lagian juga aku tidak akan pergi kemana pun dan tetap berada di rumah ini, jangan manja jadi orang,"
Jona hanya tersenyum mendengar ucapan sang istri, lalu memeluknya dari belakang.
"Sayang ini kan hari minggu, aku sudah mengatakan padamu, hari ini kamu tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun termasuk memasak," ujar Jona yang akhir akhir ini sang istri begitu rajin mengerjakan pekerjaan rumah tangga, morning sickness yang di khawatirkan nya juga tidak terjadi pada Jane.
"Memangnya kenapa? Apa masakan aku tidak enak?" tanya Jane sambil mengaduk sup yang sedang di masaknya.
"Enak kok, masakan kamu tambah hari tambah enak," sambung Jona yang benar benar mengakui masakan Jane yang sekarang jauh lebih baik dari pada dulu meskipun belum sempurna.
"Kalau begitu kenapa kamu melarang aku untuk memasak?" tanya Jane sambil mematikan kompor yang ada di hadapannya lalu melepas ke dua tangan suaminya yang masih memeluknya, kemudian Jane membalik tubuhnya untuk menatap sang suami.
Jona mengangkat satu tangannya lalu memegang dagu sang istri.
__ADS_1
"Hari ini hari minggu sayang, jadi aku yang akan melayani mu,"
"Tidak perlu, memasak adalah tugas istri. Dan aku akan menjalani tugasku dengan baik,"
"Sayang aku tidak ingin kamu kelelahan, ingat ada yang perlu di jaga, yaitu anak kita sayang," sambung Jona yang sekarang beralih mengelus perut sang istri dengan lembut.
"Anak kita baik baik saja kamu tenang saja sayang," ujar Jane sambil mengukir senyum.
"Ah sayang akhir akhir ini aku merindukan sikap kekanak kanakan kamu itu," ucap Jona yang mendapati sang istri tidak lagi kekanak kanakan seperti dulu.
"Sayang aku ingin meninggalkan sifat itu, dan aku akan menjadi Jane yang mandiri,"
"Mandi sendiri?" tanya Jona membuat Jane langsung mencubit lengan sang suami. "Ah sayang sakit,"
"Siapa bilang aku akan meninggalkan kamu? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sayang, jangan bicara yang tidak tidak,"
"Tapi kamu tidak tahu takdir Tuhan, siapa tahu kamu di panggil duluan untuk menghadapnya, kamu kan lebih tua dari aku. Dan saat kamu pergi meninggalkan aku untuk selamanya aku sudah mempersiapkan diri,"
"Jangan bicara yang tidak tidak," sambung Jona lalu membawa sang istri ke dalam pelukannya. "Kenapa kamu berpikir seperti itu sayang?"
"Karena kita tidak akan hidup selamanya di dunia ini sayang, dan pasti kita akan menghadap Tuhan, entah itu aku duluan atau kamu,"
"Dan itu tidak akan pernah terjadi, karena kita akan selalu bersama, dan aku akan selalu berdoa pada Tuhan, kita akan selalu bersama melewati hari hingga tua nanti, dan menghadap Tuhan juga bersama sama,"
"Mana bisa begitu," sambung Jane dan melepas pelukan sang suami.
__ADS_1
"Tentu saja bisa, karena kamu jantungku sayang," ucap Jona lalu menempelkan telapak tangan kirinya di dada kiri sang istri. "Aku akan terus hidup seiringan dengan detak jantungmu, dan aku akan mati jika jantungmu tidak berdetak lagi sayang,"
"Apa kamu sedang menggombal?" tanya Jane tapi tidak di hiraukan oleh Jona yang menarik pinggang sang istri hingga menempel di tubuhnya.
"Tentu saja tidak, karena itu kenyataan sayang, karena kita akan sehidup semati bersama sama," ucap Jona lalu menarik belakang leher sang istri untuk mendekat ke wajahnya. "Terima kasih sudah hadir di hidupku sayang,"
Namun Jane tidak menanggapi perkataan sang suami, karena dirinya langsung mencium bibir sang suami, saat dirinya tidak memiliki ungkapan untuk cintanya yang begitu besar untuk pria yang sekarang menjadi suaminya.
Jane melepas bibirnya setelah beberapa saat mencium bibir sang suami, kemudian membelai wajah sang suami sambil mengukir senyum.
"I love you sayang," ucap Jane.
"I love you to," balas Jona lalu menarik belakang kepala sang istri untuk mencium bibirnya.
TAMAT
Akhirnya tamat juga, lega sekali aku, dan untuk kalian terima kasih karena sudah mengikuti novel ini hingga tamat.
Maaf jika masih banyak typo bertebaran, dan maaf juga tidak bisa balas komen kalian satu persatu selama ini, soalnya bingung mau balas apa, intinya terima kasih untuk kalian semua, I love you.
Dan seperti biasa aku akan bagi bagi giveaway untuk beberapa orang beruntung, dan pemenang giveaway akan aku umumkan di novel baru aku yang berjudul SUAMI MASA DEPAN yang sebentar lagi akan launcing menunggu arahan editor, karena novel ini ikut lomba mengubah takdir.
Dan ini penampakan covernya yang sayang
__ADS_1