Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Kremasi


__ADS_3

"Awww sayang apa yang kamu lakukan?" tanya Jona yang baru saja di dorong dari ranjang perawatan oleh Jane, hingga jatuh terjengkang di atas lantai.


"Aku tidak sengaja sayang, maafkan aku," ucap Jane sambil mengukir senyum, melihat sang suami masih tergeletak di atas lantai sambil meringis kesakitan.


Jane mengulurkan salah satu tangannya ke arah sang suami, Karena salah satu tangan Jane terpasang selang infus membuatnya tidak bisa turun untuk menghampiri sang suami, yang sekarang coba untuk beranjak dari tempatnya.


"Sayang kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan ini," Jona meraih tangan sang istri dan beranjak dari tempatnya dan naik kembali ke atas ranjang perawatan sang istri.


"Aku sudah minta maaf, aku juga tidak sengaja, lagian tanggung jawab apa? Harusnya kamu yang–"


"Jangan bicara lagi," sambung Jona memotong perkataan sang istri dan menaruh jari telunjuk nya di bibir sang istri tercinta. "Bagaimana jika tulang belakang ku patah, dan pisang tanduk milikku tidak bisa berdiri siapa yang akan memuaskan kamu?"


"Jangan mengada ada, lihatlah kamu baik baik saja, harusnya kamu yang bertanggung jawab padaku, karena kamu sudah membuat aku bersedih dan juga ada di sini," kesal Jane, namun tidak mendapat tanggapan dari Jona yang langsung membawa sang istri ke dalam pelukannya.


"Maaf sayang, aku tidak bisa berbuat apa apa, ketika ada berita pesawat jatuh. Pesawat yang harusnya aku tumpangi,"


Mendengar perkataan sang suami, Jane melepas pelukannya dan menatap intens wajahnya.


"Jadi–"

__ADS_1


"Aku dan Tom tidak ikut penerbangan itu," jelas Jona memotong perkataan sang istri. "Karena Albert tidak lagi berada di Paris, dan anak buah Tom sudah menangkap nya,"


"Jadi?"


"Ya aku menemani Tom di bandara hingga dia dapat penerbangan menuju negara di mana Albert sudah di tangkap oleh anak buahnya. Dan aku memutuskan untuk tidak ikut dengan Tom, meskipun Tom menyuruhku untuk menemui Albert," jelas Jona dan satu tangannya membelai wajah sang istri dengan lembut.


"Tapi kenapa ponsel kamu tidak aktif, dan kamu tidak menghubungi aku, kamu tahu apa yang aku rasakan melihat berita itu?"


"Maaf sayang, ponselku hilang entah ke mana, dan saat aku ingin memberi tahu kamu, Tom tidak menyimpan nomor ponselmu. Dan kamu tahu sendiri aku tidak hafal nomor ponsel kamu,"


"Kalau begitu kenapa kamu tidak buru buru pulang?"


Setelah lama ke duanya saling berciuman, kini ke duanya melepas tautan bibirnya beralih saling berpelukan.


"Sayang apa yang terjadi dengan om Albert?" tanya Jane saat masih berada di dalam pelukan sang suami.


"Entah,"


"Apa Tom akan menghabisi om Albert?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu," bohong Jona, padahal dia sudah Tahu jika anak buah Tom sudah menghabisi Albert, kemudian Jona mengeratkan pelukannya.


Zifa menggenggam ke dua tangan sang suami saat keduanya sedang duduk di bangku tunggu tepat di lobi rumah sakit di mana Jane sedang di rawat.


"Sayang," ucap Zifa lalu memeluk sang suami, setelah Zain memberi tahu apa yang terjadi pada papanya, setelah Jona menceritakan semuanya pada Zain.


Air mata jatuh membasahi pipi Zain, sebenci apa pun dirinya pada sang papa, tetap saja Zain begitu sedih mendengar jika sang papa sudah meninggal dunia.


"Aku akan mengantar kamu untuk menjemput jasad papa kamu sayang,"


"Tidak, aku tidak ingin menjemputnya. Aku sudah bicara dengan Jona, dan meminta bantuannya, mengubungi kerabatnya di sana untuk mengkremasi jasad papa," jelas Zain sambil menghapus air mata.


"Aku turut berduka cita sayang,"


"Ini sudah takdir Tuhan, untuk papa meninggal dengan cara seperti ini," ucap Zain dan Zifa langsung mengeratkan pelukannya, tahu jika sang suami begitu sedih.


Satu minggu kemudian


Bersambung.......................

__ADS_1


__ADS_2