
"Tuan, saya sudah menemukan posisi nona Jira. Mereka berada di pusat kota.Di salah satu tempat umum, sepertinya mereka memiliki ruang rahasia di sana," jelas Dani pada Zen.
Zen mengangguk. "Aku pikir mereka akan membawa Jira ke suatu tempat jauh dan terpencil, tapi... kamuflase yang sangat bagus," kata Zen tersenyum sinis.
"Zen hubungi Toni, agar Tristan juga ikut mengerahkan anak buahnya," titah Zafa.
Mereka mendarat di kota J sekitar pukul 4 pagi dan Tristan juga berama anak buahnya sudah menunggu kedatangan Zafa beserta Jhoni.
"Sorry bro, gue terlambat," pinta Tristan menepuk bahu Zafa. "Tunggu... bukannya itu...!?" tunjuk Tristan ragu.
"Ia, dia Jhoni Purnama," jawab Zafa
"Bagaimana lo bisa...?"
"Sudah, nanti gue jelaskan.Sekarang kita harus segera menemukan Jira. baik lah tuan Jhoni apa rencana anda?"
"Zen, kau dan Zafa bertugas mencari Jira.Saat ia ditemukan, apapun yang terjadi padaku nanti kau pastikan Jira keluar dari gedung itu! paham kau Zen!? jangan buat aku mengulangi perintah nanti."
"Baik tuan Jhoni," Zen mengangguk.
"Anak muda kau ikut dengan ku, kita akan tangkap ayah dan anak itu hidup-hidup," kata Jhoni pada Tristan.
Tristan mengangguk paham.
"Kalian, kawal Zen, pastikan dia keluar dari gedung ini dengan selamat. dan kalian,masuk dan kepung gedung ini dari segala sisi," jelas Jhoni membagi tugas pada anak buahnya. "Sisanya ikut dengan ku."
"Bagaimana dengan polisi nantinya? pasti mereka akan datang, bagaimana pun kita akan berada di pusat kota," tanya Tristan.
"Itu akan di urus oleh Dani. Satu lagi Dan, saat aku minta nanti membuka jalanan untuk kami lalui, maka kau sudah bersiap dan jalanan sudah kosong," jelas Zen.
"Baik tuan muda, semua pasti beres di tangan saya" jawab Dani membungkuk.
"apakah kita bisa jalan sekarang?" tanya Zafa tak sabar ingin segera menyelamatkan istrinya.
__ADS_1
"Semua sudah siap tuan, kalian bisa langsung menyerang mall itu, apalagi sekarang masih pagi, pastinya kondisi sedang kosong.tapi kalian hanya punya waktu 1 jam sebelum mall itu di buka," terang Dani.
Mereka berangkat menuju salah satu mall yang terletak di pusat kota. mall itu sendiri adalah milik dari Reza Ariandra. dan ternyata ia juga membangun sebuah markas di bawah gedung mall itu.tujuanya untuk mengelabui musuh-musuhnya.siapa yang akan menyangka jika Reza bersembunyi di sana. pasti ia memilih bersembunyi dari musuhnya di suatu tempat yang jauh dan terpencil.
"Tuan apa kau siap?" tanya Zen pada Zafa saat mereka sudah sampai di depan gedung mall.
Zafa mengangguk. "Berikan aku senjatanya," minta Zafa dengan gerakan tangan.
"Kau yakin tuan?"
"Kau pikir aku tak bisa mengunakannya!? aku juga punya tim keamanan ku sendiri, hanya saja tak secanggih dan sehebat yang di miliki ayah mu itu," yakin Zafa dingin
"Baik tuan kita bersiap," Zen membantu Zafa mengenakan rompi anti peluru dan juga memberinya satu pistol.
"JALAN" perintah Jhoni lewat alat komunikasi semua anak buahnya mulai bergerak sesuai rencana yang sudah di atur oleh tuan mereka. sampai di ruang bawah tanah terjadilah baku tembak antara anak buah Reza. mereka langsung ambruk karena kedatangan lawan yang tak dapat prediksi.
Jhoni yang berada di barisan depan mengarahkan pistolnya pada lawan. tanpa ampun ia membunuh semua anak buah lawannya itu.
