
"udah yank" kata Jira yang sudah selesai memakai bajunya. lalu Zafa berjalan kearah kursi kerja mengambil jasnya lalu memberikan pada sang istri.
"udah" kata Zafa kesal pada Tristan.
"hhaahh... " Tristan benafas lega menurunkan tangannya.
"cih... kayak anak kecil aja lo pakai tutup mata segala" cibir Zafa
"gue nggak mau aja lihat adegan mesum siang-siang" jawab Tristan santai duduk di sofa setelah mengumpulkan map yang terjatuh.
"ngapain lo kesini? ganggu aja" kesal Zafa
"hehehehe.... cie... cie... yang lagi coba-coba" goda Tristan.
"sayang... aku malu" rengek Jira menyembunyikan wajahnya di punggung Zafa.
"hahaha... anak perawan malu-malu ketahuan lagi coba-coba" goda Tristan lagi dan itu sukses membuatnya mendapatkan bogem dari Zafa.
"aaaww... iiisshh sakit Zafa" teriak Tristan mengelus lengannya.
"lo kesini mau apa hah?" tanya Zafa dengan suara tinggi.
"ini ada beberapa laporan yang harus lo tandatangani" jelas Tristan memberikan map yang dibawanya tadi.
"itu aja" kesal Zafa karena merasa tak penting.
"ini... gue lagi berbaik hati" kata Tristan lagi memberikan sebuah tiket tour.
"apa ini?" tanya Jira
"minggu depan kalian boleh deh pergi honeymoon. gue udah daftarkan kalian untuk ikut tour Plam Jumeirah dubai" kata Tristan menyandarkan punggungnya di sofa.
"serius"? tanya Jira tak percaya.
"anggap aja sebagai hadiah pernikahan dari gue.semuanya udah gue atur, kalian tinggal berangkat" terang Tristan lagi.
"makasih ya" pinta Jira senang.
__ADS_1
"tapi emang kita bisa berangkat sayang? kan kamu masih terapi?" tanya Zafa pada Jira.
"hhmm... nanti aku tanya dokter sachi deh" jawab Jira senang.
"makasih Tris lo sampai kepikiran kesana" pinta Zafa.
"santai aja bro, gue tau kalian sedang banyak masalah dan lo fa juga banyak fikiran, jadi nggak ada salahnya kalian liburan untuk refreshing" jawab Tristan santai. "ok, gue balik lagi ya, sorry ganggu acara coba-cobanya, kalian bisa lanjut lagi" kata Tristan kembali menggoda kakak dan iparnya itu.
"TRISTAN" pekik Jira kesal melempar Tristan dengan permen yang ada di atas meja.
...🐾🐾🐾🐾🐾...
siang sudah berganti malam. waktu pun sudah menunjukkan bahwa ini saatnya untuk segera mengistirahatkan jiwa dan raga. ditambah cuaca malam ini juga kurang bersahabat. hujan deras dan angin kencang membasahi kaca jendela gedung mewah hunian Zafa dan Jira.
"kacanya mau ditutup atau di buka aja?" tanya Zafa pada Jira kala hendak menutup gorden jendela kamar mereka.
"buka aja sayang, aku suka lihat hujan" jawab Jira yang kini sudah duduk di atas kasur.
Zafa mulai memadamkan beberapa lampu kamarnya, menyisakan satu lampu kecil disudut ruangan untuk sedikit penerangan. lalu ia menyusul sang istri di atas kasur.
Jira tampak berfikir lalu ia memejamkan mata mencoba mengingat perasaan yang bisa menyebabkannya menolak sentuhan Zafa. "aku... merasakan ada penolakan besar dari dalam diri aku, dan itu nggak bisa aku kontrol sama sekali.semakin jauh kamu menyentuh aku, rasa itu semakin besar dan mulai menghimpit dada ku, lalu aku akan sulit untuk bernafas" jelas Jira menghembuskan nafas agar dirinya bisa tenang.
Zafa mengangguk paham. "lalu apa yang kamu rasakan saat tadi kita ciuman? itu cukup lama tapi kamu masih baik-baik saja?" tanya Zafa terus membelai istrinya.
