
"Bagaimana keadaan nona Jira dokter?"
"Dia hanya mengalami shock, dan juga kondisinya lemah karena saat ini ia tengah mengandung," jelas dokter.
"Apa maksud dokter nona Jira hamil?" tanya Zen memastikan.
Dokter mengangguk. "Saya sudah resep kan obat dan vitamin tolong nanti di tebus dan juga ia harus di rawat satu hari," terang dokter.
"Baik dok, terimakasih," pinta Zen.
"aaakkhh... kenapa malah semakin bahaya," gusar Zen.
lalu ia mencoba menghubungi Toni.
tut... tut... tut..
π±ia Zen...
π±tolong kirim beberapa anak buah bos Tristan untuk menjaga nona Jira dirumah sakit. karena saya harus pergi sekarang,ini mendadak...
π±baik lah, tapi kau harus tunggu setengah jam..
Zen memindahkan Jira ke ruang VVIP. ia juga memilih berapa dokter dan suster yang akan merawat Jira. selain itu tak boleh ada perawat, dokter dan orang lain memasuki ruang rawat istri tuannya.
"Ingat hanya dokter dan suster ini yang boleh masuk. kalian harus pastikan tak ada orang lain yang memasuki ruangan ini.kalian jangan lengah" terang Zen pada anak buah Tristan yang akan menjaga Jira. "Jika ada yang terjadi segera hubungi saya, karena saya harus segera menemui tuan Zafa ini sangat genting," tambahnya lagi.
"Baik" jawab mereka berenam.
Zen menemui Jira terlebih dahulu sebelum ia pergi.
"Nona apa anda sudah baikan?" tanya Zen.
"hhmm... Zen kenapa saya disini?"
"Anda tadi pingsan nona dan juga anda tengah mengandung," jelas Zen
"Hamil?"
Zen mengangguk.
"Zen bantu saya, susul dia Zen! sudah 1 hari nomornya tak bisa di hubungi. Perasaan saya tak enak Zen," cicit Jira cemas.
__ADS_1
"Nona tolong tenangkan diri anda nona."
"Zen tolong bawa Zafa pulang, saya akan jelaskan semuanya pada suami saya Zen. saya sudah tak peduli dengan pria tua itu. yang saya pikirkan sekarang adalah anak dan suami saya," racau Jira memohon dan menangis.
"Baik nona, tapi tolong tenangkan diri anda dulu," bujuk Zen memberikan segelas air minum.
"Terimakasih Zen. lalu bagaimana dengan pria tadi yang berusaha mencelakai saya?" tanya Jira
"Dia sudah saya urus nona. sekarang nona dengarkan saya! untuk saat ini anda akan di jaga oleh anak buah bos Tristan. jadi tolong jangan kemana-mana tetap disini jaga diri anda dan kandungan anda. saya akan pergi menemui pria tua itu tuan Jhon. ada hal penting yang harus saya sampaikan," jelas Zen dengan serius.
"Apa semua baik-baik saja Zen?" tanya Jira khawatir.
Zen menggeleng. "Tapi saya akan kembali secepatnya nona. saya juga akan menghubungi tuan Zafa."
Jira mengangguk paham. untuk saat ini ia harus mendengarkan dan patuh pada Zen.
"Saya pergi dulu nona, dan ini tolong pakai kalung ini. disini ada alat pelacak. jika terjadi sesuatu,saya akan dengan mudah menemukan anda," tambah Zen menyerahkan sebuah kalung.
Jira menerima kalung pemberian Zen dan mengangguk menatap kepergian laki-laki itu.
Zen pergi meninggalkan Jira dengan perasaan khawatir. tapi ia juga harus menyampaikan informasi penting pada Jhoni. Zen hanya berharap Jira bisa aman di sana karena ia sudah menitipkan pesan pada Toni agar nanti juga ikut menjaga Jira kalau ia dan Tristan sudah pulang.
...πππππ...
Di Inggris entah kenapa Zafa terlihat mondar-mandir di kamarnya. sejak tadi di perusahaan perasaannya tak tenang. pikirannya hanya pada Jira sang istri. sudah 1 hari ia tak menghubungi sang istri karena masih marah dan kecewa. sengaja tak mengaktifkan ponselnya hanya ingin menenangkan diri dan juga fokus pada pekerjaan.
