
"Syukurlah, semakin cepat semakin baik, jadi warisan dari Papa aku ada yang urus."
"Doa in ya,semoga aku bisa memimpin perusahaan besar ini."
"Pasti Hubby," jawab Jira memeluk Zafa menyandarkan kepalanya di dada bidang itu. "Tapi aku minta maaf ya,karena beban dan tanggung jawab kamu semakin bertambah kamu juga pasti bakalan makin sibuk , maaf juga aku nggak bisa bantu."
Zafa mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali. "Kamu nggak perlu minta maaf,yang terpenting sekarang pikirkan kandungan kamu. masalah perusahaan biar itu urusan aku dan juga Zen pasti akan membantu."
"Terimakasih Hubby, aku beruntung ada kamu di kehidupan aku ini."
"Sama-sama sayang, aku juga beruntung ada kamu yang mampu mewarnai hidup aku ini." balas Zafa memeluk istrinya.
🌱🌱🌱
Sesuai permintaan Jira. Lila yang sudah cuti dari pekerjaannya dijemput oleh Zen pada pagi hari.mereka akan berangkat bersama menuju rumah Jira dan Zafa.
Zen pastinya akan berangkat ke kantor dengan Zafa sedangkan Lila ia akan mulai belajar menjadi istri yang baik dengan calon adik iparnya.
Mulai dari belajar memakaikan dasi lalu memilihkan stelan baju kerja serta dasi yang cocok. Lila juga di ajarkan Jira tata cara memilih busana sesuai acara yang akan di hadiri. bukan hanya untuk Zen tapi untuk dirinya sendiri Lila juga harus bisa berpenampilan cantik dan elegan tapi tidak berlebihan.
Atas permintaan Zen Jira akhirnya menemani Lila memilih rumah baru untuk hunian Lila dan Zen nanti setelah menikah.
Jira juga membawa Lila memilih perabotan baru untuk rumah baru itu. semua harus lengkap termasuk barang pribadi seperti pakaian, peralatan mandi, juga perawatan wajah dan tubuh untuk Lila sudah mengisi lemari di rumah baru.itu semua atas pesan Zen jadi Lila tidak perlu lagi membawa barangnya untuk pindahan.
Mereka juga mulai mempersiapkan pernikahan. banyak hal yang dilakukan oleh dua wanita itu yang semakin hari tampak semakin akrab.tak terasa waktu berganti dengan cepat dan besok adalah acara peresmian ZF Corp dan GM Group bergabung menjadi JIZA Company.
"La, mendingan kita masak yuk, kamu bisa masak kan?" tanya Jira.
"Bisa kak, tapi aku takut deh nanti Mas Zen nggak suka masakan aku."
"Coba aja dulu!nanti kita antar makan siang ke kantor."
__ADS_1
Lila mengangguk. "Boleh, ayok kita masak."
Dua wanita itu melangkah kedapur yang ada di rumah Jira. rencananya mereka akan memasak untuk pasangan masing-masing.meski ada pelayan tapi Jira tetap kekeh ingin membuat makan siang untuk Zafa.
"Biar saya bantu nyonya," ucap satu pelayan.
"Tidak perlu. untuk kali ini biarkan saya memasak makanan kesukaan suami saya, sudah lama sekali saya tidak memasak untuknya," balas Jira.
Jira dan Lila mulai menyiapkan bahan makanan yang akan mereka masak.Lila juga tampak lihai dalam mengolah bahan-bahan mentah itu.
Sedangkan Jira merasakan tak enak di perutnya kala mencium bau bahan makanan yang sedang ia kupas.Seperti di aduk-aduk Jira merasa perutnya ingin segera mengeluarkan isinya.
"Huek... huek" Jira menutup mulutnya dengan telapak tangan. tak tahan lagi rasanya ia memuntahkannya di wastafel dapur.
"Kakak kenapa? mual-mual lagi?" tanya Lila khawatir membantu memijit punggung Jira.
"Nggak tau La, pas kupas wortel kok aku mual ya?"
