
Tangan Zain gemetar lalu menjatuhkan senjata api yang berada di tangannya, saat melihat Albert sudah jatuh tersungkur saat mendapat dua kali tembakan tepat di bahu sebelah kanan dan juga pinggang sebelah kiri, tentu saja bukan Zain yang menembak Albert, memegang senjata saja dirinya sudah gemeteran apa lagi sampai menembak.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya salah satu polisi yang menghampiri Zain yang sekarang berjongkok sambil menutup kedua telinganya mendengar suara rentetan senjata api dari luar rumah, saat polisi sudah mengepung rumah Albert.
Senyum sinis menghiasi sebelah sudut bibir Albert yang akan di bawa beberapa polisi saat melihat Zain sang putra, dirinya sangat yakin jika putranya lah yang sudah menghubungi polisi, kemudian Albert menghentikan langkahnya saat melewati di mana Zain berada dan sudah melepas tangannya dari kedua telinganya, saat suara tembakan tidak terdengar lagi di telinga Zain.
Albert yang sedang menahan sakit karena terkena tembakan, melepas paksa kedua tangannya yang di pegangi kedua polisi di samping kanan dan juga kirinya. Lalu berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Zain yang masih berjongkok di tempatnya dan mendekatkan bibirnya di telinga sang putra.
"Hebat sekali kau Zain, asal kamu tahu tidak semudah ini kamu bisa memenjarakan papa, kamu tidak memiliki bukti apa pun, dan tunggu papa kembali, papa akan memberi perhitungan denganmu, anak tidak tahu diri!" bisik Albert di telinga Zain, lalu senyum sinis menghiasi sebelah sudut bibirnya menatap sang putra sebelum beranjak dari tempatnya.
Kemudian Albert berjalan keluar dari rumah miliknya dengan di pegangi ke dua polisi yang berada di samping kanan dan juga kirinya, tentu saja Albert tidak akan memberontak, dirinya sudah sering keluar masuk penjara, dan kali ini juga dirinya yakin beberapa hari lagi dirinya bisa bersantai di rumahnya.
"Maafkan aku pa, aku hanya tidak ingin banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban papa," ucap Zain sambil menatap punggung Albert yang keluar dari rumah. Tepukan mendarat di pundak Zain, membuat Zain menatap ke arah polisi yang masih berada di sampingnya yang baru saja menepuk punggungnya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?" tanya polisi tersebut membuat Zain langsung beranjak dari tempatnya.
"Aku baik-baik saja, terima kasih karena sudah mau mendengar apa yang aku katakan,"
"Kami yang harus berterima kasih padamu, karena sudah menunjukkan di mana Albert tinggal, dan maaf kami harus menahan papa kamu," ujar polisi wanita tersebut yang ternyata sudah lama mengincar Albert mafia yang di takuti polisi, namun tidak dengan dirinya, meskipun dirinya baru berkecimpung di dunia penegak hukum, polisi wanita tersebut yang memiliki jabatan lumayan tinggi, ingin menegakkan ke adilan dengan seadil-adilnya, dan dirinya sangat benci pada sesama penegak hukum yang menjual keadilan dengan uang, yang memang sering Albert lakukan selama ini agar bebas dari penjara.
"Aku akan senang bila papaku di penjara seumur hidup,"
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?"
"Baiklah aku permisi, jika ada apa-apa hubungi aku," ujar polisi wanita tersebut sambil memberikan kartu nama di tangan Zain sebelum meninggalkannya.
Zain menatap kartu nama tersebut setelah beberapa menit polisi wanita itu keluar dari rumahnya, dan Zain berlari berniat untuk memanggilnya namun mobil yang di naiknya sudah menjauh dari rumahnya.
__ADS_1
"Jane, aku yakin dengan bantuan polisi tadi, aku bisa menemukanmu, tunggulah aku Jane," ucap Zain lalu mengantongi kartu nama di dalam kantong celananya.
*
*
*
Jane masuk ke dalam kamar Jona berniat untuk menghiburnya ketika tahu apa yang sedang di alami oleh Jona, hingga Jona tidak sama sekali keluar dari kamar setelah sarapan mi instan tadi pagi.
"Hay kere apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Jane saat sudah masuk ke dalam kamar Jona dan melihatnya sedang duduk di kursi dengan beberapa berkas yang ada di hadapannya.
Namun Jona tidak menanggapi pernyataan Jane, dan tetap fokus pada berkas yang ada di hadapannya. "Jona kenapa tidak menjawab sih? Menyebalkan sekali, aku kutuk kamu jadi tuli sungguhan baru tahu rasa," ucap Jane yang sudah mendekat ke arah Jona lalu menatap berkas yang ada di hadapan Jona. "Ya ampun Jona jangan bilang–"
__ADS_1
Bersambung.......................