Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 115


__ADS_3

Jira membalik tubuhnya lalu memeluk erat sang suami.


"Kenapa menangis?" tanya Zafa membalas pelukan sang istri.


"Aku nangis terharu dan bahagia," jawab jira di dada Zafa.


Zafa tersenyum lalu merenggangkan pelukan mereka.


Cup


Zafa mengecup sekilas bibir istrinya. "Aku nggak tau mau kasih kamu apalagi, karena tanpa aku kamu bisa memiliki segalanya, tapi tanpa kamu aku nggak akan bisa memiliki segalanya.Ini hadiah dari aku atas semua pengorbanan kamu, maaf cuma hadiah sederhana yang bisa aku berikan karena sampai kapan pun pengorbanan seorang istri jauh lebih besar dari seorang suami."


"Hiks... hiks... hiks... Terimakasih, tapi kamu juga banyak berkorban buat aku, maaf kalau aku nggak bisa kasih kamu apa-apa, maaf kalau aku selalu bikin kamu repot."


Zafa menekuk satu lututnya di hadapan Jira.


"Hadiah terbesar dalam hidup aku adalah ini," kata Zafa memegang perut buncit istrinya. "Merekalah hadiah terhebat dalam hidup aku, tanpa kamu mereka nggak akan bisa bertahan disini," tambah Zafa mencium perut Jira. Kemudian ia mengeluarkan satu kotak kecil persegi warna hitam di dalamnya terdapat satu cincin berlian yang juga di pesan khusus untuk sang istri.


"Mungkin terdengar sangat kuno, tapi ini adalah yang sebenarnya dan aku tidak membual. Cintaku hanya kepadamu istriku, kamu adalah cinta pertamaku dan terakhirku. Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku bisa seperti ini? Aku berani memilihmu untuk yang terakhir karena kamu adalah pembawa energi dalam hidupku. Kamu selalu menemaniku dalam suka maupun duka dan mendukung ku dalam perjuanganku. maukah kamu tetap berada di sampingku sampai maut memisahkan kita dan maut pula nantinya yang akan mempersatukan kita di surga?"


Jira mengangguk memberikan tangan kanannya,Zafa menyematkan cincin itu di jari tengah sang istri lalu ia kembali memeluk wanita yang tengah mengandung anaknya itu.Jira masih saja menangis di pelukan Zafa.


Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan dan juga ikut terharu karena suasana romantis itu.


"Cium... cium... cium"


Sorak sorai orang-orang dan para penari tadi yang membantu Zafa memberikan kejutan untuk sang istri.


"Jangan by, malu," rengek Jira mendorong dada suaminya.


"Ini permintaan mereka loh."

__ADS_1


"Sebentar ya," kata Jira dengan raut wajah malunya.


Zafa pun meraih tengkuk sang istri melahap lembut bibir merah Jira sebagai ungkapan rasa sayang dan cintanya.


"Yea"... sorak orang-orang bertepuk tangan. lalu letusan kembang api terdengar di langit sebrang sana.Zafa menyudahi aksi ciuman itu dan membawa sang istri kedalam pelukannya sambil menikmati indahnya kembang api yang berwarna warni.


🍀🍀🍀


Kini mereka sudah berada di kota J. Zafa juga sudah mulai kembali bekerja. Semua aktifitas mereka lakukan kembali dengan normal. Tak ada lagi hal atau masalah yang menganggu. Begitu pula dengan pernikahan Zen dan Lila kedua pasangan itu semakin hari semakin tampak mesra dan lengket seperti anak abg yang baru saja jatuh cinta.


Zafa dan Jira hanya sedang sibuk menghitung hari menunggu kelahiran anak kembar mereka.Hari-hari mereka lewati dengan indah dan damai juga penuh kebahagiaan.Zavier dan Fanya juga sedang asik menikmati masa tua mereka.sambil menunggu kelahiran cucu mereka memilih jalan-jalan keluar negri.


