
"ini rumah lo sama pak Zafa?" tanya Andika
Jira mengangguk "ia katanya ini buat gue".
"wwwaahh...beruntung banget ya kak Jira.udah dapat calon suami ganteng kaya lagi, terus mama mertua kayaknya sayang banget sama kak Jira" timpal Lila memuji
"alhamdulillah, aku benar-benar bersyukur bisa memiliki Zafa, tapi bukan karena hartanya. lebih ke hatinya sih, kalau Zafa nggak tulus mencintai aku mungkin sejak kejadian malam itu Zafa pasti udah mencampakkan aku" kata Jira penuh syukur.
"ia, benar juga kata miss Jira. tapi nggak salah sih miss Jira bisa mendapatkan pak Zafa, karena miss Jira sendiri juga punya hati yang tulus. aku aja kaget loh waktu kita pertama kali ketemu dan kerja miss Jira mau traktir kita makan dan miss Jira langsung akrab aja gitu sama kita" sambung Banyu
"ia ra, lo juga baik. apalagi sama kita-kita lo nggak pelit sama ilmu. bahkan lo mau membimbing gue dalam kerjaan tanpa lo takut tersaingi" timpal Andika
"santai aja,karena gue nggak punya keluarga disini, jadi kalian udah gue anggap kayak keluarga" terang Jira senang.
"hhmm... ra, kita pamit ke kantor ya, nggak enak ngobrol lama-lama" sungkan Siska mengakhiri pembicaraan mereka.
"cepat amat"
"kita nggak enak sama pak Zafa, lagian kerjaan tadi kita titip sama anak magang" sambung Andika
"sayang... ngobrolnya udah?" tanya Zafa yang datang menghampiri
Jira mengangguk "udah, mereka juga udah mau pamit langsung kekantor" jawab Jira mendongakkan wajahnya melihat Zafa.
"ia pak, terima kasih atas jamuan nya. kami balik kantor dulu" kata Banyu menundukkan kepala.
"hhmm...terimakasih juga sudah datang menjenguk Jira. " balas Zafa datar.
tak lupa mereka juga pamit pada Fanya.lalu mereka di antar oleh pelayan menuju lift.
...πππππ...
malam hari saat istirahat di kamar Jira kembali murung dan mengingat kembali perkataan Lila pagi tadi.
__ADS_1
"kamu kenapa sih sayang? dari tadi diam aja!" tanya Zafa membawa Jira kedalam pelukannya.
"aku mau minta maaf, aku menyesal!kejadian ini terjadi karena salah aku" kata Jira meneteskan air mata
"maksud kamu apa?" tanya Zafa lembut mengusap pipi Jira
"ini karena aku yang terlalu menjaga perasaan Miko. dan aku seolah-olah memberikan dia sebuah harapan. kalau dari awal pas Miko minta balikan sama aku langsung aku tolak dan menjauhinya, pasti semua ini nggak akan terjadi" tangis Jira pecah penuh penyesalan.
"ssssshhhhuuttt.... udah jangan nangis! kamu nggak perlu mengingat kejadian itu lagi.sekarang kita harus bersyukur karena kamu selamat dan sekarang kita bersama. ini sudah takdir jadi tidak ada yang perlu di sesalkan" jelas Zafa menenangkan Jira.
"tapi...
" nggak ada tapi-tapian lagi. sekarang kamu fokus untuk kesembuhan kamu biar kita bisa nikah secepatnya, aku udah nggak sabar mau pergi honeymoon" kata Zafa mencoba menghibur calon istrinya dan itu berhasil membuat bibir Jira tersenyum. "nah gitu dong senyum kan cantik! aku nggak mau kamu murung lagi karena mengingat kejadian itu, sekarang yang perlu kamu ingat adalah masa depan kita" jelas Zafa lagi memegang kedua pipi Jira.
Jira mengangguk "terimakasih. maaf aku cuma bisa bilang terimakasih berkali-kali, aku nggak bisa kasih kamu apa-apa" pinta Jira memeluk Zafa di atas kasur.
"nggak apa-apa sayang, aku cuma minta nanti setelah kita nikah kamu melahirkan anak-anak yang banyak buat aku" goda Zafa tersenyum
"iihh... kamu" kesal Jira memukul lengan Zafa.
