
Zafa menggenggam jari jemari istrinya "Nanti aku coba bicara sama Zen ya, sekarang kamu istirahat, ingat pesan dokter jangan stres dan nggak boleh capek!"
"Ia"
"Ya udah, aku kebawah ya, ngomong sama Zen dulu." pamit Zafa mengecup kening Jira.
Zafa turun dari lantai dua menuju ruang kerjanya yang ada di rumah baru.
"Zen,bagaimana dengan Reza dan anaknya?"
"Moses sudah sadar dari komanya tuan, tapi dia lumpuh dan Reza sudah di jatuhi hukuman oleh pengadilan karena berusaha mencelakai Jira dan juga terbukti dalang dibalik kecelakaan paman Gumalang adalah dia." tutur Zen.
"Lalu apa yang akan di lakukan oleh uncle Jhon pada mereka?"
"Tuan Jhoni mengasingkan Reza dan anaknya di sebuah pulau terpencil tapi masih dalam pengawasan anak buah beliau."
"Istrinya?"
"setelah semua harta Reza jatuh ketangan Jira, istrinya pergi meninggalkannya karena tak sanggup hidup miskin dan tak mau mengurus anaknya yang lumpuh."
"Mereka mendapatkan balasannya Zen." kata Zafa menatap keluar jendela.
"Ia tuan, semoga tidak ada dendam lagi dari mereka.karena permintaan Jira untuk tidak mengambil nyawa mereka, jadi tuan Jhoni tak jadi membunuhnya."
Zafa mengangguk setuju "Jangan kita mendahului tuhan untuk merenggut nyawa seseorang Zen. Lalu bagaimana kabar Miko?"
"Perusahaan yang diberikan Reza pada Miko merupakan perusahaan yang hampir bangkrut, rumah dan mobil yang dimilikinya ternyata dibeli dengan uang perusahaan itu. jadi Miko di tuntut karena korupsi tuan, dan sekarang ia mendekam di penjara."
Zafa menghela nafas "Kasian sekali dia, bekerja sama dengan orang yang sagat licik. Bagaimana dengan ibu dan adiknya?"
__ADS_1
"Ibu Miko beliau jatuh sakit saat anaknya di tangkap polisi dan meningal dunia 1 minggu yang lalu. Adiknya sekarang bekerja di warung makan karena putus sekola.h"
"Tolong kamu urus adiknya Miko. Biayai sekolahnya hingga perguruan tinggi.Tapi tetap rahasiakan kalau kita yang membantunya. Usahakan juga ia jauh dari Jira. Saya tidak mau ambil resiko jika nantinya ia menaruh dendam pada Jira akibat hasutan kakaknya itu." titah Zafa duduk di kursi meja kerjanya. "Dan jangan sampai Jira tau tentang ini."
"Baik tuan akan saya laksanakan." jawab Zen membungkuk.Zen memang profesional dalam pekerjaan. Ia saat ini menjabat sebagai asisten atau tangan kanan Zafa.Zen memang tak mau mewarisi harta Gumalang meski sudah di minta Jira berkali-kali, ia tetap menolak dengan alasan Zen tak mau waktunya habis karena mengurus pekerjaan.Akhirnya Jira memutuskan kalau perusahaan warisan papanya akan di urus oleh Zafa. Maka dari itu atas persetujuan papa Zavier, Zafa,Jira dan Uncle Jhon mereka akan menggabungkan 2 perusahaan besar itu menjadi satu.
"Zen sekarang aku mau bicara sebagai keluarga. Menurutku apa yang di bicarakan Jira tadi sebaiknya kau pikirkan. Jangan sampai Jira merasa bersalah karena kau hanya fokus padanya." pinta Zafa
"Aku sudah bilang, untuk sekarang belum tapi kita tidak tau nanti." jawab Zen duduk di sofa.
Zafa menghampiri Zen dan duduk di sofa seberang. "Jangan khawatirkan Jira, aku suaminya pastinya aku akan menjaga dan melindunginya. Pikir kan lah masa depan dan kebahagian untuk mu Zen. Jira juga ingin melihat kakaknya bahagia."