Tak terasa waktu bergulir begitu cepat kehamilan Jira sudah masuk usia 9 bulan. Zafa sudah mempersiapkan segala kebutuhan sang istri dan juga anak-anaknya. Zafa juga membentuk satu tim dokter untuk menangani Jira dan anaknya nanti saat melahirkan dan setelah melahirkan.


"Kenapa?" tanya Zafa saat menemukan Jira yang masih asik berdiri di halaman belakang rumah mereka.Belakangan ini Jira lebih sering menghabiskan waktunya di sana saat sore hari menikmati pemandangan matahari terbenam dan membiarkan angin pantai membelai wajah dan menerbangkan rambutnya.


Zafa memeluk istrinya dari belakang tangannya mengelus perut buncit Jira.


"Ngak tau kenapa by, belakangan perasaan ku tak enak,selalu gelisah," jawab Jira dengan tatapan fokus ke depan laut luas.


Setelah makan malam Jira dan Zafa pun langsung beristirahat di kamar.Belakangan Jira juga tak bisa tidur nyenyak, ia hanya balik kiri dan kanan di atas kasur dan saat pagi menjelang matanya baru bisa terpejam karena kelelahan akibat begadang.


"Kakak kenapa?" tanya Lila. Siang ini ia datang berkunjung kerumah Jira.


"Ngak tau La, perasaan aku gelisah tak menentu," jawab Jira.


"Kakak takut sama proses persalinan? kan kata dokter Kakak bisa lahiran normal."


"Bukan itu, untuk masalah persalinan aku sangat siap baik normal atau secar, tapi entah lah aku juga nggak ngerti La, perasaan aku gelisah apalagi saat melihat Zafa aku semakin tak tenang," tutur Jira menghela nafas.


"Sebaiknya Kakak bicarakan sama Mas Zafa,kalau ada rasanya sesuatu yang membuat perasaan Kakak galau," saran Lila

__ADS_1


Jira hanya mengangguk.


Saat sore hari Jira kembali berdiri di halaman belakang. Baginya berada di sana dapat membuat suasana hatinya sedikit lebih baik.


"Sayang," panggil Zafa memeluk istrinya dari belakang.


"Hubby"


"Hemm"


"Kalau nanti sesuatu terjadi pada aku dan anak kita siapa yang akan kamu pilih?" tanya Jira dengan tatapan lurus kedepan.


"Kamu dan anak kita sama-sama penting,jadi aku akan memilih kalian berdua."


"Pilih salah satu by!"


"Tidak bisa sayang! aku nggak bisa memilih anak kita karena aku butuh kamu dan aku juga nggak bisa memilih kamu karena mereka adalah kita," jawab Zafa yakin.


"Apapun yang terjadi nanti by, aku mohon tolong pilih anak kita ya, jaga dan rawat mereka. berikan mereka kasih sayang dan cinta yang lebih dari kamu mencintai aku," pinta Jira menatap dalam mata suaminya.


"Tapi-"


"Please aku mohon, jangan pilih aku karena aku pastinya akan menyesal nanti dan akan sangat membenci kamu," tambah Jira mengelus rahang Zafa.


Zafa menghela nafas panjang. "Baik, aku akan memilih anak kita," jawab Zafa sedikit terpaksa.


"Janji?"


Zafa mengangguk. "Janji".


Malam harinya Jira sudah dapat tidur dengan nyenyak kali ini.Mungkin hatinya sudah tenang akibat pembicaraan tadi dengan Zafa. Jira merasa gelisah dan beban di hatinya hilang begitu saja saat sang suami sudah berjanji akan memilih anak mereka apapun yang akan terjadi.

__ADS_1


Tapi kini giliran Zafa yang tak dapat tidur, permintaan Jira tadi membuat hati dan pikirannya tak tenang.Sungguh Zafa menjadi tak tenang seakan ada hal buruk yang akan menimpa Jira, tapi apa?


Sudah berkali-kali Zafa membalik tubuhnya mencari posisi agar dapat tidur malam ini, tapi tetap saja perasaan gelisah menjalar di hatinya.


__ADS_2