"belum nikah udah ngomong anak, nggak sabaran amat sih" cibir Jira
"hahaha... ia aku emang nggak sabar! kalau bisa kita cicil sekarang aja" ajak Zafa mengoda
"iiihhh.... Zafa" geram Jira kesal memukul calon suaminya berkali-kali.
"aduh... sakit sayang... " kata Zafa tertawa. "aku tinggal tidur sendiri nih" ancamnya
"jangan" rengek Jira menghentikan aksinya.
"hahahaha... sini, kita tidur yuk! aku cuma bercanda biar kamu nggak sedih lagi. aku pasti akan melindungi dan menjaga kamu.untuk soal anak kita bahas nanti aja kalau udah sah" jelas Zafa membawa Jira berbaring.
Jira mengangguk "good nite sayang" ucap Jira mengecup pipi Zafa.
__ADS_1
"hhmm...malam juga, kamu tidur yang nyenyak ya" balas Zafa mengecup kepala Jira.
...π§π§π§π§π§...
2 minggu lebih sejak kejadian itu, kini kondisi Jira sudah pulih total. semua luka yang ada di tubuhnya juga sudah pulih dan hanya meninggalkan bekas. semua karena pengobatan terbaik dan perawatan intensif yang diberikan oleh Zafa untuk calon istrinya.
kondisi mental Jira juga sudah kembali seperti biasa. Jira sudah bisa melakukan aktifitas sendiri juga sudah berani untuk di tinggal Zafa bahkan Zafa sudah bekerja kembali di kantor sejak 1 minggu yang lalu. hanya saja untuk dimalam hari Jira akan merasa gelisah jika tak tidur dengan Zafa.
kini mereka sedang menunggu hari pernikahan yang tinggal 5 hari lagi.
mereka memilih mengadakan pesta pernikahan di gedung yang sama dengan griya tawang tempat tinggal mereka.Jira juga sempat di ajak mama Fanya kesalon dan spa untuk merawat diri agar rileks dan santai sebelum hari H.
Zafa juga tak kalah sibuknya di kantor. ia memang sengaja kerja lembur bersama Tristan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan agar nantinya setelah menikah ia bisa cuti selama 1 setengah bulan untuk mengajak Jira berbulan madu.
dan Tristan akan mengurus sisanya nanti saat Zafa sudah mulai cuti.Tristan terpaksa menunda pencarian Jhoni Purnama karena perintah papa Zavier dan juga permintaan Zafa yang tak mau bulan madunya terganggu nanti karena masalah pekerjaan.
untuk masalah Miko memang Tristan tak bisa menyentuhnya. disebabkan ia mendapatkan perlindungan dari seseorang yang juga memiliki kekuasaan dan juga penjagaan yang ketat. Tristan memilih menunggu saat-saat mereka lengah agar ia bisa menangkap Miko dan menyeretnya kehadapan Zafa.
siang harinya Jira memutuskan untuk mengantar makan siang untuk calon suaminya kekantor tanpa memberi tahu Zafa. ia selalu setia di temani oleh Toni. sampai di loby gedung perusahaan Jira langsung naik lift pribadi menuju lantai tempat ruangan Zafa dan Tristan.
"siang" sapa Jira membuka pintu rungan kerja Zafa memecah sunyi nya ruangan itu.
Zafa dan Tristan menoleh bersama ke arah suara. Zafa yang melihat kedatangan calon istrinya mengembangkan senyumnya.
"lagi sibuk baget ya?" tanya Jira menghampiri Zafa dimeja kerjanya.
Zafa menarik lengan Jira dan memeluk pingang ramping calon istrinya. seolah-olah ia sedang mengisi energinya kembali yang sudah terkuras akibat pekerjaan.
"ekhem... ekhem... " kata Tristan menyadarkan dua sejoli itu bahwa ada dia di sana. "woi... masih ada orang disini" teriak Tristan dari sofa di depan laptopnya.
"hehehe... " Jira dan Zafa hanya tertawa, lalu saling melepaskan pelukan.
jangan lupa tinggalkan jejak ya... likeπ dan komen π. terimakasih buat yang sudah kasih hadiah. πππ₯°π
__ADS_1
merupakan dukungan dan semangat buat aku.
selamat membaca ππͺπΌππ₯³π€©π·πΉπΊπΈ