
Baru juga papa Bagas ingin menempelkan ponsel miliknya di telinga, namun ponsel tersebut langsung diraih oleh seseorang yang membuatnya begitu terkejut.
"Zifa apa yang–
Prak!
Belum juga papa Bagas meneruskan ucapannya, dirinya di kejutkan saat ponsel miliknya di banting oleh sang putri.
"Zifa!" teriak papa Bagas dan satu tangannya reflek menampar pipi sang putri.
"Silakan tampar lagi," tantang Zifa dan menyodorkan pipi sebelahan yang belum terkena tamparan.
"Zifa!" Papa Bagas mengepalkan ke dua tangannya untuk meredam emosi.
"Aku tahu papa pasti akan menghubungi Albert, dan memberi tahu keberadaan Jane dan juga Jona padanya bukan? Tapi jangan harap papa bisa melakukan itu selagi masih ada aku bersama mereka. Sekarang pergilah dari apartemen aku. Jangan sampai aku khilaf dan melaporkan papa ke pihak berwajib, karena papa sudah melindungi para penjahat di belakang papa!" tegas Zifa lalu membalik tubuhnya ingin masuk ke dalam, sebelum langkah nya di hentikan oleh papa Bagas yang memanggil namanya.
"Papa melakukan ini untuk melindungi kamu dari Albert Zifa,"
Zifa yang tadi menghentikan langkahnya sekarang membalik tubuhnya lalu menatap papa Bagas sambil menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya.
"Melindungi? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Zifa tak lupa melipat ke dua tangannya. "Jika papa ingin melindungi, harusnya papa menjebloskan Albert ke dalam penjara, gampang bukan? Bukan malah mengorbankan nyawa orang lain demi keselamatan keluarganya sendiri. Itu namanya pengecut!" ucap Zifa lalu membalik tubuhnya dan meninggalkan papa Bagas yang hanya diam terpaku di tempatnya.
Zifa yang kembali masuk ke dalam unit apartemennya, setelah tadi mengikuti papa Bagas karena merasa curiga, langsung menghentikan langkahnya saat di depan pintu ada sang suami.
"Sayang kamu mengagetkan aku saja," ucap Zifa sambil mengukir senyum dan tak lupa mengelus dadanya sendiri. Dan Zifa kembali terkejut saat sang suami membawa ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maaf karena kamu masih menjadi incaran papaku," ujar Zain yang terus memeluk tubuh sang istri dengan erat.
"Sayang ini pekerjaanku jadi kamu tenang saja tidak akan terjadi sesuatu padaku kamu tenang saja,"
Mendengar ucapan sang istri, Zain melepas pelukannya dan beralih mengelus pipi sang istri yang baru saja mendapat tamparan.
"Apa sakit sayang?" tanya Zain yang tadi sempat melihat sang istri di tampar oleh papa mertuanya dan dengan bodohnya Zain tidak menolongnya.
"Tentu saja tidak, ini tidak seberapa," jawab Zifa sambil tersenyum agar sang suami tidak kuatir.
"Bagaimana jika kamu berhenti dari pekerjaan kamu, aku bisa mencukupi semua kebutuhan kamu sayang,"
"Zain suamiku sayang, pekerjaan aku bukan masalah materi tapi ke adilan, dan aku sudah pernah mengatakan padamu jika aku akan menegakkan ke adilan di negara kita ini, dan itu artinya aku tidak akan keluar dari pekerjaanku," sambung Zifa sambil mengukir senyum.
"Tapi–"
"Bagaimana aku tidak kuatir–"
"Ssttt jangan katakan apa pun lagi," Zifa menaruh jari telunjuknya di bibir Zain untuk menghentikan ucapannya. "Aku merasa tidak enak, karena hampir saja papa memberi tahu keberadaan Jane dan juga Jona pada Albert,"
"Tapi untungnya tidak jadi,"
"Apa kamu mendengar semua apa yang aku katakan dengan papa?" tanya Zifa penasaran.
"Tentu sayang, tapi aku tidak suka jika kamu melawan papa Bagas seperti tadi. Bagaimana pun dia adalah papa kamu sayang, terlepas dari apa yang sudah di lakukan nya,"
__ADS_1
"Zain suamiku sayang jangan merusak selera makan ku, sekarang kita kembali ke ruang makan," sambung Zifa untuk mengalihkan pembicaraannya tidak ingin lagi membahas sang papa. Lalu memeluk lengan sang suami dan menariknya ke ruang makan.
*
*
*
Dua hari kemudian Albert yang sudah sampai di Paris dan sedang duduk di kursi kebesarannya, saat sudah berada di markasnya yang berada di Paris, mendorong meja yang ada di hadapannya hingga terbalik.
"Sial!" umpat Albert kesal dan beranjak dari duduknya saat anak buahnya mengatakan jika Jane dan juga Jona yang di burunya tidak berada di Paris. "Tidak mungkin dia tidak di sini. Bisnis Jona yang di sini sudah berjalan seperti semula. Aku yakin dia ada di sini, aku tidak mau tahu, cari dia sampai ketemu!"
"Tapi bos, yang sekarang menjalani bisnisnya Tom. Dan anak buah kita semalam menyerang markasnya, tapi–"
"Tapi apa?" tanya Albert penasaran pasalnya anak buahnya tidak jadi meneruskan ucapannya.
"Anak buah kita hanya beberapa yang kembali," jelas anak buah Albert sambil menundukkan kepalanya.
"Apa!"
Dor!
Dor!
Dor!
__ADS_1
Bersambung.....................