
Tristan bicara pada Zavier , Fanya dan bu Arsy. mereka berfikir mungkin keadaan Jira semakin memburuk. lalu ia segera pergi keluar gedung meninggalkan pesta.
Zafa segera menganti baju sang istri dan menggendongnya kebawah menuju mobil dimana Tristan sudah menunggunya disana.
"jira kenapa?" tanya Tristan dibalik kemudi.
"gue nggak tau, tiba-tiba dia histeris saat kita lagi coba... " Zafa tak meneruskan ucapannya.
seakan mengerti Tristan memilih menelpon satu dokter di rumah sakit milik Farjana.
dirumah sakit Jira lansung di tangani oleh dokter yang sempat di hubungi Tristan tadi.
Zafa tampak mondar-mandir menunggu di depan UGD.
"nih, lo pakai jas gue" kata Tristan melempar jasnya pada Zafa.
"buat apa? gue nggak butuh ini" balas Zafa kesal melempar lagi jas Tristan.
Tristan menghembuskan nafas kasar. "itu buat tutupin merah-merah di leher sama dada lo" kata Tristan kesal menunjuk penampilan Zafa yang masih memakai kemeja tapi sudah berantakan dan tak berkancing.
Zafa menundukkan kepalanya memeriksa tampilan dirinya. "ah, sial gue lupa ganti baju lagi" decak Zafa kesal.
10 menit menunggu dokter Sachi yang menangani Jira keluar dari UGD. dan langsung di hampiri oleh Zafa untuk mengetahui kondisi istrinya.
"bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Zafa khawatir.
"kondisinya baik-baik saja, sebentar lagi juga akan sadar. tapi setelah saya baca rekam medisnya, sepertinya istri anda mengalami trauma. besok kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut agar kita tahu sejauh mana trauma yang di alami istri anda" jelas dokter Sachi.
Zafa mengangguk "terimakasih".
dokter Sachi pergi meninggalkan Zafa dan Tristan.
" aaaarrrrggghhh.... brengsek, bajingan" umpat Zafa memukul dinding tembok di depannya.
__ADS_1
Tristan pun berusaha menenangkan Zafa. "hey fa, lo tenang dong" bentak Tristan menahan Zafa yang mengamuk.
"gimana gue bisa tenang! gara-gara bajingan itu istri gue sekarang harus trauma" jawab Zafa gusar meremas rambutnya.
"ok... ok, gue paham sekarang lo kesal dan marah. tapi lo juga harus tenang kendalikan emosi lo. saat ini Jira butuh lo! sebagai suaminya lo harus bantu Jira agar ia secepatnya bisa sembuh. untuk masalah Miko, biar gue yang urus. gue udah awasi dia cuma nunggu waktu yang tepat untuk menangkapnya" terang Tristan menenangkan Zafa.
Zafa menarik nafas dan menghembuskan nya menenangkan dirinya yang sempat terbawa emosi. "makasih lo udah bantu gue, sorry tadi gue bentak lo" pinta Zafa.
"it's ok bro, kita saudara. gue pulang dulu. besok pagi gue kesini bawa perlengkapan lo sama Jira" jelas Tristan menepuk pundak Zafa.
Zafa mengangguk "soal Jira yang mengalami trauma lo jangan bilang sama bu Arsy ya, gue nggak mau beliau bingung dan khawatir sama kondisi Jira" pinta Zafa.
Tristan mengangguk dan mereka berpisah di lorong rumah sakit. Tristan kembali kehotel dan Zafa menemani istrinya di ruang rawat VPIP.
"eeeeuuugghhh.... " lenguh Jira sadar dari pingsannya. Zafa membantu istrinya untuk duduk di atas ranjang.
"are you ok?" tanya Zafa memastikan keadaan sang istri.
"ini minum dulu" Zafa menyerahkan segelas air minum pada Jira dan membantu sang istri untuk meminumnya.
