Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Halusinasi


__ADS_3

Jane yang masih memeluk Zifa dan terus menangis, menegakkan kepalanya dan menghentikan tangisnya, lalu menatap seseorang yang sangat Jane kenal, yang baru saja mengejeknya dengan kata kata yang keluar dari bibirnya.


Setelah Jane menatap orang tersebut, Jane tadi yang sempat menghentikan tangisnya kini menangis lagi, dengan tangis yang semakin jadi.


Dan Zifa kembali mengeratkan pelukannya lalu menoleh ke belakang untuk menatap seseorang yang baru saja di lihat oleh Jane.


Zifa mengerutkan keningnya ketika sudah melihat orang tersebut, yang berdiri tepat di samping sang suami. "Jona?" tanya Zifa untuk memastikan apa yang di lihatnya tidak salah, kemudian Zifa melepas pelukannya saat Jona mendekati ranjang perawatan di mana dirinya dan juga Jane berada.


"Zifa ini hanya mimpi, itu bukan Jona. Aku tidak ingin kecewa dengan berharap dia akan kembali padaku," ucap Jane di sela sela tangisnya, lalu menutup wajahnya dengan ke dua tangan, tidak ingin melihat Jona yang baru saja di lihatnya, karena Jane yakin dirinya masih bermimpi.


Namun Zifa tidak menanggapi ucapan Jane, yang sekarang turun dari ranjang di mana dirinya berada dan langsung memeluk sang suami dengan erat.


"Sayang apa aku tidak salah lihat?" tanya Zifa yang masih tidak percaya jika Jona masih hidup.


"Tidak sayang kamu tidak salah lihat, dia benar Jona. Dan sudah dari semalam dia berada di ruangan ini. Namun dia tidak ingin membangunkan kalian yang sudah tidur nyenyak," jelas Zain tak lupa mengukir senyum lalu mencium singkat bibir sang istri yang berada tepat di hadapannya, dengan ke dua tangan masih memeluk pinggangnya.


"Tapi–"


"Nanti aku ceritakan semuanya," ucap Zain memotong perkataan sang istri. "Lebih baik kita tinggalkan mereka berdua sayang,"

__ADS_1


"Baiklah," sambung Zifa, lalu melepas ke dua tangannya yang masih memeluk pinggang sang suami.


Dan sekarang Zain beralih memeluk pinggang sang istri lalu keluar dari ruang perawatan di mana Jane berada dan meninggalkan nya bersama sang suami.


Selepas kepergian Zain dan juga Zifa, Jona naik ke atas ranjang perawatan sang istri, dan langsung membawa Jane ke dalam pelukannya, ketika Jane masih terisak sambil menutup wajahnya dengan ke dua tangannya.


"Sayang hentikan tangisan kamu, apa kamu tidak malu dengan calon anak kita? Masa ibunya cengeng,"


Namun Jane tidak menanggapi perkataan Jona dan terus menangis di dalam pelukan sang suami.


"Pergilah jika kamu tidak nyata, jangan membuat aku berharap kamu masih berada di sampingku. Aku sudah ikhlas menerima kenyataan ini, dan aku tidak akan pernah bersedih lagi menerima kenyataan jika kamu telah tiada" ucap Jane di sela sela tangis nya, kemudian membuka ke dua tangannya yang masih menutupi wajahnya, lalu melepas pelukan Jona.


"Kamu hanya halusinasi ku, jadi sekarang pergilah. Aku iklhas melepas kepergian kamu sayang. Tenang saja anak kita tidak akan kekurangan kasih sayang dari seorang ayah. Aku akan menjadi ayah dan juga ibu untuk anak kita,"


Mendengar apa yang di katakan oleh sang istri, Jona memegang tangan sang istri yang terus membelai wajahnya.


"Jane apa yang kamu katakan? Ini aku Jane, suamimu Jona, pria yang paling tampan, dan kamu tidak sedang berhalusinasi," sambung Jona dan sekarang menggenggam ke dua tangan sang istri dengan erat. "Kamu pikir aku sudah mati? Tega sekali kamu berpikir seperti itu, tidak mungkin author menjadikan kisah kita berakhir dengan kesedihan, itu tidak akan pernah terjadi sayang, percaya padaku. Apa kamu butuh bukti jika kamu sedang tidak berhalusinasi? Dan aku benar benar nyata?"


Plak!

__ADS_1


Plak!


Jona menampar ke dua pipinya sendiri menggunakan tangan sang istri yang masih di genggamnya.


Membuat Jane langsung melepas tangannya, dan refleks membelai wajah sang suami.


"Apa kamu sudah percaya jika kamu sedang tidak berhalusinasi, dan aku nyata?" tanya Jona namun tidak mendapat jawaban dari Jane yang menghambur memeluknya, dan tangis yang tadi sudah terhenti sekarang pecah kembali. "Sayang sejak kapan kamu jadi cengeng seperti ini?"


Mendengar pertanyaan sang suami, Jane melepas pelukannya dan menghentikan tangisnya.


"Sejak kamu hilang kontak setelah pesawat itu jatuh, kamu tidak tahu betapa sedihnya aku!" ucap Jane sambil mendorong tubuh sang suami.


"Sa– yang!"


Bugh!


Bersambung..........................


Dan beberapa langkah lagi kisah ini akan tamat ya gaes, dan terus dukung J2 dengan vote dan hadiah ya, karena di akhir nanti seperti biasa, akan ada Giveaway untuk yang beruntung, bay bay

__ADS_1


__ADS_2