
Jona terus membiarkan Jane untuk memeluknya dan dirinya pun ikut balik memeluk Jane dengan erat.
Lama ke duanya berpelukan Jona yang tidak ingin hilang kendali dan juga mengingkari janjinya pada Jane. Melepas pelukan nya meskipun Jane masih terus memeluknya.
"Jane," panggil Jona namun tidak ada sahutan dari Jane. "Apa kamu sedang memancingku?" Dan tetap saja Jane tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan nya. "Oh baik lah jika ini yang kamu mau,"
Jona dengan perlahan melepas tangan Jane dan menatap wajahnya, namun senyum langsung terukir dari ke dua sudut bibir Jona, saat mendapati Jane sudah tertidur pulas.
Kemudian Jona membawa Jane ke dalam pelukannya kembali, tidak ingin mengganggu tidurnya, terakhir Jona mencium pucuk kepalanya. "I love you istriku, aku akan selalu berada di sampingmu menjadi penghibur saat kamu sedang bersedih, jadi pengobat saat kamu sedang sakit, dan aku akan ikut bahagia melihat kamu bahagia," ucap Jona yang sekarang memeluk balik Jane dan ikut memejamkan matanya.
Seminggu berlalu Jane dan juga Jona memanglah suami istri, namun belum seutuhnya, saat ke duanya masih menjaga janji yang sudah di sepakati sebelumnya, dan setelah malam terakhir ke duanya tidur bersama tentunya tanpa melakukan apa pun, malam malam berikutnya Jane dan juga Jona tidur di kamarnya masing masing.
Jam dinding yang ada di ruang makan menunjukkan pukul tujuh pagi, dan Jona yang sedang duduk di kursi makan sambil menyeruput kopi yang ada di hadapannya, begitu bingung pasalnya Jane belum juga keluar dari kamar nya, padahal setiap hari Jane setelah menikah, paling lambat keluar dari kamar jam setengah tujuh. Karena akhir akhir ini Jane belanja sayur mayur dan berbaur dengan warga setempat, untuk belajar memasak. Meskipun Jona melarangnya namun Jane tetep dengan keinginannya.
__ADS_1
Jona beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Jane, dan mengetuk nya beberapa kali, saat dirinya penasaran kenapa Jane belum juga keluar dari dalam kamarnya.
Namun sudah beberapa kali Jona mengetuk pintu kamar Jane dan juga memanggilnya, Jona tidak mendapat sahutan dari dalam kamar Jane.
Jona yang penasaran dan takut terjadi sesuatu pada Jane akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar Jane yang kebetulan tidak di kunci.
"Jane," panggil Jona saat sudah berada di dalam kamar dan langsung menautkan ke dua alisnya saat Jane masih terbaring di atas tempat tidurnya dengan selimut yang menutupi tubuhnya. "Jane kamu baik-baik saja?" tanya Jona yang sekarang berjalan mendekati Jane, namun Jane tidak merespon dan menjawab pertanyaan Jona. "Jane," panggil Jona lagi sambil menggoyangkan bahu Jane untuk membangunkan nya.
"Emm," hanya itu tanggapan dari Jane yang masih memejamkan matanya. Dan Jona langsung menautkan ke dua alisnya saat menatap wajan Jane yang begitu pucat.
"Jane, ya ampun kamu demam," ujar Jona sangat kuatir saat sudah menempelkan punggung tangannya di pipi Jane, dan mendapati suhu tubuh Jane begitu panas. "Sekarang kita ke rumah sakit," dengan segera Jona mengangkat tubuh Jane yang hanya pasrah.
Zifa yang baru saja keluar dari kamar menuju ke arah dapur di mana Zain sedang membuat sarapan. Hal rutin yang selalu Zain lakukan.
__ADS_1
Dapur minimalis dengan fasilitas yang serba ada di banding dengan dapur yang terdapat di rumah mendiang bibi Berta, saat Zain dan juga Zifa sekarang tinggal di apartemen Zifa.
Meskipun Zain awalnya menolak namun akhirnya dirinya mengalah, karena tempat teraman saat ini untuk Zifa dan juga dirinya, adalah apartemen Zifa dengan pengamanan super ketat yang di terapkan nya.
"Zain sini biar aku bantu," ujar Zifa saat sudah mendekati Zain yang masih berada di dapur.
"Sudah selesai kamu mau bantu apa?" tanya Zain sambil menatap ke arah Zifa yang berdiri di sampingnya, lalu ciuman mendarat di kening Zifa yang di layangkan oleh Zain membuat Zifa langsung memeluk pinggang Zain dengan erat. Saat ke duanya akhir akhir ini sangat lah dekat dan juga romantis.
Ponsel milik Zain yang berada di atas meja makan berdering, dan Zifa langsung melepas pelukannya. "Aku saja yang angkat,"
"Baiklah jangan cemburu jika yang menghubungiku wanita," sambung Zain sambil menahan senyum.
"Tentu saja aku cemburu," ucap Zifa lalu dengan segera menuju meja makan di mana ponsel Zain tidak berhenti berdering. "Halo,"
__ADS_1
Bersambung......................