Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Maafkan Aku


__ADS_3

Jane mengucek ke dua matanya untuk memastikan apa yang di lihatnya benarlah sang suami.


Dan tidak hanya itu Jane juga menepuk ke dua pipinya untuk memastikan dirinya sedang tidak bermimpi, melihat sang suami yang sekarang melangkah kan kakinya menuju ranjang di mana dirinya berada.


Jane melepas jarum infus yang berada di tangannya, rasa sakit dan darah yang keluar dari lengannya karena mencabut jarum infus tidak sesuai aturan medis, tidak Jane rasakan lagi.


"Sayang," ucap Jane lalu turun dari ranjang perawatannya dan langsung memeluk sang suami yang sudah mendekatinya.


Jane memeluk sang suami dengan erat, dan menangis dengan kencang, tangis kebahagiaan karena sang suami sudah kembali padanya.


"Sayang hentikan tangisanmu, apa yang kamu tangisi sayang," sambungan Jona dan ingin melepas pelukan sang istri, namun Jane enggan melepas pelukannya.


Jona membiarkan sang istri terus menangis di dalam pelukannya, dan ke dua tangannya terus mengelus punggung sang istri.


Setelah puas menangis di dalam pelukan sang suami, Jane melepas pelukannya membuat Jona langsung menghapus sisa sisa air mata yang masih ada di pipi sang istri.


"Sayang ada apa kamu menangis?"


Namun Jane tidak menjawab pertanyaan dari sang suami, yang malah membelai wajah suaminya.

__ADS_1


"Sayang ini benar kamu kan?"


"Tentu, siapa lagi. Apa kamu tidak merindukan aku sayang?"


"Tidak. Sekarang aku benci dirimu, kenapa kamu membuat aku terpuruk seperti ini?" tanya Jane lalu menurunkan ke dua tangannya yang masih memegangi wajah sang suami kemudian melipat ke dua tangannya.


"Maaf sayang apa kamu marah?"


"Tentu aku marah. Kenapa kamu bertanya seperti itu. Apa kamu senang setelah membuat aku bersedih mendengar berita itu,"


Jona tersenyum setelah mendengar perkataan sang istri, lalu memegang ke dua bahunya agar dirinya bisa menatap wajah sang istri.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Jane sambil memicingkan matanya menatap sang suami yang mengatakan perkataan yang tidak seharusnya.


Namun Jona tidak menjawab pertanyaan sang istri, dan sekarang berjongkok di hadapan sang istri lalu mengelus perutnya dan terakhir mencium perut Jane yang masih rata sebelum kembali berdiri tegak berhadapan dengan sang istri.


"Maaf sayang, aku harus mengatakan apa yang akan aku katakan padamu," ujar Jona sambil tersenyum ke arah sang istri. "Maafkan aku harus pergi dan meninggalkan kalian, jagalah anak kita meskipun aku tidak berada di sampingmu lagi sayang, besarkan anak kita penuh dengan kasih sayang, katakan padanya jika dia besar nanti, aku juga sangat menyayanginya,"


"Apa yang kamu katakan?" tanya Jane tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh sang suami.

__ADS_1


Namun tidak mendapat jawaban dari Jona, yang malah mencium sekilas bibir sang istri lalu mengukir senyum. "Maaf sayang aku harus pergi sekarang," ucap Jona lalu membalik tubuhnya dan berjalan menuju pintu meninggalkan sang istri.


"Jona!" teriak Jane untuk menghentikan langkah nya namun Jona tidak menghiraukan nya. "Jona!"


"Jane, bangunlah. Jane," ujar Zifa yang terbangun dari tidurnya saat mendengar teriakan Jane. Dan terus membangunkan Jane yang terus memanggil sang suami. "Jane,"


Jane membuka matanya saat mendengar Zifa memanggilnya lalu menatap jam yang berada di dalam ruang perawatannya, yang menunjukan pukul lima pagi. Kemudian Jane meraup wajahnya dan menangis dengan sesegukkan setelah beranjak dari tidurnya.


"Jane apa kamu mimpi buruk?" tanya Zifa, namun Jane tidak menjawab pertanyaan Zifa karena masih terus menangis. Membuat Zifa langsung membawa Jane ke dalam pelukannya. "Tenangkan dirimu Jane, mimpi hanya bunga tidur," ucap Zifa untuk menenangkan Jane.


"Aku bertemu dengan suamiku dan dia–" ucap Jane di sela sela tangisnya dan tidak jadi meneruskan ucapannya, saat lidahnya terasa kaku untuk mengatakan apa yang suaminya katakan di dalam mimpi.


"Sudah jangan menangis, kamu sendiri yang mengatakan tidak akan menangis lagi, kenapa sekarang kamu menangis?"


"Tapi aku–" Jane tidak jadi meneruskan ucapannya karena kesedihan yang sudah di buang jauh kini datang kembali membuat sesak di dadanya.


"Jangan cengeng Jane, sebentar lagi kamu akan memiliki anak,"


Bersambung....................

__ADS_1


__ADS_2