Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 41


__ADS_3

"teteh Jira" panggil kang deden pria 40 tahun yang dulu juga ikut membesarkan Jira.


"ini benar teteh Jira, ya allah gusti akang kangen tau teh" senang kang deden memeluk Jira. "apa kabar sehat? "


"Jira sehat kang, baik. akang sendiri bagaimana? masih urus kebun? " tanya Jira tak kalah senang


"ekhem... peluknya jangan lama-lama" sela Zafa tak suka


"ah,pacarnya teteh? ganteng sekali. kang bule nggak usah cemburu sama saya, saya udah punya istri. Jira ini cuma adik bagi saya, soalnya dulu waktu kecil suka ngekor kalau saya mau kekebun".kata kang Deden mengingat masa lalu


" ih, si akang. malu tau" rengek Jira."dia bukan pacar aku, tapi bos aku di kantor" jelas Jira . "itu aku punya oleh-oleh di mobil bisa tolong turunin?".


"hehe...maaf atuh kang bule saya salah paham" pinta deden cengengesan. "ashiap atuh teh" kata kang deden menirukan jargoan salah satu youtuber.


"ra kamu antar nak Zafa ke kamar ya, biar istirahat. ibu udah siapkan kamar buat kalian".nak Zafa istirahat aja dulu sebelum makan siang, di antar Jira ya, ibu mau ke dapur dulu" pergi bu Arsy menuju dapur menyiapkan makan siang.


"ayo, sekalian aku juga mau ganti baju".ajak Jira

__ADS_1


Zafa mengekor dibelakang Jira sambil mengangkat ponselnya tinggi mencoba mencari sinyal. " disini nggak ada sinyal ra? ".


" ada tapi susah, harus cari di luar kalau mau nelpon" jelas Jira membuka pintu kamar. "ini kamar kamu, nah di sampingnya kamar aku. kalau butuh apa-apa, ketuk aja pintu kamar aku. udah sana masuk nanti sore kita jalan-jalan keliling panti sekalian kamu mau cari sinyal kan".


sore harinya Jira mengajak Zafa mengelilingi panti yang memiliki halaman luas yang di tanami berbagai macam buah dan sayur. karena dekat dengan kaki bukit tanah di sana sangat subur jadi bu Arsy memang sengaja membuat perkebunan di halaman panti.agar anak-anak panti bisa belajar bercocok tanam dan nanti mereka juga bisa menikmati hasil dari kerja keras mereka.


sejak Jira dibesarkan di panti dulu.semua biaya dan kebutuhan panti di tanggung oleh uncle Jhon.setiap bulannya ia akan datang mengunjungi Jira dan membawa beberapa kebutuhan pokok serta membeli lahan untuk memperluas panti lalu membangun bangunan yang kokoh untuk tempat tinggal Jira dan anak-anak panti lainnya. tapi sejak Jira kuliah di kota besar Jhoni hanya sesekali datang kesana.tapi ia tetep mengirim uang sebagai donatur tetap di panti. bahkan sejak Jira sudah memiliki penghasilan sendiri ia juga tiap bulannya akan mengirim uang untuk kebutuhan di panti.


"kita kemana" tanya Zafa yang sedang mengekor Jira dari belakang berjalan di tengah-tengah perkebunan.


"aku mau ajak kamu ke sana" tunjuk Jira pada sebuah pondok kecil yang terletak sedikit di atas bukit.


"udah ikut aja,katanya mau cari sinyal kan! " kata Jira semangat yang terus berjalan meninggalkan Zafa dibelakang.


10 menit perjalanan dan sedikit pendakian mereka sampai di pondok kecil yang dimaksud Jira.


"sekarang kamu lihat" tunjuk Jira kebawah pada pemandangan hijau. disana berjejer perkebunan para warga. serta tampak juga beberapa rumah serta jalanan kecil yang hanya bisa dilewati sepeda motor. pemandangan yang langka atau bisa dibilang tak ada di kota.

__ADS_1


Jira duduk mengayunkan kakinya menikmati pemandangan dan angin sepoy-sepoy menerpa wajahnya yang cantik putih mulus dan merona merah di bagian pipi.


"dulu saat aku kecil, aku suka naik kesini cuma mau lihat pemandangan itu" tunjuk Jira kebawah. "lalu kang deden bikinin pondok kecil ini buat aku biar nggak kepanasan kalau ikut kang deden ngurus kebun" Jelas Jira mengingat masa lalu.


"apa yang bikin kamu sampai harus di panti kalau masih punya paman" tanya Zafa tak paham


"saat aku kecil aku cuma tau mama dan papa meninggal karena kecelakaan.uncle Jhon cuman orang lain yang dipercaya papa buat jaga aku, karena uncle Jhon nggak bisa rawat aku makanya dia titip aku sama bu Arsy lalu dia beli lahan untuk bikin panti, karena dulu panti hanya rumah kecil milik bu Arsy" jelas Jira yang tatapannya masih pada pemandangan yang dirindukannya.


Zafa hanya mendengarkan dan menanggapi dengan anggukan.


"aku jadi inggat soal pertanyaan kamu waktu kita makan di mall" kata Jira menghadap Zafa


"hhmm... itu. aku juga masih nggak paham dengan jawaban kamu! " jawab Zafa bigung


"aku tau kamu ragu sama aku" kata Jira yakin dan itu sukses membuat Zafa gugup.


"kamu tau dari mana" tanya Zafa ragu

__ADS_1


"cuma feeling aja. meski kita dekat tapi aku merasa ada pembatas yang kamu ciptakan sendiri. entah maksudnya apa? " jelas Jira sendu


"maaf"


__ADS_2