
"Tuan" sapa Zen menunduk kala melihat sang ayah datang bersama Tristan dan juga Dani.
"Bagaiman keadaan Jira?" tanya Jhoni dengan raut wajah cemas.
"Sebaiknya kita masuk kedalam," usul Zen.
Mereka semua masuk kedalam ruang rawat Jira. Pria tua itu langsung menghampiri Jira yang terbaring lemah di atas brankar.
"Maafkan uncle," lirih Jhon menahan air matanya.Ia merasa bersalah. Bagaimanpun Zen sudah sering mengingatkannya untuk segera menemui keluarga Zafa yang juga sekarang merupakan keluarga Jira. Untuk menjelaskan identitas asli wanita itu. Tapi ia masih tetap keras kepala, bahkan mencurigai Zavier papa Zafa.
"Bagaimana keadaannya Zen?"
Zen menghembuskan nafas "Saat ini keadaannya lemah. Dia juga kehilangan banyak darah karena pendarahan. Bayi dalam kandungannya juga lemah. jika dalam 1x24 jam tak ada perkembangan, maka terpaksa harus di gugurkan."
Tiba-tiba Zen meremas kuat krah baju ayahnya. "Sudah saya bilang akan membunuh anda jika dia sampai celaka. Sekarang lihat! bukan hanya dia yang menjadi korban, tapi janin yang belum bernyawa juga ikut menjadi korban akibat keras kepala mu itu. Apa kau puas tuan JHONI PURNAMA?" geram Zen dengan rahang yang mengeras.
Hal ini tidak akan terjadi jika saja Jhoni datang lebih awal dan menjelaskan semuanya. Tapi apa mau dikata.Memang penyesalan datang di akhir dan pastinya sudah tak berguna.
Jhoni hanya diam. Ia tau dan sadar betul seberapa besar sayangnya Zen pada Jira. Meski Jira tak mengetahui bahwa Zen yang selalu menjaganya selama ini adalah kakaknya. Meski sepupu, ia akan bertaruh nyawa demi keselamatan adiknya.
π flash back 25 tahun yang lalu....
"Ibu, siapa bayi mungil yang cantik ini," tanya Zen kecil yang berumur 5 tahun kala menjenguk istri pamannya melahirkan.
"Namanya Putri, Zen. Dia adalah adik kamu. Meski bukan lahir dari rahim ibu, tapi dia adalah adik Zen.Kamu harus janji sama ibu jaga adik putri ya! apa Zen mau?"
Zen kecil mengangguk setuju dan senang. "Apa aku boleh menciumnya?"
"Tentu, tapi kita tunggu adik Putri pulang kerumah ya, sekarang adik Putri harus di jaga suster dulu."
__ADS_1
Sejak saat itu Zen selalu ceria dan senang dengan kehadiran adik Putri.Setiap hari sepulang sekolah Zen akan datang dan menemani Putri bermain.
Sampai umur Putri menginjak 3 tahun ibunya Zen meninggal dunia akibat keracunan makanan.
"Inggat Zen, jaga Putri dengan nyawamu.semua orang yang ada di sekitar adikmu tidak satupun bisa dipercaya, mereka bahaya! ingat pesan ibu Zen."
Pesan terakhir dari sang ibu selalu terngiang di telinga dan di pikirannya. Setelah 1 bulan ibunya dimakamkan.Zen yang berumur 8 tahun datang menemui sang paman, Gumalang.
"Ada apa Zen?kenapa kau tiba-tiba menemui paman?" tanya Gumalang merunduk agar posisinya sejajar dengan ponakan kesayangannya.
"Mulai sekarang jadikan aku anak buah tuan Jhoni. Dan aku akan belajar apa yang diajarkannya pada anak buahnya itu," kata Zen dingin.
Gumalang terdiam,lidahnya kelu. "Tidak perlu Zen, kau cukup bersekolah dan bermain dengan adikmu. Biar mereka yang akan menjaga kau dan adikmu," jawab Gumalang lembut.
"Tanpa persetujuan mu atau ayah aku akan tetap menjadi anak buah tuan Jhoni. dan mulai sekarang aku akan memanggilmu tuan," kata Zen tegas lalu pergi meninggalkan pamannya yang terpaku.
Dimulai hari itu Zen berubah, keadaan menuntutnya untuk segera dewasa saat umurnya masih anak-anak. tak ada lagi waktu bermain dengan sang adik. kadang putri kecil menangis mencari keberadaan sang kakak. ia kesepian, kehilangan sosok yang selalu mengajaknya bermain.
sesekali Zen datang membawa mainan untuk sang adik, tapi ia akan bersembunyi dan mengamati dari jauh. ia juga kadang masuk kedalam kamar Putri kecil kala adiknya sudah tertidur pulas.
Zen yang awalnya selalu ceria. kini terlihat dingin dan datar. ia menjalani pelatihan yang tak sesuai dengan umurnya.awalnya Jhoni tak mau melatih anaknya. tapi karena tekat dan kegigihannya untuk melindungi sang adik, akhirnya Jhoni luluh dan ia turun tangan untuk menjadikan Zen seorang kakak dan pelindung yang tangguh untuk Putri di masa depan kelak.
"Aku tidak mau apa yang terjadi pada ibu juga terjadi pada adik ku," sergah Zen lantang menatap mata ayahnya tajam.
"Tapi kau masih kecil Zen, dan pamanmu akan menghukum ku," tekan Jhoni berusaha membujuk.
"Sekarang dia bukan paman ku! dan kau,sekarang juga bukan ayah ku. mulai sekarang aku akan menjadi anak buah mu. aku sendiri yang akan menjaga adik ku!" kata Zen dingin lalu pergi meninggalkan sang ayah.
π flash back off...
__ADS_1
"Silahkan kau bunuh aku, tapi izinkan aku melihat keadaannya membaik," tantang Jhoni.
"Sebaiknya kalian keluar, istri saya butuh ketenangan," lerai Zafa menghampiri mereka.
"Maaf tuan Zafa" pinta Zen melepaskan cengkeramannya dari sang ayah.
"Sebaiknya kita sarapan dulu, saya sudah memesan makanan," ajak Zafa menuju sofa ruang tamu yang ada di ruang rawat itu.
"Perkenalkan pa, ini Jhoni Purnama,orang yang kita cari belakangan ini," ucap Tristan saat mereka sudah menyantap sarapan pagi bersama walau waktu sudah tak pagi lagi.duduklah Jhoni, Zafa, Zen dan Tristan disana. sedangkan Fanya menemani Jira yang mungkin sebentar lagi akan sadar.
"Lalu apa hubungannya dengan Jira Tris?" tanya Zavier bingung.
"Sebaiknya biar beliau yang akan menjelaskannya."
"Sekarang tolong jelaskan pada kami tuan Jhoni,agar kami memahami kondisi yang sudah terjadi saat ini," pinta Zafa tegas.karena sejak kemaren ia ingin sekali meminta penjelasan. dan ribuan pertanyaan bermunculan di benaknya tentang apa hubungan sang istri dengan semua ini.
Jhoni menghembuskan nafas panjang. ia berfikir harus dari mana ia akan memulai? Jhoni membuka suara dan mulai bercerita.
π 15 tahun yang lalu...
...****************...
jeng... jeng... jeng... sampai di sini dulu... pasti pada penasaran kan...πππ
like π dan komenπ dulu juga kalau bisa vote π
besok kita lanjut lagi ok. sedikit demi sedikit teka- teki dan misteri akan mulai terungkap.
stay terus ya dan tunggu kelanjutannya...
__ADS_1
TERIMAKASIH π·ππ₯°π€©π₯³πΊ