"SEMUA ANAK BUAH MU SUDAH MATI. KAU SUDAH TERKEPUNG."
Zen dan Zafa juga menyusul.
Reza keluar dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.dengan santainya ia berjalan menghadap Jhoni. "Apa kabar Jhon, sudah lama kita tidak bertemu. kau masih tampak muda dan bugar," kata Reza santai.
"cih... tentu saja! aku harus tetap muda dan bugar untuk bisa membunuhmu."
"Oh ya, lakukan sekarang Jhon, atau kau menyesal nantinya."
"SERAHKAN ADIK KU BAJINGAN," teriak Zen marah.
Reza menggeleng sambil tersenyum mengejek. "Sejak kapan posisi kau berubah menjadi kakaknya? Gumalang tak pernah menganggap mu sebagai ponakan. ia hanya menjadikanmu anak buahnya. sama seperti ayahmu, yang seperti kerbau di colok hidungnya. kau hanya orang yang bertugas menjaga putrinya.bahkan wanita yang kau anggap adik tak pernah tau jika kau kakaknya."
"JANGAN BANYAK OMONG KAU, SERAHKAN JIRA SEKARANG ATAU AKU BUNUH KAU SAAT INI JUGA," teriak Zen mengangkat senjatanya dan menodongkan pada Reza.
__ADS_1
"Jika kau bunuh ayah ku, maka dia juga akan mati," ancam Moses membawa Jira dan moncong pistol sudah berada di kepalanya.
"JIRA" pekik Zafa menghampiri istrinya.
"STOP, jika kau mendekat,wanita cantik ini akan mati di tanganku," potong Moses.
"DASAR PENGECUT!LEPASKAN DIA!" hardik Jhoni marah.
"Akan aku lepaskan jika dia menandatangani surat pengalihan harta itu," tawar Reza berjalan santai dan mengambil sebuah bangku dan duduk di hadapan Jhoni yang menahan amarahnya.
"Tuan para penembak jitu sudah masuk, mereka sedang mencari posisi, tolong ulur waktu sampai mereka bersiap" Dani bicara lewat alat komunikasi yang dipasang Jhoni di telinganya begitu pula dengan Zen. ayah dan anak itu saling berhadapan dan mengangguk.
"Baik, bawa surat-suratnya kemari, biar saya yang akan memintanya pada Jira," balas Zen.
Anak buah Reza yang tersisa memberikan sebuah map pada Zen. lalu ia berjalan menghampiri Jira yang tampak lemas dalam dekapan Moses.
"lepaskan!agar dia bisa menandatangani surat ini," ucap Zen menatap tajam pada Moses.
Jira menatap lekat Zen dengan wajah memelas, tapi Zen meyakinkannya seolah matanya berkata percaya padaku dan Jira menandatangani surat itu.
Moses dan Reza tersenyum penuh kemenangan. "Beres, sekarang berikan Jira dan surat-surat ini akan menjadi milik kalian," ujar Zen. Moses melepaskan Jira dan menurunkan senjatanya.
Jira berjalan mendekati Zen 1...2...3
Jira jatuh pingsan dan tembakan langsung melesat pada ayah dan anak itu tepat mengenai bahu mereka.
Zen segera membawa Jira. baku tembak kembali terjadi karena anak buah Reza ternyata masih ada yang bersembunyi.
"Cepat, Kita keluar dari sini," tutur Zen menyerahkan Jira kedalam gendongan Zafa. mereka bergegas keluar dari ruang bawah tanah itu meski musuh juga ikut menyerang, tapi Zen dengan cepat dan lihai mengarahkan senjatanya. membuat peluru pistol di tangannya bersarang di tubuh musuh.
dddoorr.... bbbuuumm... tembakan dan letusan granat menggema. pertempuran terjadi Reza yang masih tergolek di bantu oleh anak buahnya untuk kabur. sedangkan Moses berhasil di lumpuhkan oleh Tristan.
"KEJAR DIA" teriak Jhoni.ia dan anak buahnya mengejar Reza yang sudah memasuki lift untuk naik ke puncak gedung. karena di sana helikopter sudah menunggu untuk membawanya pergi.
__ADS_1