
Zifa masuk ke dalam rumahnya dengan terburu buru saat baru saja pulang dari tempat Zain, dan dirinya mendapat kabar tidak enak dari anak buahnya.
"Sayang, kamu ke mana saja, hari ini kamu libur bekerja bukan?" tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi, dan Zifa langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke arah wanita paruh baya yang sekarang sedang mengukir senyum ke arah Zifa, saat Zifa melewati ruang keluarga tersebut.
"Aku baru ada urusan Ma, oh iya Ma, papa ada di mana?"
"Di mana lagi kalau bukan di ruang kerjanya,"
"Baiklah aku akan ke ruang kerja papa," Dan Zifa pun langsung berjalan dengan cepat menuju di mana ruang kerja papanya berada.
Zifa yang sudah berada di depan pintu ruang kerja sang papa langsung membuka pintu tanpa mengetuk nya terlebih dahulu, lalu membanting pintu tersebut dengan kencang, membuta pria paruh baya yang sedang duduk di kursi kerja langsung menutup sambungan ponselnya saat sedang menelpon seseorang.
Senyum sinis terukir dari sebelah sudut bibir Zifa dan berjalan mendekati meja kerja sang papa. "Apa itu Albert yang menghubungi papa?"
"Apa maksud mu sayang?"
"Aku sudah tahu, papa yang sudah membantu Albert keluar lagi dari penjara?"
"Apa yang kamu katakan sayang, kamu sudah tahu jika papa sudah pensiun,"
"Iya aku tahu, dan aku juga tahu anak buah papa di kepolisian juga banyak," ujar Zifa yang sudah lama mengetahui kebenaran siapa Bagas Wijaya sang papa yang belum lama pensiun dari petinggi kepolisian. "Di mana papa menyembunyikan Albert?"
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan sayang?"
"Jika papa tidak ingin memberi tahu aku, baiklah aku akan mencari tahu sendiri di mana Albert, tapi tidak akan aku masukan ke dalam penjara lagi tapi akan aku tembak mati di tempat!" tegas Zifa dan membalik tubuhnya ingin pergi dari ruangan tersebut.
"Percuma kamu mencari keberadaan Albert, dia kebal hukum,"
Mendengar perkataan papa Bagas, Zifa menghentikan langkahnya lalu membalik tubuhnya dan menatap kembali papa Bagas. "Apa karena uang? Oh tentu saja, apa lagi kalau bukan uang hingga papa bisa memiliki kemewahan yang papa inginkan,"
"Kenapa kamu bicara seperti itu pada papa mu Zifa!" Papa Bagas beranjak dari duduknya.
"Karena aku punya semua buktinya,"
"Oh Iya, kita buktikan nanti!" ujar Zifa yang kini benar benar keluar dari ruang kerja papa Bagas, dan meninggalkan sang papa yang sedang memikirkan sesuatu.
Zifa keluar dari kamarnya sambil membawa koper, membuat sang mama yang ada di ruang makan ketika sedang menyiapkan makan siang bersama dengan beberapa asisten rumah tangga nya langsung menghampiri putri semata wayangnya. "Sayang kamu mau ke mana lagi?" tanya mama Linda pasalnya sang putri belum lama tinggal bersamanya, saat Zifa bertugas di luar kota.
"Aku harus pergi Ma, ada pekerjaan yang sangat penting,"
"Tidak anak tidak papa, selalu mengatakan ada pekerjaan penting dan kalian meninggalkan mama sendiri,"
"Mama tahu aku bekerja untuk menegakkan ke adilan di negara ini dan ingin benar-benar menegakkan keadilan tanpa ada uang yang berbicara," ujar Zifa sambil melirik ke arah papa Bagas yang berjalan menuju ruang makan. "Aku pergi dulu ma,"
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin makan siang bersama mama dan juga papa?"
"Lain kali Ma," ucap Zifa lalu mencium kedua pipi mama Linda sebelum meninggalkan rumah tanpa menghiraukan papa Bagas.
*
*
*
Jane memeluk lengan Jona keluar dari restoran saat keduanya baru selesai menyantap makan siang, saat tadi pagi keduanya tidak jadi makan di luar dan hanya memesan makanan di hotel tempatnya menginap.
"Kamu mau makan apa lagi Jane?" tanya Jona tapi tidak mendapat jawaban dari Jane yang sekarang malah mencengkram lengan Jona. Membuat Jona langsung melepas tangan Jane yang masih terus mencengkram. "Ya ampun Jane, aku bertanya baik-baik padamu loh, dari tadi kamu emosi terus kenapa sih, sekali lagi aku tanya padamu kamu mau makan apa?"
"Makan orang, kamu puas," ucap kesal Jane sambil meringis kesakitan memegangi perutnya dan berjalan terlebih dahulu. Namun baru saja Jane beberapa langkah melangkah dirinya menabrak meja yang memang ada di luar restoran tepatnya berada, saat Jane tidak memperhatikan jalan. "Siapa yang menaruh meja di sini?"
"Ya pemilik restoran, makanya jalan tuh pakai mata,"
"Matamu, jalan itu menggunakan kaki," sambung Jane kesal sambil menatap seseorang yang baru saja beranjak dari kursi di mana mejanya baru saja di tabrak Jane.
Bersambung................
__ADS_1