
Mendengar ucapan Zifa, Jane memeluk lengan sang suami dan mendongakkan kepalanya untuk menatap Jona, air matanya mulai membendung kemudian meluncur bebas membasahi ke dua pipinya yang mulus.
"Sayang aku tidak mau jauh dirimu," ucap Jane yang langsung memeluk tubuh sang suami dengan erat. "Lebih baik kita pergi dari sini, aku menyesal pernah memaksa kamu untuk menemui Zain," ucap Jane lagi masih di sela sela tangisnya.
Mendengar tangis ke sesedih dari sang istri Jona memeluk balik tubuh sang istri dan satu tangannya mengelus elus punggung nya.
"Bagaimana jika kamu ikut menemani aku di dalam penjara, kamu tidak ingin jauh dariku bukan?"
Mendengar perkataan sang suami Jane melepas pukulannya lalu menghentikan tangisnya dan menghapus air matanya.
"Aku menemani kamu di dalam penjara? Apa kamu sudah gila? Dasar tidak waras. Harusnya kamu membela diri jangan seperti ini yang hanya pasrah seolah olah memang kamu salah, dasar bodoh!" ucap Jane kesal.
"Sayang aku memang bersalah, dan aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan ku,"
"Jona!" teriak Jane dan kembali lagi menangis lalu berjongkok sambil menutup wajahnya dengan ke dua tangannya.
Di sisi lain Zain menatap wajah sang istri yang kebetulan juga sedang menatap nya. "Zifa kamu bilang–"
"Ssttt jangan katakan apa pun," sambung Zifa memotong perkataan Zain dan menaruh jari telunjuknya di bibir sang suami, kemudian bola matanya tertuju ke arah Jane yang terus menangis.
__ADS_1
Jona yang tidak tega melihat sang istri terus menangis kemudian ikut berjongkok lalu membawa Jane dalam pelukannya.
"Sayang hentikan tangisanmu, kamu tenang saja. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sampai kapan pun. Dan jangan kuatir aku juga tidak akan pernah masuk ke dalam penjara,"
Jane membuka ke dua tangannya yang masih menutupi wajahnya lalu melepas pelukan sang suami dan menatapnya intens.
"Tapi bu polisi itu mengatakan jika kamu–"
"Aku tidak bisa memasukkan orang ke dalam penjara sesuka hati, apa lagi suami kamu bukan orang lokal, tentu saja hukum tidak berlaku apa lagi kejahatan yang di lakukan nya bukan di negara kita melainkan di negaranya. Kecuali dia melakukan kejahatan di negara kita, atau pihak berwajib asal negara nya memberikan laporan ke negara kita, untuk menangkap nya karena dia menjadi buronan dari negaranya, tapi kita tidak mendapat laporan itu, jadi suami kamu aman," sambung Zifa memotong perkataan Jane dan berjalan menghampirinya.
"Maksudnya?" tanya Jane yang benar benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja di katakan oleh Zifa, kemudian menghapus air matanya, dan beranjak dari tempatnya di bantu oleh sang suami.
"Tadi kamu mengatakan jika kamu akan memasukkan suamiku ke dalam penjara,"
"Iya, dan itu hanya ingin membohongi kamu saja. Ternyata di balik mulut kamu yang tidak bisa di rem, kamu begitu melankolis," jelas Zifa sambil tersenyum ke arah Jane yang sekarang menatap sang suami sambil memicingkan matanya.
"Apa kamu bersekongkol dengan bu polisi itu?" tanya Jane penuh selidiki menatap tajam ke arah sang suami.
"Bukan aku yang mau tapi dia sayang," jawab Jona yang memang tadi sengaja ingin mengerjai Jane, saat dirinya dan juga Zifa tidak suka melihat Jane dan juga Zain terus berpelukan.
__ADS_1
"Kamu jahat sudah membuat aku menangis," sambung Jane lalu mendekati Zain dan memeluk lengannya. "Zain kita tinggalkan dua manusia tidak tahu diri ini," ucap Jane lalu menarik tangan Zain menuju ruang tamu meninggalkan Jona dan juga Zifa yang saling menatap.
"Sepertinya rencana kita tidak berhasil untuk memisahkan mereka, yang ada mereka tambah dekat," ujar Zifa dan menatap kesal saat melihat Zain duduk bersebelahan dengan Jane tanpa ada jarak.
"Terus, apa kamu ada rencana lain?" tanya Jona yang juga tidak suka melihat sang istri begitu dekat dengan Zain.
"Entah," jawab Zifa sambil mengangkat ke dua bahunya dan tatapan nya terus tertuju ke arah sang suami yang sekarang sedang tertawa bersama dengan Jane.
"Zain apa benar burung milikmu sudah bisa berdiri?" tanya Jane serius.
"Tentu, dan juga sudah bisa membuat istriku menddesah merem melek," jawab Zain bangga.
"Kamu belajar dari mana?"
"Otodidak lah, seperti itu tidak perlu belajar, bisa dengan sendirinya Jane,"
"Kalau begitu aku boleh lihat tidak, burung kamu kalau sudah berdiri tegak sebesar apa?"
Bersambung...................
__ADS_1