Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Kebohongan


__ADS_3

Menangis, hanya itu yang bisa di lakukan oleh Jane setelah sadar dari pingsannya, hingga malam menjelang air mata tidak ada hentinya mengalir dari ke dua pelupuk matanya.


Bu Joko dan bu Tuti yang menemani Jane dan terus menguatkan Jane, tidak bisa lagi menahan air mata, dan keduanya juga ikut menangis.


Jane yang duduk di atas tempat tidur terus menggenggam ponsel miliknya dan sesekali menatap layar ponsel yang berada di tangannya yang sudah basah terkena air mata, berharap sang suami menghubunginya.


Karena Jane sudah puluhan kali menghubungi ponsel milik suaminya, namun ponselnya mati.


"Ya Tuhan kembalikan suamiku, bth laku mohon padamu ya Tuhan," ucap Jane di sela sela tangisnya.


Entah sudah berapa puluh kali permohonan itu keluar dari bibir Jane, dan siap pun yang mendengar itu pasti merasa tersentuh.


Bu Joko dan juga bu Tuti menghapus air mata yang membasahi pipi, kala mengingat ucapan suami mereka, untuk tidak membuat Jane tambah bersedih dengan ikut menangis, dan sebisa mungkin untuk menguatkan dan menghiburnya, selagi suami mereka pergi ke bandara tempat pesawat yang jatuh tersebut lepas landas, untuk mencari informasi lebih lanjut, pasalnya pihak maskapai belum mengumumkan secara resmi penumpang di dalam pesawat yang jatuh tersebut.


"Mbak Juminten, sekarang Mbak makan dulu," ucap bu Joko yang mendekati Jane, saat tetangga yang lain yang juga berkumpul di ruang tamu Jane sudah menyiapkan makan malam.


Namun tidak mendapat tanggapan dari Jane yang terus menerus menangis, membuat bu Joko langsung menggenggam tangan Jane yang masih duduk di atas tempat tidur.


"Mbak Juminten, jangan seperti ini. Belum tentu mas Jono ikut dalam penerbangan itu, siapa tahu mas Jono ketinggalan pesawat, pihak maskapai juga belum merilis daftar penumpang dalam pesawat itu. Lebih baik Mbak Juminten berpikir positif dan mas Jono nanti pulang bersama pak Joko," ujar bu Joko untuk menenangkan Jane. "Lebih baik sekarang Mbak Juminten makan malam dulu, kasihan dede bayi yang ada di dalam perut Mbak Juminten,"

__ADS_1


Jane melepas genggaman tangan Bu Joko lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tanpa menanggapi apa yang di katakan oleh bu Joko.


"Tinggalkan aku, aku hanya ingin sendiri," ucapan itu yang keluar dari mulut Jane di sela sela tangisnya.


"Ta–"


Bu Joko tidak jadi meneruskan ucapannya saat bahunya di tepuk oleh bu Tuti.


"Bu lebih baik kita tinggalkan Mbak Juminten, mungkin dengan dia menyendiri dia akan lebih tenang," usul bu Tuti.


"Tapi dia sedang–"


"Baiklah," ucap bu Joko, dan ke duanya keluar dari kamar dan meninggalkan Jane seorang diri.


Selepas kepergian bu Tuti dan bu Joko Jane menghapus air matanya, lalu mengelus perutnya yang masih rata.


"Sayang kembali lah, apa kamu tega meninggalkan kita? Mana janjimu yang akan terus berada di sisiku dan menjagaku selamanya. Apa yang kamu katakan itu hanya kebohongan semata? Sayang kembali lah. Katakan padaku, janji yang selalu kamu ucapkan bukanlah dusta sayang," ucap Jane dan kembali menghapus air matanya.


"Jane,"

__ADS_1


Suara seseorang sambil membuka pintu kamar Jane, membuat Jane yang tadi merebahkan tubuhnya membelakangi pintu kamarnya langsung beranjak dari tidurnya berharap yang memanggilnya adalah Jona.


"Jo–" Jane tidak jadi meneruskan ucapannya, saat melihat ke arah pintu bukanlah sang suami yang memanggilnya melainkan Zain yang masuk di ikuti Zifa dari belakang dan langsung mendekatinya dan memeluknya dengan erat.


Jane yang sudah menghentikan tangisnya kini menangis kembali di pelukan Zain, membuat Zain juga ikut menitikan air mata mendengar tangisan pilu sang sahabat, dan Zifa yang berada di samping ke duanya, tangannya refleks mengelus punggung Jane untuk menguatkannya.


Zain menghapus air matanya dan mengusap punggung Jane. "Menangis lah jika itu membuat kamu lebih baik Jane,"


"Bagaimana aku bisa lebih baik Zain. Jona suamiku–"


Jane tidak jadi meneruskan ucapannya saat Zain melepas pelukan nya lalu menaruh jari telunjuknya di bibir Jane untuk menghentikan ucapannya.


"Jangan katakan apa pun Jane. Doakan Jona selamat dari kecelakaan maut ini," ujar Zain lalu menautkan keningnya saat melihat Jane memegangi perutnya sambil meringis kesakitan. "Jane!"


"Jane!" teriak Zain dan Zifa bergantian saat Jane tiba-tiba tidak sadarkan diri.


Bersambung.......................


JUST INFO

__ADS_1


NOVEL INI AKAN SEGERA BERAKHIR YA GAES KURANG LEBIH 10 BAB LAGI, DAN APA PUN NANTI AKHIRNYA SEMOGA KALIAN TIDAK PROTES OKE!


__ADS_2