"kok kita dirumah sakit?" tanya Jira yang sudah sadar sepenuhnya. "bukannya tadi kita dikamar hotel!? " tanya Jira coba mengingat
Zafa mengelus punggung Jira menenangkan sang istri. "tadi kamu pingsan! kamu nggak inggat kalau tadi kamu histeris?" tanya Zafa.
"histeris? aku nggak paham? terus kenapa aku sampai pingsan?" tanya Jira bingung dengan kondisinya.
Zafa membawa Jira kedalam pelukannya. "kamu nggak apa-apa kok. besok pagi biar dokter yang menjelaskan. sekarang kita istirahat" ajak Zafa. "kamu pasti capek kan" sambungnya lagi melepas pelukan."sekarang kita tidur, aku temani kamu tidur disini" jelas Zafa menepuk kasur brankar.
Zafa membawa sang istri berbaring di atas dada bidangnya. ia terus mengusap puncak kepala Jira. pandangannya nanar menatap langit-langit kamar inap Jira. ia tak menyangka bahwa kondisi istrinya bisa seburuk ini akibat kejadian itu.
malam ini malam yang sangat melelahkan buat Zafa. melihat istrinya yang sudah tertidur lelap. ia pun mencoba memejamkan mata, melepas lelah dan penat badan,hati serta pikirannya.
pagi harinya bu Arsy mama Fanya sudah berada di rumah sakit untuk menjenguk Jira.
__ADS_1
"Jira kenapa nak Zafa sampai harus dilarikan kerumah sakit?" tanya bu Arsy cemas.
"jira nggak kenapa-napa bu, Jira cuma kecapekan dan semalam Jira pingsan. karena aku khawatir jadi aku bawa Jira kerumah sakit" jelas Zafa berbohong pada bu Arsy.
"ibu nggak perlu khawatir, aku nggak apa-apa kok, nanti juga udah boleh pulang" sambung Jira menenangkan.
"pasti ibu khawatir nak, apalagi ibu harus buru-buru balik kepanti. maaf ibu nggak bisa jagain dan rawat kamu" jelas bu Arsy sendu.
"ibu kalau mau balik kepanti nggak apa-apa. disini ada saya sama Zafa yang akan jagain dan rawat Jira" sambung mama Fanya.
"saya jadi nggak enak merepotkan bu Fanya" sungkan bu Arsy.
"Jira itu kan istrinya Zafa anak saya, berarti Jira juga anak saya" jelas Fanya lembut.
"ya sudah kalau begitu, nak ibu pulang dulu sama kang Deden dan kelurganya. maaf ya ibu nggak bisa lama-lama. kamu tau sendiri panti nggak bisa ibu tinggal. sekarang kamu sudah jadi istri pesan ibu nurut sama suami ya nak, kalau ada masalah bicarakan baik-baik" pamit bu Arsy lalu memberi nasehat.
Jira mengangguk "ia buk! ibu hati-hati di jalan. sampaikan salam buat kang Deden dan keluarga juga anak-anak panti" balas Jira sendu.
mereka berpelukan tanda perpisahan siang ini karena bu Arsy yang sudah 4 hari di kota J harus segera kembali karena ada beberapa urusan panti yang harus di urusnya.
"pak Zafa bisa keruangan saya sebentar" tanya dokter Sachi memasuki ruang rawat Jira.
Zafa mengangguk dan pamit pada Fanya serta istrinya.
sampai diruangan dokter Sachi Zafa kaget karena Tristan sudah berada disana.
"ngapain lo disini? " tanya Zafa duduk di bangku samping Tristan.
"pak Zafa, karena kondisi trauma yang di alami oleh istri anda, saya sarankan anda membawa bu Jira ke psikiater terbaik. tadi pak Tristan sudah meminta rekomendasi dokternya pada saya" terang dokter Sachi
"lalu?" tanya Zafa datar.
"saya akan merekomendasikan dokter Miranda. dia adalah guru saya karena beliau sudah berpengalaman dalam menangani masalah trauma ringan sampai berat. saya sudah atur jadwal konsultasi untuk bu Jira, jadi besok kalian bisa langsung kesana" jelas dokter Sachi memberikan selembar kartu.
__ADS_1