
"sekarang istri saya sudah boleh pulang? " tanya Zafa.
dokter sachi mengangguk.
"terimakasih kalau begitu kami pamit" pinta Tristan lalu ia dan Zafa menuju ruang rawat Jira.
"makasih lo udah bantuin gue buat cari dokter terbaik untuk kesembuhan Jira" pinta Zafa pada Tristan saat mereka masih berjalan di lorong rumah sakit.
"santai aja kali bro, kita saudara dan keluarga sudah seharusnya saling bantu. untuk sekarang lo fokus aja pada pengobatan istri lo. untuk urusan kantor biar gue yang handle" balas Tristan santai memasukkan tangannya kedalam saku celana.
...🐱🐱🐱🐱🐱...
pagi hari Zafa dan Jira sedang di perjalanan menuju psikiater yang sudah direkomendasikan oleh dokter Sachi. 30 menit perjalanan mereka di antar oleh Tristan sampai di tempat prakter dokter yang bernama Miranda itu.
"mari silahkan masuk" ajak Miranda pada Zafa dan Jira karena ia sudah menunggu kedatangan mereka saat di kabari oleh Sachi salah satu anak didiknya di bidang sikologi.
"kita langsung saja" kata Miranda pada Zafa dan Jira. lalu Zafa mulai menceritakan yang di alami istrinya malam itu. Zafa juga menceritakan bahwa Jira pernah mengalami pelecehan seksual sekitar kurang lebih 1 bulan yang lalu.
"sesuai penjelasan kalian berdua, menurut saya traumanya bisa dibilang masih baru, karena tidak menganggu kesehatan bu Jira seperti mimpi buruk, tidur gelisah, keringat dingin di malam hari atau juga takut untuk bertemu orang-orang. jadi saran saya kita bisa mulai dengan terapi untuk penanganannya" jelas Miranda.
"gunanya terapi untuk apa dok?" tanya Zafa tak paham.
"terapis akan membantu korban mengatasi gejala traumanya dengan cara relaksasi, mengatur pernafasan, belajar berfikir positif, mengalihkan pikiran agar tidak stres. selanjutnya kita akan terapi kognitif untuk membantu mengubah pola pikir yang menggangu emosi dan terakhir terapi exposure untuk membantu korban dalam menghadapi situasi yang mengingatkan pada trauma" terang Miranda panjang lebar tentang terapi yang akan dijalani Jira.
Zafa dan Jira mengangguk paham.
"kapan kita bisa memulainya dok?" tanya Jira antusias.
"kita bisa mulai dari sekarang hingga 2 minggu kedepan. untuk awal jadwal terapinya sekali dua hari. saya tidak akan meresepkan obat-obatan karena saya rasa ibu Jira tidak membutuhkannya. yang ibu butuhkan adalah pengendalian rasa, emosi serta pikiran" jelasnya lagi.
__ADS_1
Jira dan Zafa bisa bernafas lega karena trauma yang di alami Jira tidak tergolong berat dan masih dapat disembuhkan dalam waktu dekat.mereka juga senang karena dokter Sachi benar-benar merekomendasikan dokter yang terbaik untuk mereka.
siang itu Jira memulai terapi pertamanya, Zafa pun terus mendampingi sang istri. setelah 1 jam 30 menit terapi sesi pertama selesai dan berjalan dengan baik.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
malam harinya Zafa kini tengah sibuk di ruang kerjanya memeriksa beberapa email yang dikirim Tristan. meski saat ini seharusnya ia cuti, tapi Zafa memilih akan kembali bekerja dan membantu Tristan. ia akan berangkat kekantor usai mengantar dan menemani Jira terapi.
karena sudah tengah malam Zafa kembali menuju kamarnya dan Jira. tapi ia mendapati istrinya itu sedang menunggunya di atas kasur.
"kok belum tidur? " tanya Zafa
"aku nungguin kamu" jelas Jira. "kita coba lagi yuk!" ajak Jira menggoda suaminya.
Zafa menggeleng "jangan sayang, lebih baik kita tunggu kamu benar-benar sembuh!" jelas Zafa takut sang istri akan kembali histeris."sekarang kita tidur ya, istirahat besok aku mau kekantor soalnya".
