Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Menyaksikan Kematian Anak-anaknya


__ADS_3

"Betul bos tapi–"


Albert yang tadi menyunggingkan senyum sinis kini di gantikan dengan tatapan tajam ke arah anak buahnya yang tidak jadi menerus ucapannya.


"Apa aku membayar kamu dengan kata tapi?!" tanya Albert dengan kesel, dan anak buah yang ada di hadapannya langsung menundukkan kepala.


"Maaf bos, tapi kita tidak tahu dengan persis keberadaan mereka,"


"Tidak tahu? Apa aku mempekerjakan kalian untuk kata tidak tahu? Dasar bodoh!" kesal Albert lalu beranjak dari duduknya. "Siapkan tiket pesawat untukku sekarang juga. Biar aku sendiri yang turun tangan mencari mereka, dan aku sendiri yang akan menghabisi nya, agar orang tua mereka menyaksikan kematian anak anaknya dengan tragis,"


"Bagaimana dengan rencana kita untuk menghabisi polisi itu bos?" tanya anak buah Albert yang sudah menyusun rencana untuk menghabisi Zifa atas perintah bos nya.


"Undur saja dulu," Jawab singkat Albert yang langsung melangkah kakinya keluar dari ruangan di mana sedari tadi dirinya berada.


*


*


*

__ADS_1


Setelah kepulangan mama Linda dari apartemennya, Zifa bergegas menuju kamar yang sudah di hias sedemikian rupa seperti kamar pengantin pada umumnya, dan tak lupa pencahayaan kamar tersebut hanya di terangi beberapa cahaya lilin yang membuat kamar tersebut begitu redup dan menambah kesan romantis. Hasil kerja keras Zifa dan juga sang mama sebelum Zain pulang ke apartemen.


Karena malam ini malam pertama di mana Zain dan juga Zifa sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


Zifa mengganti pakaian yang sekarang di kenakan nya dengan linggerie minim yang menerawang tubuh indahnya, kado dari sang mama yang sangat bahagia jika sang putri sudah menikah dengan pria yang sangat di cintanya, meskipun menikah dengan sangat sederhana.


Zifa membuka pintu kamarnya saat mendengar ada yang menekan pass kode pintu apartemen nya. Dan melangkah kan kakinya ingin menuju pintu yang dirinya yakinin itu adalah Zain sang suami, saat tadi menghubungi dirinya tidak dan lama lagi akan segera sampai di rumah.


Namun Zifa menghentikan langkahnya, lalu menatap tubuhnya.


"Ya ampun, apa yang aku kenakan ini," ucap Zifa lalu membalik tubuhnya ingin kembali ke kamar.


Tapi baru beberapa kali melangkah Zifa menghentikan langkahnya saat ada yang memanggil namanya, dan Zifa tahu persis suara yang memanggil namanya, suara yang sangat di rindukan nya untuk hari ini.


"Zain, hentikan ah," desaaah Zifa saat Zain bukan hanya memeluknya dari belakang namun juga menjilat dan mencium belakang telinganya.


Zain kemudian melepas pelukannya lalu membalik tubuh Zifa untuk menghadap ke arahnya.


Zifa tertipu malu saat Zain menatap nya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kamu membuat lelah ku hilang seketika," ucap Zain sambil membelai wajah sang istri, dan lelah karena seharian syuting entah menghilang ke mana, saat melihat Zifa sang istri begitu menggiurkan, bagai buah yang berada di atas pohon yang sudah siap di petik dan juga di konsumsi.

__ADS_1


"I love you," ucap Zain, namun belum juga Zifa membalas ucapan sang suami, Zain langsung menempelkan bibirnya dan melummaaat bibir sang istri dengan rakus.


Zifa melepas tautan bibir sang suami saat dirinya mulai kehabisan oksigen.


"Maaf," ucap singkat Zain dan sekarang beralih mengangkat tubuh Zifa.


"Zain turunkan, aku bisa berjalan sendiri,"


Namun Zain hanya merespon ucapan sang istri dengan senyum, dan membopong Zifa menuju kamar, yang sudah di hias sedemikian rupa.


"Ternyata kamu sudah mempersiapkan semuanya," ucap Zain sambil tersenyum senang lalu merebahkan tubuh Zifa di atas tempat tidur.


"Zain,"


"Kenapa? Aku ingin melihat kamu tanpa sehelai benang pun," sambung Zain saat Zifa menahan tangannya yang akan melepas linggeriee yang di kenakan nya, dan akhirnya Zifa hanya pasrah dan membiarkan sang suami melepas linggeriee yang di kenakan nya.


Setelah Zain melihat istrinya polos tanpa sehelai benang pun, kini dirinya beralih melepas semua pakaian yang di kenakan nya, membuat Zifa langsung menutup wajahnya dengan ke dua tangannya saat melihat burung Zain sudah berdiri tegak di bawah sana.


"Untuk apa kamu menutup wajahmu, lihat lah sebelum kita menyatukan tubuh," ujar Zain sambil melepas tangan sang istri yang masih menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Uh Zain," desaah Zifa saat Zain yang masih berdiri di samping pinggiran tempat tidur menyesap Choco chip miliknya, dan satu tangannya membuka kedua paha sang istri, lalu mengelus elus apemnya.


Bersambung....................


__ADS_2