
"Sayang... bertahanlah," kata Zafa dengan raut wajah cemas. Mereka sudah berada di luar gedung.
"Ayo tuan, kita segera kerumah sakit," ajak Zen membuka pintu mobi juga tak kalah cemas kala melihat kaki Jira sudah berlumuran darah.
"Apa hubungan semua ini dengan Jira Zen?" tanya Zafa bingung tak paham.
"Tuan simpan saja semua pertanyaan yang ada di otak anda itu untuk sekarang," lalu Zen menghubungi Dani. "Saya akan kerumah sakit X, kosongkan jalanan segera," titah Zen yang sudah menjalankan mobil.
"Za... fa... " lirih Jira setengah sadar.
"Sayang... ia ini aku, bertahanlah!"
"A... anak... ki... ta" Jira terbata memegang perutnya.
"ZEN, CEPAT! JIRA PENDARAHAN" pekik Zafa sadar jika darah yang ada di kaki istrinya bukan karena luka.
Panik dan cemas Zen memacu roda empat itu dengan kecepatan tinggi. Untung saja Dani sudah menyabotase semua lampu merah di jalanan. Hingga Zen dengan mudah melesat menuju rumah sakit terbaik di kota J. Sesekali Zen memukul bundaran stir itu. Meluapkan kemarahan dan kekesalannya.Ia juga merasa bersalah karena meninggalkan Jira saat di rumah sakit.
"Aku mohon bertahanlah, kamu dan anak kita harus kuat," pinta Zafa berlinang air mata memeluk istrinya.
Tuhan... selamatkan lah istri dan calon anak kami. hanya engkau satu-satunya harapan hamba. jangan korbankan janin yang tak berdosa ini .
Doa Zafa di sela tangisnya. ia menggenggam kuat jari-jemari istrinya yang sudah mulai terasa dingin.
Sampai di depan rumah sakit suster dan dokter sudah menunggu kedatangan mereka. semua berkat Dani. Pemuda itu bekerja dengan cepat ia tau apa yang harus dilakukan dan tindakan apa yang akan di ambil tanpa menunggu perintah dari tuannya. itulah kelebihan Dani anak didik dari Jhoni Purnama.
Jira langsung dibaringkan di atas brankar. Zafa dan Zen mengantarnya sampai kedepan pintu ruangan UGD.dua orang itu tampak resah dan cemas dengan kondisi Jira. mereka tak bisa diam menunggu kabar dari dokter tentang kondisi Jira.bahkan Zen memukul dinding rumah sakit, penyesalannya begitu dalam karena meninggalkan adiknya seorang diri.
"Keluarga pasien?" tanya dokter mengagetkan mereka berdua.
"Saya suaminya" Zafa
"Saya kakaknya" Zen
Jawab mereka serentak.
"Pasien pendarahan dan ia kehilangan banyak darah. untuk sekarang janinnya lemah. kita harus melakukan transfusi darah segera," jelas dokter
"Apa kandungannya bisa bertahan dok?" tanya Zafa khawatir.
__ADS_1
"Setelah transfusi darah kita lihat perkembangannya 1x 24 jam. Jika janinnya masih lemah maka kita harus gugurkan. tapi kami akan usahakan yang terbaik, kami akan suntikkan vitamin dan juga penguat kandungan," terang dokter yang menangani Jira.
"Dok ambil darah saya, golongan darah saya cocok dengan adik saya," putus Zen yakin.
Dokter menatap Zen lama lalu ia menghembuskan nafas "adik anda membutuhkan 2 kantong darah, apa tidak ada keluarga lain? kalaupun anda bisa mendonorkannya,hanya 1 kantong. kami tak mau ambil resiko."
"Apa dirumah sakit ini tidak ada persediaan?" tanya Zen kesal.
"Maaf, untuk golongan darah nona Jira sedang kosong di bank darah kami."
"Cek golongan darah saya dok" usul Zafa cemas.
Dokter itu memanggil dua orang suster," silahkan ikut dengan suster mereka akan membantu anda."
Zafa dan Zen mengikuti para suster yang berjalan terlebih dahulu.
Akhirnya usai Zen mendonorkan darahnya.Jira mendapatkan kantong darah pertama. ia juga sudah dipindahkan keruang rawat VVIP.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Zen pada Zafa yang baru selesai melakukan pengecekan golongan darah.
"Tunggu sebentar lagi, mereka akan kembali. tenanglah! rumah sakit ini milikku, akan aku pastikan Jira mendapatkan perawatan terbaik," jawab Zafa duduk disebelah Zen.