"kantor? bukannya kamu cuti?" tanya Jira
"maaf" pinta Jira lirih merasa bersalah.
Zafa merangkul Jira ke dada bidangnya. "nggak apa-apa, kamu harus fokus sama terapi penyembuhan ya, biar traumanya hilang" kata Zafa mengelus rambut panjang istrinya.
malam ini mereka habiskan hanya tidur bersama sebagai sepasang suami istri yang masih baru.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
sudah 2 minggu Jira menjalankan terapi dengan dokter Miranda.tapi Jira tak pernah tau apakah terapi itu benar-benar berhasil untuk mengobati traumanya. karena Zafa sang suami tak pernah mau menyentuhnya sedikitpun hanya sekedar untuk mencoba.
setiap harinya Zafa akan kembali ke kantor setelah menemani Jira menjalankan terapi.lalu pada malam harinya Zafa akan memilih menyibukkan diri di ruang kerjanya. lalu ia akan kembali kekamar untuk istirahat saat Jira sudah tertidur lelap.
__ADS_1
kadang Jira mencoba untuk menggoda Zafa. berbagai cara ia lakukan agar suaminya mau menyentuh dirinya sedikit saja, untuk mencari tau sampai dimana terapi yang dijalankannya berhasil.
tapi Zafa terus menolak dengan alasan ia takut kalau Jira akan histeris lagi dan Zafa tak mau jika ia harus menampar Jira kembali, itu sangat menyakitkan bagi Zafa.
malam ini Jira benar-benar bertekat akan membuat Zafa tak bisa menolaknya, karena sudah seminggu ini semua rencananya menggoda Zafa gagal.
Jira berdiri didepan cermin "aku harus bisa membuat Zafa menginginkan aku malam ini" gumam Jira lalu memakai handuk kimono dan mengikat talinya di pinggang.
Jira berjalan menuju ruang kerja Zafa yang ada di lantai bawah.
Ceklek... pintu ruangan itu dibukanya, Zafa sadar akan kedatangan istrinya namun ia pura-pura tidak tau.
"sayang... " panggil Jira menghampiri Zafa di meja kerjanya.
Zafa menghembuskan nafas kasar mengangkat wajahnya menatap Jira."sudah aku katakan, aku nggak mau melakukannya sebelum kamu benar-benar sembuh! jadi sekarang kembali kekamar dan urungkan niat kamu untuk kembali menggoda aku" jelas Zafa dengan suara sedikit meninggi.
"lalu aku tau dari mana kalau aku benar-benar sembuh jika kamu tak mau menyentuh aku sedikitpun" jawab Jira dengan suara yang tak kalah tingginya karena kesal Zafa mengusirnya.
dengan gerakan cepat Jira meraih tengkuk suaminya dan langsung ******* bibir Zafa mencoba membangkitkan gairah suaminya agar mau menyentuhnya malam ini.
Zafa mendorong Jira, hingga istrinya terhempas di atas sofa yang ada didekat jira."cukup Jira, cukup!" bentak Zafa. "aku nggak mau menyakiti kamu. lebih baik selesaikan pengobatan kamu sampai kamu sembuh, baru aku akan melakukannya" jelas Zafa yang sudah berdiri menahan emosi.
tak mau kalah Jira bangkit dari sofa dan berdiri menantang Zafa sang suami.
"sampai kapan? satu bulan, 2 bulan, 1 tahun, lalu jika aku tidak bisa sembuh kamu nggak akan menyentuh aku selamanya?" tanya Jira emosi.
Zafa mengusar wajah dan rambutnya. memijit pelipis karena kepalanya terasa berdenyut. lalu ia menghembuskan nafas kasar.
"jangan paksa aku, aku butuh waktu" jawab Zafa dingin.
__ADS_1
tanpa pikir lagi Jira melepas handuk kimono yang dipakainya dari kamar tadi. kini ia berdiri dengan polosnya di hadapan sang suami. itulah ide gila yang sejak kemarin dipikirkannya.