Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Gas Lagi


__ADS_3

Zain menundukkan kepalanya ketika sudah membuka pintu rumah bibi Berta, ketika di depan pintu sudah berdiri polisi wanita yang sudah beberapa kami bertemu dengannya.


"Zain," polisi wanita tersebut menepuk pundak Zain yang masih menundukkan kepalanya. "Tidak usah seperti itu, kalau bisa kamu buat upacara penyambutan untukku," ujar polisi wanita tersebut sambil mengukir senyum lalu melewati Zain dan masuk terlebih dahulu ke dalam rumah, dan Zain pun langsung mengikuti nya dari belakang.


Polisi wanita tersebut menghentikan langkahnya membuat Zain yang berjalan di belakang nya langsung menubruk nya.


"Maaf Bu tidak sengaja," ujar Zain dan memundurkan langkah nya saat polisi wanita tersebut membalik tubuhnya untuk menghadap ke arah Zain.


"Bu, apa kamu pikir aku setua itu?"


"Bukan begitu maksudnya–" Zain langsung menggaruk kepalanya dan tidak jadi meneruskan ucapannya, saat dirinya tidak tahu harus menyebut wanita muda yang berada di hadapannya dengan sebutan apa.


"Panggil saja namaku Zain, umur kita tidak beda jauh, apa kamu lupa namaku?" tanya polisi wanita tersebut sambil mengukir senyum dari ke dua sudut bibirnya, karena pertemuan keduanya saat Zain pergi ke kantor polisi untuk di mintai keterangan, Zain selalu di dampingi polisi wanita tersebut.


Dan polisi wanita tersebut yang baru menginjak usia dua puluh lima tahun, mengatakan pada Zain untuk manggilnya dengan namanya saja.


"Zifa," Zain menyebut nama polisi wanita tersebut.


"Itu kamu belum melupakan namaku," ujar Zifa dan terus mengukir senyum dari ke dua sudut bibirnya dan menatap Zain yang juga mengukir senyum dengan canggung. "Oh ya Zain, aku mencium aroma yang enak, apa kamu memasak sesuatu?" Zifa membalik tubuhnya dan berjalan untuk mencari aroma makanan yang begitu menggoda. Dan langkahnya terhenti saat sudah berada di meja makan yang berukuran kecil. "Ya ampun Zain apa itu mi instan?"


"Iya,"

__ADS_1


"Kalau begitu aku mau," ujar Zifa lalu duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Zain, kemudian melahap mi instan milik Zain.


"Zifa,"


Zifa yang sedang melahap mi instan mengangkat satu tangannya mengisyaratkan agar Zain diam.


"Katakan kenapa?" tanya Zifa saat dirinya sudah menghabiskan mi instan milik Zain.


"Untuk apa kamu datang pagi-pagi ke sini dan kamu juga tidak menggunakan seragam,"


"Oh itu, karena aku ingin mengunjungi rumah ini dan menanyakan dengan detail teman kamu yang hilang, kamu juga belum menunjukkan fotonya padaku bukan?"


"Baiklah aku akan mengambil fotonya di dalam kamar," ujar Zain tidak ingin berbasa basi lagi.


Dan Zifa pun langsung mengikuti Zain dari belakang menuju kamar Jane.


Zifa terus menatap foto Jane yang berada di tangannya, saat sudah berada di dalam kamar Jane, sambil mendengarkan semua yang di ceritakan oleh Zain bagaimana hubungan keduanya selama ini, dan kapan terakhir bertemu dan kapan Jane hilang.


"Jadi sahabat kamu ini anak dari sahabat Albert? Yang bekerja–"


"Iya dia bekerja sebagai pemuas nafsu para pria hidung belang," sambung Zain memotong perkataan Zifa. "Dan benar ke dua orang tua kami sudah berteman sejak lama, dan seperti yang aku ceritakan padamu kemarin apa yang terjadi dengan keduanya,"

__ADS_1


"Iya aku juga sudah mengembangkan kasus itu, dan memang aku menemui ke janggalan," ujar Zifa dan ingin membalik tubuhnya namun alas kaki yang di gunakan nya menginjak sesuatu sehingga dirinya hilang keseimbangan, dan Zain yang berdiri tidak jauh dari Zifa langsung menahan tubuhnya yang akan jatuh lalu membawa ke dalam pelukannya.


"Zain ada apa denganmu?" Guman Zain saat mata ke duanya saling bertemu yang hanya berjarak beberapa senti, dan jantung Zain tiba-tiba berdetak tidak seirama. Dan Zain pun langsung melepas tangannya yang masih memeluk Zifa untuk menahan tubuh


Bruk!


"Ach Zain!" teriak Zifa saat Zain malah menjatuhkan tubuh Zifa.


"Maaf," ujar Zain yang langsung menarik tangan Zifa untuk beranjak dari tempatnya.


*


*


*


"Ahh emmm Jona enak sekali, masuk lebih dalam lagi, emmm Jona aku– ach emmm mantap pol, gas lagi Jona ach aku sudah tidak tahan lagi, ya ampun Jona penuh sekali milikmu,"


"Jane,"


"Ach Jona jangan dulu, aku masih menginginkannya,"

__ADS_1


Bersambung.................


__ADS_2