
"Zen, siapkan mobil, kita kerumah sakit," titah Zafa yang khawatir dengan kondisi istri dan calon anaknya.
"Nggak usah, aku tadi udah minum obat, nanti juga hilang mualnya. kamu lanjut makan gih," tolak Jira pada suaminya yang masih tampak cemas itu.
"Tapi sayang... "
"Kamu nggak mau makan masakan aku?" tanya Jira memelas dan matanya seakan mulai mengeluarkan cairannya.
Zafa pun menghela nafas "Habis aku makan kita kerumah sakit," tawar Zafa tegas di depan wajah istrinya.
Jira mengangguk setuju.Tampak dengan buru-buru suaminya itu menghabiskan makan siang yang dibawanya tadi.
"Lila, bantu aku ke toilet, aku mual lagi," kata Jira menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Zafa pun semakin tak fokus pada makanannya.Dirinya merasa serba salah,kalau makanan tak habis istrinya pasti sedih, tapi bagaimana makanan ini mau habis kalau ***** makannya saja sudah hilang melihat wanita yang dicintai sedang muntah-muntah hebat di kamar mandi ruang kerjanya.
"Kak, Kak Jira" panggil Lila menahan tubuh ibu hamil itu yang sudah pingsan.
"Mas Zen, Pak Zafa kak Jira pingsan," pekik Lila menahan tubuh Jira agar tak jatuh kelantai.
Zafa dan Zen berlari menuju arah suara Lila.
"Jira" panggil Zen mengangkat tubuh adiknya keluar dari toilet lalu membaringkan di sofa.
"Zafa, hubungi dokter kandungannya Jira, kita kerumah sakit sekarang," panik Zen berlari keluar dari ruang kerja Zafa.
"Lila, kamu tolong hubungi Mama saya," pinta Zafa.
Setelah memastikan dokter kandungan Jira berada di rumah sakit, Zafa bergegas membawa sang istri dalam gendongannya turun kelantai dasar menggunakan lift pribadi.Tepat di depan gedung baru nan menjulang tinggi itu Zen sudah siap di sana membukakan pintu mobil untuk Zafa membawa Jira masuk.
__ADS_1
"Aku ikut ya Mas," kata Lila dan Zen mengangguk.
Di rumah sakit Zafa tampak cemas menunggu sang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.Sedangkan Lila dan Zen duduk di bangku tunggu.Sebenarnya mereka juga khawatir, tapi mondar mandir seperti Zafa pun tak ada gunanya. Lebih baik sabar dan berdoa semoga semuanya baik-baik saja.
"Pak Zafa," panggil dokter kandungan Jira.
"Bagaiman keadaan istri saya dok?" tanya Zafa dengan raut wajah tegang.
"Kita bicara diruangan saya," ajak dokter itu.
"Sebenarnya istri saya kenapa dok? kenapa mual-mualnya kambuh lagi?apa ada masalah dengan kandungannya?" tanya Zafa duduk menegakkan punggungnya di kursi depan meja dokter itu.
Dokter pun tersenyum. "Pak Zafa tenang, istri anda dan kandungannya baik-baik saja.untuk mual nya masih wajar Pak Zafa karena istri anda hamil anak kembar, jadi wajar gejala mual dan pusing masih ia rasakan sampai trimester kedua ini, atau mungkin bisa juga selama kehamilan," jelas Dokter tenang.
"Tunggu, apa dokter bilang? hamil anak kembar?bagaimana bisa? kami tidak memiliki keturunan kembar?lalu kenapa dokter baru kasih tau saya sekarang?"
"Pak Zafa ini namanya rezeki dari tuhan jadi anda syukuri saja.dan hamil kembar dapat di deteksi lewat USG di masa kehamilan usia 13 minggu, saat pemeriksaan darah dulu saya juga menemukan tingginya kadar hormon HCG bu Jira. Jadi saya memilih memastikannya saat usia kehamilan bu Jira 3 atau 4 bulan dan terbukti dugaan saya benar."
