
"Jangan bicara seperti itu,selama ini Uncle melakukan yang terbaik untuk kami.Uncle lah yang berkorban banyak dalam masalah kita," jelas Jira menggenggam jari pria tua itu.
"Uncle selalu merasa bersalah pada kalian berdua. Uncle harus kalah oleh keadaan yang membuat kita terpisah dan memikul beban itu sendiri-sendiri, padahal jika kita bersatu sebagai keluarga pastinya beban itu akan terasa ringan karena kita saling menguatkan," tambah Jhoni mengusap sudut matanya.
Jira semakin menggenggam erat tangan keriput itu seolah-olah memberikan kekuatan. "Semua sudah berlalu, sekarang kita sebaiknya menatap masa depan."
Jhoni tersenyum dan memperbaiki posisi duduknya, "Lalu, apakah kakak mu yang keras kepala itu setuju dengan pernikahan ini?" tanya Jhoni mengalihkan pembicaraan.
Jira menyodorkan secangkir teh hangat pada Jhoni. "Dia tidak aku berikan hak untuk menolak," jawab Jira menyeruput teh miliknya.
"Hahahaha... Uncle sudah tau itu, dia tidak akan membuatmu kecewa."
Jira mengangguk. "Aku tidak menawarkan kebahagian dalam pernikahan ini pada mereka berdua, tapi aku hanya ingin kak Zen memiliki seseorang yang bisa ada untuknya, menjadi istrinya, temannya, sahabatnya, dan juga partner dalam menjalani hidup, begitu pula sebaliknya.terkadang aku merasa kak Zen selalu menutup dirinya pada ku,dia tidak mau berbagi cerita atau bebannya."
"Dia akan memilih memikul nya sendiri," jelas Jhoni.
Jira menghela nafas dalam, "Itulah yang aku rasakan.aku tau bagaimana rasanya sendiri dalam menjalani hidup ini.aku berharap dengan pernikahan ini aku bisa memberikan perhatianku lewat istrinya nanti.kak Zen juga bisa merasakan apa yang aku rasakan sejak memiliki Zafa sebagai partner hidup."
"Uncle mendukung keputusan mu, apapun itu pasti kamu akan memberikan yang terbaik untuk kakak mu itu," putus Jhoni.
"Terimakasih, Uncle percaya pada ku."
"Sama-sama nak, Uncle juga berterimakasih kamu masih mau membicarakan hal ini dengan ku yang sudah tua ini."
"Uncle bicara apa? kita ini keluarga. meski hubungan Uncle dengan kak Zen tidak berjalan seperti ayah dan anak, tapi Uncle tetaplah ayahnya.jangan bicara seperti itu lagi!.
Oh ya, aku punya sesuatu untuk Uncle," sela Jira memberikan sebuah amplop coklat.
"Apa ini?" tanya Jhoni membuka amplop itu.
"Aku meminta kak Zen untuk membeli rumah Uncle dan bibi dulu.rumah itu juga sudah di renovasi seperti saat kalian berdua tinggal di sana.aku hanya bisa mengembalikan kenangan kalian berdua. tinggallah di sana, nikmati masa tua Uncle," terang Jira memandang lurus kedepan.
__ADS_1
"Terimakasih, tapi Uncle masih harus mengurus dan memimpin tim keamanan dan juga anak buah Uncle, apalagi Zafa juga memberikan tim keamanannya pada Uncle," balas Jhoni.
"Serahkan pada Dani, nanti aku akan bicara padanya.Uncle bisa memantau kesana tiap bulanya."
"Tapi - "
"Tidak ada tapi Uncle, nikmatilah hidup mu seperti orang tua normalnya, apalagi kau akan memiliki cucu. aku tidak mau nanti anakku mengunjungi mu saat kau melatih anak buah mu memegang senjata," paksa Jira sedikit ketus.
"Hahaha... baiklah, kau memang suka memaksa,aku dan Zen tidak dapat menolak kemauan mu."
"Sudah, mulai besok tinggallah dirumah itu, Uncle bisa bercocok tanam di sana, karena aku juga meminta kak Zen membeli lahan tambahan. jalani mimpimu seperti yang kau ucapkan pada bibi."
