Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Kamu Hanya Milikku


__ADS_3

"Jona!" teriak Jane saat Jona tiba-tiba mengganti saluran televisi.


"Apa sih Jane?"


"Yang tadi saja. Aku tidak salah itu benar-benar Zain,"


"Mata kamu rabun Jane," sambung Jona, padahal dirinya juga tahu persis itu adalah Zain. Namun entah mengapa saat Jane menyebut namanya membuat Jona tidak menyukainya.


Jane mendekati Jona yang berada di ujung ranjangnya, tanpa memikirkan jika salah satu tangannya terpasang selang infus, kemudian Jane menyambar remote televisi yang ada di tangan Jona dan memindah lagi ke saluran semula.


"Ya ampun Zain, akhirnya aku bisa melihat kamu meskipun hanya di layar televisi, dan ternyata sekarang kamu sudah jadi artis," ucap Jane sambil mengukir senyum. "Aku sangat merindukan kamu Zain,"


"Jane!"


"Apa sih?" tanya Jane kesal saat Jona memanggil namanya dengan kencang.


Jona tidak menghiraukan Jane, karena dirinya dengan terburu buru keluar dari kamar Jane, tanpa mengatakan sesuatu.


"Ada apa dengannya dasar menyebalkan," ucap Jane dan meng fokuskan kembali tatapannya ke layar televisi yang ada di hadapannya, di mana sekarang Zain sedang di wawancara. "Ya ampun Zain kamu makin tampan saja, dan aku tambah merindukan kamu dan–"


Jane tidak jadi meneruskan ucapannya, saat merasakan sakit di tangan yang terpasang selang infus, dan Jane menatap tangannya di mana selang infus tidak berjalan karena tertarik saat dirinya berpindah posisi dan darah mulai naik ke selang infus.


"Jona! Tolong!" teriak Jane bertepatan dengan pintu ruang perawatannya di buka dari luar olah Jona dan di ikuti salah satu perawatan dari belakang, yang kemudian menghampiri Jane, saat Jona tadi keluar dari ruang perawatan Jane untuk memanggil perawatan ketika selang infus yah berada di tangan Jane tidaklah benar.


Jona yang sadari tadi terus memperhatikan perawatan yang melepas jarum infus dan juga mengganti dengan yang baru dan di pasang di sisi tangan Jane yang lain, Jona kini beralih duduk di pinggiran ranjang perawatan Jane saat perawat sudah keluar dari ruangannya tersebut.

__ADS_1


"Jona,"


"Jangan katakan apa pun, sekarang istirahatlah suhu tubuhmu belum juga turun Jane," ujar Jona dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Jane.


"Aku ingin kembali ke kita J, aku ingin menemui Zain. Aku sangat merindukannya,"


"Aku tidak mengijinkannya,"


"Kenapa? Jangan bilang lagi kita masih dalam bahaya,"


"Itu salah satunya," sambung Jona sambil menatap intens wajah sang istri. "Kamu tahu sekarang aku suamimu, jadi kamu harus menuruti perintah ku,"


"Kamu tidak asik, Zain itu sahabatku, sebelum aku mengenal kamu aku lebih dulu mengenal Zain,"


"Aku bilang tidak tetap tidak, mulai sekarang kamu tidak boleh dekat dengan pria mana pun, termasuk Zain meskipun dia sahabatmu!" tegas Jona lalu beranjak dari duduknya.


Jona menghentikan langkahnya saat ingin meninggalkan Jane, lalu membalik tubuhnya dan mendekati Jane kembali.


"Iya aku cemburu, karena kamu hanya milikku sampai kapan pun kamu tetap milikku Jane,"


"Eh jangan mimpi kita menikah ju–"


Jane tidak jadi meneruskan ucapannya saat Jona mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya di bibir Jane untuk menghentikan ucapannya.


Jona bukan hanya menempelkan bibirnya karena sekarang dengan perlahan menyesapnya dan melummmatnya saat tidak ada perlawanan dari Jane yang malah memejamkan matanya dan menikmati permainan bibir Jona.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Jona bermain di bibir Jane, sekarang melepas ciumannya lalu menegakkan tubuhnya.


"Kamu istirahat lah, aku ingin menghubungi tempatku bekerja, karena aku belum meminta izin cuti," ucap Jona yang langsung meninggalkan ruang perawatan Jane dan meninggalkan nya.


Setelah kepergian Jona dari ruangannya, Jane memegangi dadanya dengan satu tangannya saat detak jantungnya berdetak tidak seirama. Dan satu tangannya yang lain mengusap bibirnya yang baru saja mendapat ciuman dari Jona, dan senyum terukir dari ke dua bibirnya.


*


*


*


Seperti biasa Zifa pulang kerja selalu tepat waktu. Apa lagi hari ini dirinya sangat bahagia saat Zain ternyata mendapat peran utama untuk film yang akan di bintanginya.


Zifa berjalan dengan terburu buru sambil membawa kantong belanja yang berisi bahan makanan yang dirinya beli di super market sebelum sampai apartemen. Ketika hari ini dirinya memutuskan untuk memasak makanan dan merayakan pencapaian Zain.


Jari lentik Zifa menekan pintu pass kode saat sudah berada di depan pintu unit apartemen nya.


"Aku harus selesai memasak sebelum Zain kembali," ujar Zifa karena Zain memberi tahu dirinya akan pulang telat karena sedang rapat dengan rumah produksi yang menaunginya sekarang. Kemudian Zifa membuka pintu dan masuk ke dalam.


Dor!


Dor!


Bersambung...............

__ADS_1


Kita nyanyi meletus balon hijau dor 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2