Zen menghela nafas " baik lah akan aku coba. Tapi ... aku masih takut membawa orang baru di dekat Jira. Entahlah, kadang rasa takut itu terlalu besar.Aku tak bisa mempercayai orang-orang yang mendekati ku.Bahkan saat kau ingin menikahi Jira aku hendak melarikannya. Tapi aku juga tak mau merusak kebahagian Jira."
"Begini saja, kalau aku dan Jira mengenalkan kau dengan seorang wanita bagaimana? setidaknya kami sudah mengenal baik orangnya. Setelah itu terserah kau saja, kami tidak akan ikut campur. Ya, anggap saja kau menjawab pertanyaan Jira jadi dia tidak perlu kepikiran lagi." urai Zafa panjang lebar.
"bagus, itu yang aku maksud" kata Zafa menjentikkan jari. "Bagaimana kabar uncle Jhon?"
"Beliau baik-baik saja. Sekarang sedang mengurus tim keamanan yang kau hibahkan padanya, jadi beliau sedikit sibuk mengajari beberapa anak buah baru itu." jawab Zen santai.
Zafa mengangguk "Aku sengaja menyerahkan pada ayah mu, karena Tristan tak mungkin mengurusnya lagi. Kita akan semakin sibuk kedepannya. Dan ayah mu memang jagonya dalam hal ini."
" Ya... ya... terserah kau saja Zafa. Aku hanya fokus pada dua hal. Mendampingi kau dan Jira itu saja."
"hahaha... santai lah Zen, nikmati hidup mu jangan terlalu tegang dan kaku. Jira pasti akan baik-baik saja, kau meragukan aku sebagai suaminya?" tawa Zafa.
"Bukan! kau sekarang memiliki tangung jawab besar Zafa. Pastinya waktu kau akan berkurang untuk Jira. Aku hanya ingin ada untuknya saat kau sedang sibuk.Jadi dia tidak akan merasa sendirian lagi,itu saja." jelas Zen agar Zafa tak salah paham.
"hhmmm... aku mengerti.Kalian melewati masa-masa sulit dan itu tak mudah. aku juga senang jika Jira memiliki kakak seperti kau. Tapi yakinlah saat ini Jira sudah sangat bahagia kau sudah ada di dekatnya jadi kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan nya lagi.Cari lah kebahagian untuk mu Zen."
__ADS_1
"Baiklah tuan Zafa. Terimakasih atas nasehatnya. Selamat menikmati rumah baru kalian. Aku senang bisa mewujudkan impian Jira. Sampaikan salam ku untuknya dan juga maaf kalau aku membuatnya kecewa tadi dengan jawabanku." Zen bangkit dari duduknya.
"Baiklah, akan aku sampaikan. Terimakasih juga kau sudah mengurus pembanguan rumah ini.Berkat kau rumah ini jadi sesuai yang di impikan Jira." balas Zafa menepuk pundak Zen.
"Aku pamit dulu,besok akan aku jemput untuk berangkat kerja."
"Tidak perlu, aku akan berangkat sendiri, tapi memang agak siang." jelas Zafa mengantar Zen hingga pintu depan.
"Tuan." sapa Leo anak buah Zen.
"Perkenalkan ini Zafa bos dan sekaligus adik ipar saya." kata Zen pada Leo. "ini Leo Fa, dia sopir dan asisten ku." sambung Zen memperkenalkan.
Zafa menjabat tangan anak muda itu. "Masih muda, berapa umur mu?"
" 20 tuan" jawabnya.
Zafa menatap Zen meminta penjelasan.
"Dia salah satu anak di panti asuhan bu Arsy, jadi aku sengaja membawanya untuk mendidiknya agar jadi anak yang pintar. Ayah juga setuju bahkan beliau juga ikut mengajar Leo di bidangnya." tambah Zen
"O, o... bagus itu."
"Sudah,aku harus kembali kekantor.Untuk pelayan besok sore mereka akan datang setelah lulus seleksi." potong Zen berusaha mengakhiri obrolan itu.
"Hahaha... kau ada-ada saja Zen, pakai seleksi segala." tawa Zafa.
"Itu penting Zafa,karena mereka akan mengurus adikku." tuntut Zen tegas
"Ia... ia... aku tau. Kau memang kakak yang protektif." putus Zafa mengantarkan kepergian Zen.
__ADS_1