
Jira keluar dari ruangan HRD. ia sangat kesal dengan keputusan sepihak yang mendadak ini. kenapa dia harus jadi sekretaris Zafa, bukannya ada Tristan. lalu kenapa om Zavier minta ia yang jadi sekretaris Zafa. pertanyaan itu memenuhi pikiran Jira
sampai di ruang kerjanya Jira terduduk lesu.
"kenapa" tanya andika
"gue dipecat jadi kepala disain" jelasnya
"dipecat? " pekik rekan kerja Jira
"kok bisa? "andika
"kenapa? " siska
"nggak mungkin" Lila
"aku nggak percaya" banyu
"emang gitu, gue dipecat agar jadi sekretaris Zafa" jelas Jira kesal
Lila dan Banyu saling pandang. sepertinya mereka teringat akan perkataan Tristan kemaren
"nggak bisa gitu dong ra, lo nggak dapat pemberitahuan sebelumnya, jadi ini keputusan sepihak lo bisa protes lah" kata andika kesal
__ADS_1
Jira menghembuskan nafas kasar. "ia awalnya gue juga pikir gitu, tapi ini tu perintah dari presdir katanya, ya gue bisa apa" jawab Jira lesu
"haduh kalau perintah presdir, kita bisa apa" kata Siska
"nah itu lo tau. udah gue beres-beres dulu" kata Jira meninggalkan teman-temannya yang masih bingung
ruangan itu pun sunyi seketika karena mereka merasa sedih Jira akan meninggalkan mereka. padahal mereka merasa senang akan kehadiran Jira dan cara kerja Jira yang santai dan tak ada tekanan sama sekali. lalu sifat Jira yang sangat friendly membuat mereka merasa akan kehilangan.
"guys gue pamit ya, tapi kita masih satu gedung jadi masih bisa ketemu dan makan-makan bareng" pamit Jira memeluk teman-temannya
"huhuhu... miss Jira sering-sering main kesini ya" pinta Banyu sesegukan
"eh, jangan nangis lo! kayak gue pergi jauh aja. nanti gue coba omongin sama Zafa, biar gue bisa kerja disini lagi" kata Jira menenangkan Banyu
bbbrraaakk.... Jira menghempaskan kasar box barangnya di atas meja Zafa.
"lo yang minta sama om Zavier biar gue jadi sekretaris lo?" tanya Jira kesal
Zafa kaget dengan kedatangan Jira yang tiba-tiba dan langsung marah-marah.
"hey, tenang dulu, santai.! duduk" ajak Zafa yang masih bigung
Jira menghempaskan bokongnya kasar di atas sofa memeluk kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"kenapa lo pagi-pagi datang terus marah-marah" tanya Zafa dingin
"gue dipecat jadi kepala disain. dan gue diminta om Zavier buat jadi sekretaris lo" jelas Jira ketus. "ini pasti ide lo kan" tanya Jira kesal menunjuk Zafa
Zafa mengerutkan dahi "nggak gue nggak tau sama sekali. dan gue nggak pernah bilang ke papa" jelas Zafa yakin
"terus? "
"gue emang butuh sekretaris, soalnya Tristan ada kerjaan dari papa. jadi gue minta cariin sekretaris sama Tristan bukan sama papa"
lalu mereka berdua hening sejenak dengan pikiran masing-masing. dan kemudian mereka saling bertatapan
"Trisran" ucap mereka berbarengan
dengan langkah lebar Zafa memanggil Tristan lewat interkom.
"ada apa" tanya Tristan sampai di ruangan Zafa
"ini ide lo kan, minta om zavier biar gue jadi sekretaris Zafa" tanya Jira kesal menunjuk Tristan
"sorry, gue nggak tanya sama lo dulu, karena gue yakin lo pasti nolak. gue cuman nggak punya waktu buat cari sekretaris untuk Zafa karena kerjaan gue numpuk" jelas Tristan dengan wajah bersalah
"ya tapi gue tetap nggak suka, gue nggak mau ini bukan bidang gue" protes Jira
__ADS_1
"lo kan pernah jadi sekretaris papa. nah lo bantu Zafa dulu ya. soalnya gue mau pergi.ada kerjaan dari papa yang harus diselesaikan secepatnya.seenggaknya selama gue pergi deh, nanti kalau gue udah balik lo bisa kerja jadi kepala disain lagi" bujuk Tristan