Jira menggeleng. "Nggak, biar saya lanjutkan masaknya, cuma mual sedikit saya pasti bisa menahannya," tolak Jira.
Dengan keinginan yang kuat Jira masih meneruskan acara memasaknya.meski ia harus mual-mual dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Lila dan Yati serta pelayan lain tak mampu membuat Jira pergi dari dapur itu.sang nyonya yang keras kepala itu tak bisa dibantah jika kemauannya sudah kuat.
Satu jam lebih Jira menyelesaikan acara memasaknya begitu pula Lila.masakan itu juga sudah tertata rapi dalam rantang makanan.
"Kakak pucat loh,kita nggak usah kekantor ya," kata Lila.
"Aku nggak apa-apa Lila. kita tetap harus kekantor untuk mengantar makan siang ini," kekeh Jira.
"Tapi kalau nanti Kakak makin lemas gimana, dari tadi mualnya juga nggak berhenti," tutur Lila khawatir.
"Nanti mualnya hilang sendiri. ayok kita berangkat. ini sudah hampir jam makan siang," ajak Jira yakin.
__ADS_1
"Ok deh," Lila pun terpaksa mengikuti keinginan ibu hamil itu.
Selama di perjalanan Jira masih mual-mual.dengan setia Lila membantu memijit tengkuk Jira saat mereka harus berhenti di tepi jalan karena Jira tak sanggup menahan gejolak di perutnya. akhirnya mereka sampai juga di gedung perusahaan yang baru.karena semua karyawan sudah dipindahkan menepati gedung baru sebelum acara peresmian besok.
"Loh, kamu kok pucat sayang?" tanya Zafa saat istrinya dan Lila memasuki ruang kerja Presdir yang baru, kebetulan Zen juga berada di sana.
Jira hanya memaksakan senyum diwajahnya. "Aku bawain makan siang, spesial aku yang masak," jawab Jira lain agar Zafa tak khawatir.
"Terimakasih, duduk yuk kita makan," ajak Zafa menuntun Jira duduk di sofa.
"Mas, aku tadi juga masak makan siang buat kamu," kata Lila meletakkan rantang makanan di atas meja Zen.
Bibir pria yang biasanya tertutup rapat itu tertarik membuat sebuah senyuman.Ada rasa bahagia saat di perhatikan seperti ini pikir Zen. Lila membantu membuka rantang makanan dan memberikannya pada Zen.
"Terimakasih," ucap Zen.
"Ia Mas, semoga kamu suka."
Zen menganggukkan kepalanya. Satu suap makan siang spesial itu berhasil menggugah selera Zen.Ia yang biasa tak doyan makan menghabiskan seluruh isi rantang yang di bawa Lila tadi tanpa sisa.
"Kamu lapar atau doyan Mas?" tanya Lila sedikit heran, pasalnya makanan itu rencananya untuk mereka berdua,tampak Zen makan dengan lahapnya membuat Lila tak tega meminta bagiannya pada calon suaminya itu.
"Enak soalnya, besok masak lagi ya," jawab Zen sumringah.
"Huek... huek" Jira kembali merasakan mual di perutnya saat Zafa memaksanya untuk ikut makan siang. Zafa membawa sang istri menuju toilet yang ada di ruangan itu. setengah jam Jira memuntahkan makanan tadi lalu selebihnya hanya cairan bening yang ia keluarkan.
"Kamu kenapa sayang, kenapa bisa mual lagi?" tanya Zafa khawatir.
Lila dan Zen juga ikut khawatir melihat Jira yang sudah pucat pasi dan lemas tak mampu lagi berjalan kembali menuju sofa yang ditempati tadi.
"Pak Zafa, tadi pas masak Kak Jira mulai mual-mual, tapi dia tetap maksa mau terusin masaknya dan sampai sekarang mualnya makin parah," jelas Lila cemas.
__ADS_1
"Kan aku sudah bilang, kamu nggak perlu repot masak buat aku,dan sekarang lihat akibatnya, kamu mual-mual lagi," kata Zafa dengan lembut berusaha menahan kekesalannya pada sang istri yang keras kepala.