Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 112


__ADS_3

Benard dibantu berdiri oleh asisten pribadinya. Tujuannya datang hanya ingin mengucapkan selamat sekaligus mau meminta maaf pada Zafa secara langsung.Tapi nasib sial menimpanya hari ini.


"Saya datang kesini ingin meminta maaf," katanya membuka suara sambil menyeka darah dari sudut bibirnya. "Saya ingin meminta maaf langsung pada istri dan juga anda, Zafa," tambahnya lagi.


"Cih, kenapa baru sekarang kau datang meminta maaf? apa kau baru sembuh setelah aku pukuli malam itu?" ketus Zen tak terima.


"Maaf, saya tau salah. Butuh waktu buat saya untuk menemui Zafa dan istrinya.Saya malu," tutur Ben menunduk.


"Sebaiknya kita bicara di dalam.di sini masih banyak wartawan," saran Jhoni


Zafa yang tadinya hendak segera pulang menemui istri tercinta terpaksa harus kembali masuk kedalam gedung perusahaannya yang baru. Ini juga karena Benard yang datang ingin menyelesaikan masalah.


"Cepatlah bicara, aku tidak punya banyak waktu," ketus Zafa berkacak pinggang saat mereka sudah berada di ruang tamu yang ada di lantai dasar.


"Pertama, saya ingin mengucapkan selamat atas peresmian pengabungan perusahaannya Mr. Zafa dan Mrs Jira," ungkap Ben.


Zafa hanya mengangguk.


"Saya juga ingin meminta maaf pada anda atas kejadian malam itu. Saya dibutakan oleh *****, saya merasa tertantang saat istri anda bersikap cuek pada saya, dan itu pertama kalinya saya di acuhkan oleh wanita.Ditambah saat kita melakukan VC saya tidak sengaja melihat istri anda dalam balutan gaun tidur malam yang seksi, membuat saya semakin ingin mendekatinya.dan saat saya tau anda berangkat ke inggris, saya pun langsung terbang ke mari untuk menggodanya. saya pikir dengan kepergian anda dia tidak akan menolak saya, tapi ternyata saya malah di usir oleh istri anda malam itu. merasa tidak terima saya memaksanya. maaf, sekali lagi maafkan saya," jelas Benard membungkukkan badannya meminta maaf.


Zafa melirik Zen, Tristan, Papanya dan Juga Jhoni.


"Kalau saya tidak mau memaafkan bagaiman?" tanya Zafa memangku tangannya di depan dada.


"Apapun akan saya lakukan karena saya benar-benar menyesal. Tuhan sudah memberikan saya teguran, beberapa anak perusahaan saya sudah bangkrut dan juga wanita yang saya cintai meninggalkan saya," tambah Benard.


"Baiklah, saya akan memaafkan anda, tapi hukum akan tetap berjalan. anda akan saya laporkan ke kantor polisi dan anda harus menerima hukuman ini tidak boleh ada pengacara yang mendampingi anda," putus Zafa.


"Baik, saya akan menerimanya.Tapi bisakah anda bantu perusahaan saya setelah saya keluar dari penjara?"


"Sialan kau, sudah di maafkan masih minta imbalan lain," umpat Zen tak suka.


"Akan saya usahakan, tapi saya tidak janji," balas Zafa. "Karena masalah ini sudah selesai saya pulang dulu. Zen, kau taukan apa yang harus di lakukan," kata Zafa mengancingkan jas nya.

__ADS_1


"Siap tuan, akan saya lakukan," jawab Zen dengan anggukan kepala.


Zafa keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar dan tubuh yang tegap.Laki-laki itu masih saja terlihat tampan dan gagah meski sudah hampir memiliki dua anak.Ia menaiki mobil sport mahalnya mengemudi sendiri menuju kediaman tempat ia dan istri menghabiskan waktu berdua.