"hhhmmm.... nyaman dan tenang karena aku... menginginkannya" jelas Jira tertunduk malu.
Zafa tersenyum mengangkat dagu istrinya "sekarang coba kamu sentuh aku, buat diri kamu menginginkan sentuhan aku" ajak Zafa meyakinkan Jira.
"aku?" tanya Jira menunjuk dirinya.
Zafa mengangguk "kalau kamu nggak bisa aku sentuh, maka kamu yang harus sentuh aku. buat diri kamu bernafsu" jelas Zafa yakin.
"tapi... " Jira tampak ragu.
"kalau kamu nggak yakin, kita bisa coba besok" kata Zafa tak mau memaksa.
Jira mengangguk "ok, aku akan coba" kata Jira menormalkan pernafasannya agar dirinya sedikit tenang.
__ADS_1
"sekarang kamu ikat tangan aku" pinta Zafa memberikan sebuah dasi pada istrinya.
"untuk apa? " tanya Jira tak paham.
"biar kita tau reaksi kamu kalau aku nggak sentuh kamu sama sekali.kita harus bisa menarik sebuah kesimpulan sayang, agar kita tau tindakan apa yang akan kita lakukan kedepannya" jelas Zafa
Jira mengangguk setuju, lalu ia mengikat tangan suaminya kebelakang.
"siap?" tanya Zafa meyakinkan Jira yang tampak mengigit bibir bawahnya karena takut.
"a.. aku mulai dari mana?" tanya Jira bingung dan gugup.
Zafa mengangkat bahu "terserah kamu, i'm yours" jawab Zafa santai.
perlahan Jira mulai ******* bibir Zafa lembut.dan dibalas Zafa selembut mungkin. bermain di sana menjelajahi rongga mulut suaminya.Jira juga mulai membuka kancing baju Zafa satu persatu hingga kancing terakhir Jira menyibakkan baju suaminya.sebentar ia memandangi dada bidang dan perut six pack Zafa.
"kalau kamu suka, kamu pegang" bisik Zafa didepan wajah istrinya.
Jira menarikan jari- jari lentiknya menelusuri garis -garis petak yang terukir di tubuh Zafa.apa benar yang dikatakan Zafa? entahlah saat ini Jira ingin sekali mencicipi tubuh sexy nan menggoda itu. apa nafsu Jira sudah terpancing? Jira juga tak tau ia hanya mengikuti hasratnya untuk mulai menggelitik leher keras suaminya. terlihat jakun Zafa naik turun karena menelan saliva nya menahan nikmat sentuhan Jira.
Zafa mulai bernafas berat menahan hasratnya yang sudah mulai memuncak. ia harus bisa mengontrol dirinya agar tak ikut menyentuh Jira sedikitpun. meski payah Zafa harus bertahan. ia memejamkan matanya erat berusaha menikmati permainan Jira.
Jira merasakan sesuatu di bawahnya sudah mulai mengeras dan panas. tanpa sadar Jira mulai memaju mundurkan pinggulnya disana.
"aaahhh... iiisshh... " desah Zafa nikmat.
Tanpa sadar Jira juga mulai membuka satu persatu pakaiannya. mulai dari baju dan celana, kini ia hanya menggunakan pakaian dalam dan kembali duduk di atas suaminya yang sedang panas dingin menahan gejolak nafsu.
Jira kembali ******* bibir Zafa tapi kali ini ia lebih kasar dan menuntut. tangannya juga mulai meremas dan mencengkram punggung suaminya kala gesekan dibawah sana terasa semakin nikmat.
mengecup kasar leher, dada serta bahu Zafa meninggalkan tanda kemerahan di sana.
"hah... hah... hah... " nafas Jira memburu karena gairahnya sudah di ubun-ubun.
"kamu mau lebih?" tanya Zafa serak
Jira mengangguk, lalu menuntun kepala Zafa agar bermain di leher jenjangnya. Jira meremas rambut suaminya menahan geli dan nikmat. kemudian ia menuntun Zafa agar turun menjelajahi 2 bukit kembarnya, tanpa sadar Jira juga sudah membuka pembungkus hitam nan melekat di sana.
__ADS_1