"Baiklah, aku akan menjadi orang tua normal seperti yang kau maksud."
Jira tersenyum senang. "Sebaiknya kita masuk kedalam untuk makan siang."
Jira mengandeng tangan pria tua itu masuk menuju meja makan.Jira sudah memang menganggap Jhoni sebagai ayahnya sejak Jira di tinggal oleh kedua orangtuanya.
"Sejak ta - "
"Baru saja," sela Zen memotong ucapan Zafa.
"Sebaiknya kita makan siang dulu, setelah itu kita lanjut mengobrol. ayo Lila," ajak Jira menarik tangan gadis itu yang tampak sungkan.
Dimeja makan Zafa dan Jhoni tampak mengobrol akrab tentang perusahaan yang akan segera menjadi satu.Sedangkan Jira sibuk melayani suaminya serta Jhoni.
Lila sendiri diminta oleh Jira melayani Zen, mulai dari mengambilkan nasi dan lauk serta menuangkan minum. meski ragu, tapi Lila melakukannya dengan segudang pertanyaan yang ada di benaknya saat ini.
"Kalian silahkan ngobrol dulu, aku dan Lila akan bicara di halaman belakang," ucap Jira usai makan siang meninggalkan para lelaki yang duduk di ruang tamu.
Jira menarik tangan Lila menuju tempat ia dan Jhoni mengobrol tadi.mereka duduk bersebelahan.
__ADS_1
"Lila, aku akan berterus terang untuk apa aku meminta Zen membawa mu kesini," kata Jira
"A-ada a-apa kak?" gugup Lila. sebenarnya dari tadi Lila sudah merasakan degup jantungnya bekerja dua kali lipat.ia merasakan ada sesuatu hal besar akan terjadi, tapi apa? apakah ada hubungannya dengan pekerjaannya di kantor? kalau ia, tidak mungkin ia harus disidang dirumah ini. pasti sudah dibicarakan di kantor saja batin Lila berdebat dengan pikirannya.
"Aku mau menikahkan kamu dengan Zen!"
"A-APA?" Lila tak salah dengar, ia berusaha menelan saliva nya,tapi sulit sekali rasanya.
"Apa aku harus mengulanginya agar kamu paham?" tanya Jira menatap lekat wajah Lila yang tegang.
Lila menggeleng cepat, meremas jari-jarinya karena rasa gugup, takut, kaget, bingung semua menjadi satu di dalam dada.
"Ma - maksud kak Jira dengan pak Zen?ke-kenapa?"
"Zen itu kakak sepupu aku, dan aku sedang mencarikan calon istri untuknya. kebetulan kemarin kita bertemu dan kamu juga sudah tak memiliki keluarga lagi, jadi aku pikir kalian pasti cocok. kalian akan saling mengerti karena merasakan yang namanya hidup sendiri," tutur Jira panjang lebar.
"A-apa aku boleh menolak perjodohan ini?" tanya Lila ragu dan takut menyinggung Jira yang memiliki niat baik untuknya.
"Berikan aku alasan kamu menolak pernikahan ini?" tanya Jira tegas.
"Kami belum saling mengenal dan tidak saling mencintai," jelas Lila tertunduk sambil meremas jari jemarinya.
"Kalian bisa mengenal dan saling mencintai setelah menikah.ada alasan lain?"
Lila menggelengkan kepalanya yang masih tertunduk. ia tak setuju dengan perjodohan yang mendadak ini, tapi ia juga tidak punya alasan lain untuk menolaknya.Lila hanya bisa berharap laki-laki itu menolak perjodohan ini.
"Kalau tidak ada alasan lain, itu tandanya kamu setuju dengan pernikahan ini," tekan Jira menyimpulkan.
"Tapi kak, ba-bagaimana dengan pak Zen, dia pasti menolak," kilah Lila berusaha keluar dari masalah perjodohan ini.
"Dia setuju."
__ADS_1
Tubuh Lila seketika terasa lemah,harapan satu-satunya agar perjodohan ini tak terjadi hilang sudah.kenapa pria asing itu menerima perjodohan ini? pikir Lila.