Jira tersenyum mendengar deru mesin mobil suaminya memasuki halaman rumah.Ia yang sedang bersantai di halaman belakang bergegas menuju pintu utama guna menyambut sang suami.


"Kangen," kata Jira langsung memeluk tubuh suaminya yang baru saja turun dari mobil.


"Manja! kita masuk dulu, disini panas," ajak Zafa merangkul sang istri menuju sofa di ruang keluarga.


"Gimana acaranya? lancar? tanya Jira membantu melepas jas dan dasi Zafa.


" Lancar, tapi tadi ada pengganggu yang datang."


"Siapa?"


"Mr.Benard yang melecehkan kamu saat di penthous."


"Dia datang mau minta maaf. ya, aku maafin tapi tetap aku lapor polisi biar dia mendapatkan hukuman."


"Terserah kamu lah," jawab Jira tak peduli. "Hubby nanti sore kita kebawah ya, jalan-jalan di pantai," ajak Jira semangat.


"Kamu nggak ingat kata dokter kalau seminggu ini nggak boleh beraktifitas di luar rumah," kata Zafa mengingatkan.


"Tadi aku udah telpon dokternya, aku bilang kalau aku lagi pengen main di pantai dan aku jelaskan kalau rumah kita dekat pantai, jadi di bolehin deh," jelas Jira antusias karena ia tak sabar untuk segera bermain pasir.


Zafa mengangguk setuju. "Kita makan siang yuk, aku udah lapar," ajaknya.


"Ayok."


🌴🌴🌴


Karena kondisi Jira yang masih harus banyak istirahat. Akhirnya pernikahan Zen dan Lila di gelar sederhana tapi tetap di laksanakan di hotel bintang lima milik Jira warisan sang papa atau sekarang sudah resmi menjadi milik Jira dan Zafa.

__ADS_1


Meski sederhana tamu yang berdatangan jumlahnya cukup ramai mulai dari rekan bisnis Jhoni dan Zen juga teman-teman Lila.Acara resepsi di adakan malam hari setelah akad nikah tadi siang.


"Kamu capek?" tanya Zen melihat Lila yang tampak melepas sepatu heels yang di kenakan.


"Lumayan Mas, katanya sederhana tapi tamunya banyak juga," jawab Lila.


"Kamu tau lah yang mempersiapkan ini siapa. Kalau dia nggak hamil mungkin acaranya bakalan lebih besar dari ini," tutur Zen membantu wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu duduk.


"Ia juga sih."


"Kamu capek ya La?" tanya orang yang baru saja mereka bicarakan.


"Sedikit Kak," jawab Lila


"Jangan panggil Kakak lagi.Sekarang kamu Kakak ipar aku," ingat Jira pada Lila.


"Nggak ah, aku lebih enak panggilnya Kakak," bantah Lila.


"Terserahlah. aku cuma mau bilang kalau kalian capek boleh langsung kekamar, ini kuncinya," Jira memberikan kunci kamar presidential suite untuk pengantin baru itu. dan pastinya sudah di dekor spesial sesuai permintaan Jira. "Baju ganti dan perlengkapan lainnya sudah ada di sana dalam satu koper."


"Tamunya?" tanya Zen


"Tamu sudah pada pulang, nanti kalau masih ada yang datang ada aku sama Zafa dan juga mama, papa, ayah juga Tristan.


" Tapi kakak juga harus istirahat loh," tambah Lila.


"Ia, nanti aku juga pasti istirahat. sana gih nikmati malam pertamanya, tapi nanti cerita ya sama aku gimana rasanya," bisik Jira di telinga Lila.


Wajah wanita itu langsung merona merah karena malu saat di goda adik iparnya.


"Ayok, kok malah masih ngobrol," kata Zen yang sudah jalan duluan.


"Hah, i-iia Mas," jawab Lila Gugup karena jantungnya sudah berdebar-debar karena ucapan Jira barusan.

__ADS_1


__ADS_2