"Jadi sekang kondisi istri saya bagaimana? apa perlu di rawat?"
"Tidak perlu, bu Jira hanya lemas dan kekurangan cairan akibat muntah terlalu banyak. setelah cairan infus habis dia bisa pulang. Kalau nanti bu Jira masih mual,berikan minum teh jahe,itu dapat meredakan rasa mualnya.Kalau bisa untuk satu minggu ini bu Jira harus banyak istirahat ya, jangan sampai capek dan banyak pikiran."
"Kondisi anak-anak kami juga baik-baik saja kan dokter?"
"Janin dikandungan bu Jira sehat dan semuanya normal, berat badan mereka juga mulai bertambah.Tetap konsumsi susu ibu hamil serta vitaminnya dan 1 bulan lagi bisa kembali kontrol," terang dokter itu yang selalu sabar dan tenang dalam menjelaskan kondisi pasiennya pada keluarga.
Zafa keluar dari ruang dokter itu dengan raut wajah yang berbanding terbalik saat ia memasukinya.Sudut bibirnya yang tak henti tertarik membentuk senyuman, wajahnya yang berseri-seri membuat Zen dan Lila jadi penasaran tentang kondisi Jira yang sebenarnya.Gampang sekali Zafa mengubah raut wajahnya pikir mereka.
"Bagaiman kondisi Jira?" tanya Zen yang masih khawatir dengan kondisi adiknya.
__ADS_1
"Nanti gue jelasin,sekarang gue mau ketemu ibu dari anak-anak gue dulu," jawab Zafa menepuk pundak Zen dan masuk keruang rawat istrinya.
"Hubby" panggil Jira lemah saat Zafa mendekatinya.
Zafa membalasnya dengan senyuman mekar di wajahnya, lalu menggenggam tangan sang istri yang masih terbaring di brankar, menciumnya berkali-kali. tak lupa ia juga mencium kening Jira lembut dan tulus.
"Terimakasih," kata Zafa membuka suara.
"Buat apa by?"
"Kenapa kamu selalu bikin hidup aku seperti menaiki rollercoaster, saat aku bahagia berada di atas lalu kamu bawa kebawah dan aku merasa ketakutan, tapi kamu bawa aku naik lagi ke pucak yang lebih tinggi merasakan kebahagiaan yang lebih dari yang aku rasakan sebelumnya,"
"Apa sih sayang aku nggak ngerti, kamu ngomongnya pakai filosofi gitu!?" tanya Jira bingung.
Zafa terkekeh melihat wajah gemas sang istri yang tampak penasaran. "Kamu hamil kembar sayang,kita punya 2 baby."
"Kamu serius?" tanya Jira mendudukkan dirinya.
"Serius masak aku bohong, tadi dokter sudah jelaskan semuanya sama aku."
Jira langsung memeluk suaminya. "Ya Allah, Tuhan baik banget sama kita by, kasih kita rezeki lebih. Alhamdulillah," ucap Jira menangis harus di bahu Zafa.
Zafa juga ikut meneteskan air matanya. "Ia Tuhan memang baik sayang,ini adalah balasannya karena kita masih tetap mempertahankan anak kita yang hampir pergi dari rahim kamu."
"Aku benarkan by, kalau anak kita masih bisa bertahan,aku nggak memilih menggugurkannya saat itu karena keyakinan ku sebagai ibunya anak kita pasti kuat."
Zafa merenggangkan pelukan mereka. "Tapi kamu harus ingat, lain kali dengar omongan aku, jangan keras kepala.Jaga kandungan kamu, jaga anak-anak kita. kamu nggak boleh capek dan harus banyak istirahat," tegas Zafa mencolek hidung istrinya.
"Siap hubby, maaf ya aku bikin kamu khawatir,janji mulai besok aku akan dengarkan semua omongan kamu," balas Jira mengangkat tangan, jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruang rawat Jira terbuka.Tampak Fanya yang datang tergesa-gesa menghampiri anak dan menantunya. "Jira kenapa Zafa? ada masalah lagi dengan kandungannya?"