Ia mengaktifkan kembali ponselnya.
terdapat banyak sekali panggilan masuk dari Jira dan juga Zen. lalu Zafa mencoba menghubungi nomor istrinya.
tut... tut... tut... maaf nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan.
Zafa mencoba menghubungi Zen tapi ponsel pria itu tak aktif. ia juga menghubungi Tristan dan Toni. sama nomor mereka juga tidak dapat di hubungi. Zafa kembali menghubungi ponsel istrinya berkali- kali,menyambung tapi hanya operator yang menjawab panggilannya. perasaan Zafa semakin tak tenang.cemas dan khawatir,pasti ada sesuatu yang terjadi pikir Zafa.
di Inggris sudah jam 2 dini hari Zafa memutuskan akan kembali ketanah air esok pagi. malam ini lebih baik ia istirahat terlebih dahulu.
Pagi hari Zafa sudah bersiap menuju bandara. tangan kananya yang berada di inggris sudah menyiapkan keberangkatannya. sampai di bandara Zafa sudah di hadang oleh beberapa orang bertubuh kekar dengan stelan rapi.
"Selamat pagi Zafa," sapa seorang pria yang seumuran papanya tapi masih tampak segar dan awet muda.
"Siapa anda?" tanya Zafa dingin.
__ADS_1
"Perkenalkan saya Jhoni Purnama, orang yang anda cari belakangan ini," jawab Jhoni
Zafa tersentak ia kaget, ternyata orang yang selama ini dicari mendatangi dirinya.
"Bisa kita bicara?"
Zafa mengangguk.
"Kalau begitu, mari ikut saya," ajak Jhoni membawa Zafa masuk kedalam mobilnya. membawa mereka ke suatu tempat.
"Kemana anda akan membawa saya?" tanya Zafa
"Kita akan menuju markas saya yang ada di sini," jawab Jhon.
Zafa mengangguk. selama perjalanan dua orang itu hanya diam membisu. sebenarnya banyak pertanyaan yang ada di kepala Zafa. tapi ia akan menunggu orang tua di sampingnya ini menjelaskan padanya.
Sampai di sebuah perbukitan Zafa turun dari dalam mobil. ia mengedarkan pandangannya. tempat yang bagus ini di sebut markas pikir Zafa.
"Silahkan duduk," Jhoni membawa Zafa ke ruang tamunya.
"Langsung saja tuan! apa tujuan anda membawa saya kemari?" tanya Zafa basa-basi.
Jhon menyunggingkan sudut bibirnya. "Seharusnya saya yang bertanya pada anda, apa tujuan anda mencari saya belakangan ini?" Jhoni balik bertanya.
"Saya hanya menjalankan perintah dari orang tua saya, untuk mencari anak sahabatnya dulu.kami mendapatkan satu informasi kalau anda satu-satunya anak buah Gumalang yang masih hidup. makanya kami mencari kebaradaan anda," jelas Zafa datar.
"Untuk?"
Zafa mengangkat bahu. "Saya kurang tau pasti, tapi yang jelas kami akan membatunya!"
"Membantu, maksud anda ingin menyingkirkannya? apa anda juga tertarik dengan hartanya?" tuduh Jhoni.
"Maksud anda apa tuan? saya di sini memang ingin membatu. dan harta yang anda maksud saya tidak paham sama sekali." balas Zafa tak suka.
"Benarkah?"
"Sebaiknya anda bicara langsung dengan orang tua saya jika anda masih butuh penjelasan. mari ikut saya menemui orang tua saya," ajak Zafa. ia tak suka bertele-tele.tak ada waktu untuk menejelaskan. pikirannya kini sedang menuju sang istri.
"Baik, saya akan ikut dengan anda. mari kita berangkat menggunakan pesawat pribadi saya," ajak Jhoni di dampingi anak buahnya menuju halaman rumah mereka. ternyata markas itu benar-benar luas tampak luar hanya sebuah rumah hunian biasa. nyatanya mereka memiliki ruang bawah tanah yang di atasnya merupakan landasan terbang.
Saat mereka menuju landasan sebuah pesawat baru saja mendarat. tampak seorang pria turun dari sana dan buru-buru melangkah menghampiri Jhoni
__ADS_1