"Sudahlah, sekarang kita harus berdoa demi keselamatan dia dan juga janin yang ada di kandungannya," Zafa mengusap wajah. ia pun sebenarnya merasa menyesal karena mengacuhkan sang istri.sekarang semua sudah terjadi, penyesalan tak akan berarti.
"Pak Zafa" panggil dokter.
Zafa menghampiri
"Setelah kantong darah pertama ini kita akan lihat perkembangan dari istri anda serta janin yang berada dalam kandungannya.jika tidak ada masalah kita akan lanjut transfusi darah untuk kantong kedua. setelah itu kita tunggu 1x24 untuk melihat perkembangan janinnya," terang dokter keluar dari ruang rawat Jira.
"Bagaimana kondisi istri saya saat ini?" tanya Zafa
"Istri anda masih lemah, jadi kami sengaja memberikan obat bius agar ia dapat beristirahat dengan tenang." Lalu dokter wanita itu melirik jam di pergelangan tangannya. "Dia akan sadar nanti sekitar jam 1 siang."
"Permisi" salah satu suster datang menyela. "Hasil tes nya sudah keluar pak,mari ikut saya," ajak suster itu.
Zafa mengangguk lalu ia menghampiri Zen. "Apa kau lemas? istirahatlah di kamar Jira. aku akan segera kembali," kata Zafa menepuk pundak Zen.
Zafa mengikuti suster tadi yang memanggilnya menuju sebuah ruangan. "Hasil tes golongan darah anda cocok dengan istri anda pak. jadi kita bisa lakukan donor darahnya sekarang," jelas dokter yang bertugas di sana.
__ADS_1
Zafa mengusap wajahnya mengucap syukur. Tuhan mempermudah kesusahannya saat ini.selesai mendonorkan darahnya,Zafa meminta pada suster untuk istirahat di ruang rawat istrinya. ia tak tenang jika meninggalkan Jira. meski ada Zen yang menjaga di sana, tapi kejadian tadi pagi masih terbayang di ingatannya.
"Mama,Papa?" heran Zafa saat menemui kedua orang tuanya di ruang rawat Jira.
"Zafa" panggil Fanya menghampiri dan memeluk anak semata wayangnya. "mama dan papa langsung pulang saat Tristan mengabarkan Jira di culik".
"Sebenarnya apa yang terjadi Zafa?" tanya Zavier.
"Sebaiknya kita tunggu orang yang akan menjelaskannya. aku juga masih bingung dan aku juga butuh penjelasan," terang Zafa
"Silahkan duduk tuan," timpal Zen. "Sebentar lagi ayah saya akan datang."
Zafa membawa Zen menjauh dari kedua orang tuanya, duduk di sofa kecil dekat jendela. "Apa semuanya sudah beres? bagaimana keadaan ayah dan anak itu? dan bagaimana keadaan Tristan serta tuan Jhoni?" Zafa memburu Zen dengan pertanyaan.
"Semua sudah aman terkendali tuan. adik anda dalam keadaan baik-baik saja, begitu pula dengan ayah saya. tapi ada beberapa anak buah kami yang terluka dan juga menjadi korban. tapi Dani sudah mengurus semuanya," jelas Zen dengan tenang.
Zafa menghembuskan nafas lega. "Syukurlah, apa Tristan juga akan datang kemari?"
"Sepertinya begitu tuan. dia akan datang bersama tuan Jhoni. karena dia sangat menuntut penjelasan."
"Bukan hanya dia, tapi saya dan keluarga," kata Zafa kesal.
"Ia tuan, saya paham. sebaiknya anda istirahat saja dahulu. saya akan menghubungi Dani," kata Zen bangkit dari duduknya dan berlalu keluar dari ruang rawat Jira.
...****************...
huhuhuhuhu..... π’π’π’ππππ
author sedih nih... udah beberapa hari ini pembaca novel ini menurun darastis...
author mau tanya... dimana letak kesalahannya..?apa dari segi cerita, atau cara penulisan?
author bigung sendiriπ€, sampai harus baca kembali panduan menulis novel dari MT.
komen dong... kritik, saran dan masukan dari kalian yang masih setia dan stay membaca dan menunggu novel ini up date tiap hari.
maaf kalau up datenya cuma 1 babπ. author kurang semangat karena kurang like dan juga komen.
tapi terimakasih juga buat yang sudah kasih like dan komen juga hadiahnya. terimakasih juga buat para pembaca tanpa jejak ππππ₯³π€©ππ
__ADS_1