
Jona berlari menuju kamar menghampiri sang istri yang sedang berada di dalam kamar mandi dan terus mengeluarkan isi perutnya.
"Sayang ada apa dengan kamu?" tanya Jona sambil memijit belakang leher sang istri yang masih mengeluarkan isi perutnya, tentu saja tidak mendapat tanggapan dari sang istri yang sekarang menegakkan kepalanya setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Apa kamu bodoh?" tanya Jane balik sambil menyingkirkan tangan sang suami ya masih memijat belakang kepalanya dan meraih handuk yang tidak jauh dari jangkauannya untuk mengelap mulutnya. "Sudah tahu istrinya sedang muntah muntah, masih tanya kenapa dasar!" kesal Jane sambil melempar handuk yang berada di tangannya ke tubuh Jona.
"Maksud aku kenapa kamu muntah sayang, tidak biasanya, semalam kamu juga tidak makan hidangan laut," ujar Jona mengingat lagi sang istri alergi dengan hidangan laut.
"Mana aku tahu, ini pasti gara gara kamu yang minta nambah lagi semalam,"
"Apa aku tidak salah dengar sayang? Bukannya kamu yang ingin terus bermain, hingga aku kewalahan melayani kamu," sambung Jona membuat Jane yang menyadari salah berucap langsung nyengir kuda.
"Oh iya aku lupa sayang," ujar Jane lalu memegangi keningnya saat tiba tiba merasakan pening di kepalanya.
"Sayang ada apa–"
Jona tidak jadi meneruskan ucapannya karena langsung menahan tubuh Jane yang sempoyongan dan tiba tiba tidak sadarkan diri.
"Sayang ada apa denganmu, bangunlah sayang," Jona menepuk nepuk pipi sang istri untuk membangunkannya saat Jane tidak sadarkan diri. "Sayang jangan bercanda, sayang bangunlah!" teriak Jona dengan panik ketika tidak ada pergerakan dari sang istri.
Jona terus memanggil sang istri untuk membangunkannya dan membopongnya keluar dari kamar mandi, kemudian keluar dari kamar untuk mencari bantuan.
"Zain!"
"Jona!"
__ADS_1
Teriak Jona dan Zain bergantian saat ke duanya sudah berada di luar kamar.
"Istrimu?"
"Jane?" tanya balik ke duanya saat mendapati sedang membopong istri masing masing yang tidak sadarkan diri.
"Zifa jatuh pingsan,"
"Jane pun sama, sebaiknya kita harus ke rumah sakit," sambung Jona dan berlari menuju pintu di ikuti oleh Zain dari belakang yang terlihat begitu panik.
"Aku rasa mereka keracunan makanan,"
"Aku rasa juga begitu," sambung Jona.
*
*
*
"Aku akan menghancurkan restoran tempat kita makan semalam, jika terjadi sesuatu pada Jane," ucap Jona kesal saat berpapasan dengan Zain yang terlihat begitu kuatir dengan keadaan sang istri.
"Jangan brutal seperti itu, ini bukan di negara kamu," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Zain.
Dan keduanya langsung menatap pintu ruang UGD yang baru saja di buka oleh dokter yang belum lama masuk ke dalam ruang UGD.
__ADS_1
"Dok bagaimana keadaan istriku Dok?"
"Iya dok, istriku baik-baik saja kan?" tanya Zain juga saat keduanya sudah mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD, yang sekarang sedang mengukir senyum.
"Kenapa dokter malah tersenyum, istriku sedang tidak baik baik saja Dok," kesal Jona sambil memicingkan matanya menatap dokter yang ada di hadapannya.
"Siapa bilang istri Bapak tidak baik baik saja. Istri Bapak berdua baik baik saja dan sudah sadar. Dan Bapak berdua silakan masuk temui istri masing masing, dokter kandungan sedang menunggu Bapak berdua di dalam," ujar dokter tersebut yang langsung meninggalkan Zain dan juga Jona yang sekarang saling tatap mendengar apa yang di katakan dokter barusan.
"Dokter kandungan,"
"Dokter kandungan," ucap Jona dan juga Zain berbarengan dan ke duanya langsung masuk ke dalam ruang UGD.
Jona yang sudah berada di dalam ruang UGD langsung menghampiri sang istri yang kebetulan berada satu ruangan dengan Zifa dan hanya tirai yang jadi pembatasan yang sekarang terbuka.
"Sayang kamu baik-baik saja?" tanya Jona saat sudah menghampiri sang istri lalu meraup wajahnya dan mendaratkan ciuman di seluruh wajah sang istri yang hanya mengukir senyum.
Setelah puas menciumi seluruh wajah sang istri, Jona menegakkan tubuhnya dan beralih menatap dokter yang berdiri di samping ranjang sang istri.
"Dok apa yang terjadi pada istriku?" tanya Jona penasaran.
"Istri bapak baik baik saja, dan selamat," ujar dokter tersebut sambil mengulurkan tangannya ke arah Jona, dan Jona refleks menjabat tangan dokter tersebut.
"Selamat untuk apa dok?"
"Karena istri bapak sedang mengandung, dan usia kandungannya sudah memasuki usia empat minggu, sama seperti Bapak ini yang istrinya juga sedang mengandung," ujar dokter tersebut sambil menatap ke arah Zain.
__ADS_1
"Ya Tuhan terima kasih," ujar Jona begitu bahagia yang langsung memeluk dokter di hadapannya, begitu pun dengan Zain yang memeluk dokter tersebut, tanpa menyadari jika Zifa dan juga Jane menatap tidak suka karena yang di peluk suami mereka adalah dokter wanita yang masih muda.
Bersambung.................