Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 40


__ADS_3

3 hari kemudian mereka berangkat menuju sebuah desa tempat panti asuhan Jira dulu dibesarkan.pemandangan yang disuguhkan selama perjalanan sangat menyegarkan mata dan fresh buat pikiran.terutama bagi orang-orang yang sibuk dan tinggal di kota besar seperti Zafa dan Jira. pemandangan sawah dan perkebunan Hijau serta udara yang segar membuat pikiran rileks dan tenang.


"ra, dingin banget disini" kata Zafa mulai menggigil.


"kan kemaren udah aku bilang.disini dekat pegunungan makanya dingin. kamu bawa jaketkan?" tanya Jira khawatir.


Zafa mengangguk "dalam tas di belakang" tunjuk Zafa.


"kamu berhenti dulu aku mau cari jaket kamu, sekalian biar aku yang nyetir. kamu istirahat aja ya" jelas Jira


Zafa menepikan mobilnya. Jira juga sudah memberikan jaket pada Zafa. "nih kamu pakai selimut juga, takut nanti masuk angin karena nggak biasa" jelas Jira perhatian membalut Zafa dengan selimut.


memang Zafa juga merasa capek karena sudah 2 jam lebih ia menyetir sendirian saat tadi pagi sekali mereka berangkat.di tambah ia melupakan sarapan pagi membuat Zafa semakin menggigil kedinginan.


"kamu yakin bisa nyetir?" tanya Zafa


"aku bisa" jawab Jira yakin. Zafa memang memilih membawa mobil alphard nya karena mengingat oleh-oleh yang dibawa Jira sangat banyak.


satu jam lebih mereka sudah sampai di halaman panti. Jira dan Zafa disambut oleh ibu dan anak-anak panti.

__ADS_1


"ibu" panggil Jira menghambur kepelukan ibu Arsy. "Jira kangen ibu" tanggis Jira pecah.


"loh kok nangis, baru ketemu ibu udah nangis malu sama adek-adek kamu" goda bu Arsy mengusap air mata Jira


"soalnya aku kangen banget sama ibu. aku pengen cerita, pengen curhat" jelas Jira sedih.


"hahaha... kamu udah besar tapi tetap cengeng. masuk dulu ajak itu,siapa namanya?" tanya bu Arsy menunjuk Zafa yang berdiri di belakang Jira


"kenalin ini bos Jira di kantor bu"


"Zafa" kata Zafa menyalami bu Arsy.


" buk, kang deden kemana? soalnya aku bawa oleh-oleh tapi masih di mobil. bisa tolong panggil kang deden?" tanya Jira mencari-cari orang yang dimaksud dengan matanya.


"ningsih" panggil bu arsy pada salah satu pekerja di panti


"ia bu" jawab ningsih dari dapur menghampiri bu Arsy di ruang tamu


"kamu tolong bikinin teh jahe buat si akang bule itu" tunjuk bu Arsy pada Zafa. "untuk anak saya yang cantik ini teh manis aja. sekalian panggil kang deden ya".

__ADS_1


" baik bu" jawab ningsih pergi kedapur


"bu, apa uncle ada datang kesini? " tanya Jira


bu Arsy menggeleng. "nggak ada, beliau terakhir kesini 4 bulan yang lalu saat kamu pulang dari inggris. kenapa emang? " tanya bu Arsy khawatir


"2 bulan ini aku coba hubungi nomornya tapi nggak aktif bu" jelas Jira sendu


"sabar kamu tau sendiri kan. beliau emang datang tiba-tiba,pergi juga tiba-tiba. nggak usah terlalu khawatir" jelas bu Arsy menenangkan


"ini minumnya" kata Ningsih membawa nampan berisi teh.


"terima kasih" kata Jira tersenyum manis


"wah, anak ibu cantik. aslinya lebih cantik" puji Ningsih. "cocok sama pacarnya, ganteng" kata Ningsih malu-malu.


"hahaha...si teteh bisa aja,terimakasih.tapi akang bule itu bukan pacar saya tapi bos saya di kantor" jelas Jira melirik Zafa yang sibuk dengan ponselnya."kang deden nya mana ya teh?


"maaf kalau gitu saya nggak tau" pinta Ningsih merasa tak enak. "kang deden habis dari kebun, bersih-bersih dulu. kalau gitu saya pamit kebelakang, permisi".

__ADS_1


__ADS_2