
"Kalian boleh temani Jira ngobrol dulu, nanti bisa lanjutkan kerjanya," kata Zen pada Andika, Siska dan Banyu saat mengantar Jira ke sana.
"Ra, kakak balik keruang meeting dulu, nanti kalau ada sesuatu hubungi kakak," sambung Zen lagi lalu pergi meninggalkan Jira dan teman-temannya.
"Jadi pak Zen itu kakak lo Ra?" tanya Andika.
Jira mengangguk. "Kakak sepupu gue, pokoknya ceritanya panjang. kapan-kapan gue akan ceritakan kisah hidup gue sama kalian, tapi sekarang gue mau tanya soal Lila."
"Kenapa sama Lila?" tanya Banyu.
"Orang tuanya sakit apa, sampai meninggal dunia?
"Oh, ibunya emang sudah lama sakit-sakitan,nah kemaren sakitnya udah parah banget jadi emang nggak bisa di obati lagi," jelas Banyu.
"Sekarang Lila tinggal sama siapa dong, kalau kedua orang tuanya sudah nggak ada?"
"Lila sekarang hidup sebatang kara, keluarganya bapaknya nggak mau nampung dia, karena Lila itu anak selingkuhan, kalau keluarga ibunya sudah pada pisah jauh deh miss, Lila juga nggak tau mereka ada dimana," sambung Banyu.
"Kasian ya Lila,"
"Kita nanti rencana mau ke kontrakan Lila, kamu mau ikut Ra?" tanya Siska
Jira menganggu cepat. "Boleh, kita berangkat sekarang aja," ajak Jira tak sabar.
"Tapi kerjaan kita gimana?lagian Lila udah sampai belum ya?" gumam Banyu.
"Coba telpon dulu," usul Andika.
Banyu pun mencoba menghubungi ponsel Lila, menanyakan apakah temannya itu sudah kembali ke kota J.
tut... tut... tut..
📱hallo... kamu dimana la, sudah sampai kontrakan...
📱bla... bla... bla...
📱kita sama miss Jira mau ketemu kamu,tunggu disana...
"Kata Lila dia baru sampai Miss. jadi apa kita berangkat sekarang?" tanya Banyu ragu.
"Jadi, ayok," jawab Jira yakin.
__ADS_1
"Tapi Ra, ntar kalau laki lo marah sama kita gimana?" takut Siska.
"Ia Ra, mending lo Izin dulu sama Pak Zafa," Saran Andika.
Jira menempelkan benda pipih yang di sebut ponsel itu ke telinganya. ia mengetuk-ngetuk meja dengan jari menunggu panggilannya terjawab.
"Nggak di angkat," gumam Jira.
Lalu ia mencoba menghubungi Zen, hal yang sama pun terjadi.Sang kakak tak menyadari panggilan dari sang adik.
"Nggak diangkat juga," sambung Jira.
"Mending lo ke atas dulu deh Ra, izin sama suami lo.Kita takut loh nanti kalau ada masalah kita kena amukan pak Zafa," cicit Siska.
"Ok, gue ke atas dulu sekalian minta izin untuk kalian pulang cepat," kata Jira.
"Gue nggak ikut Ra, kerjaan gue banyak.Banyu sama Siska aja yang ikut sama lo. sekarang gue udah jadi kepala disain, jadi tanggung jawab gue juga semakin besar," terang Andika.
"Yakin lo nggak apa-apa kita tinggal sendiri?"
Andika mengangguk
Jira tersenyum dan ia keluar dari ruangan divisi disain menuju lift.Sampai di ruangan meeting Jira masuk dan meminta Zen untuk memanggilkan Zafa untuknya.
"Aku izin ya mau kekontrakan Lila sama Siska dan Banyu, boleh ya?" bujuk Jira.
Zafa tampak berfikir menimang. "Boleh, tapi di antar Zen."
"Nggak usah, aku naik taxi online aja."
"Tapi sayang..."
"Nanti selesai rapat kamu dan kak Zen bisa langsung jemput aku, ok," usul Jira.
"Boleh deh,hati-hati ya."
Jira mengangguk "Sekalian izin Banyu dan Siska pulang cepat ya."
"hheemm... sini, Daddy cium debay dulu." Zafa membungkuk sejajar dengan perut Jira. " Jangan nakal dan jagain Mommy ya nak," bisik Zafa lalu mencium perut istrinya. "Mommy nya juga harus hati-hati," sambung Zafa mengecup kening Jira.
"Muach... " balas Jira di bibir Zafa. "bye... bye hubby."
__ADS_1
Jira kembali turun menuju lobby gedung perkantoran. Di Sana Banyu dan Siska sudah menunggu.
"Kita langsung kedepan yuk, taxi online nya udah jalan kesini," tutur Banyu.
15 menit mereka bertiga sampai di kontrakan Lila.
Kontrakan sederhana pikir Jira saat pertama kali menginjakkan kaki di sana.meski upah yang di bayar oleh perusahaan Zafa pada Lila cukup banyak untuk menyewa 1 kontrakan yang lebih bagus, tapi Lila lebih memilih untuk hidup hemat juga sederhana dan juga pastinya gaji yang di terimanya akan di kirim ke kampung untuk biaya pengobatan sang ibu yang sakit-sakitan selama ini.
"Lila," panggil Banyu di depan pintu kontrakan Lila yang sudah terbuka.
"Kalian udah sampai, mari masuk," ajak Lila.
Mereka pun hanya duduk di lantai beralaskan karpet yang terbentang di hunian petak milik Lila.
"Maaf ya, kita segera datang kemari. nggak kasih kamu waktu istirahat dulu," pinta Siska.
"Nggak apa-apa kok mbak, aku senang kalian samperin aku."
"La, maaf ya, aku baru dapat kabar dari mereka kalau ibu kamu meninggal dunia. aku turut berduka cita," ucap Jira
"Nggak masalah kak, aku ngerti kok, kondisi kakak juga kurang sehat.terimakasih kakak juga mau datang kesini. udah lama ya kita nggak ketemu, gimana kabar kakak dan juga kandungannya sudah berapa bulan?" tutur Lila
"Jalan 18 minggu," jawab Jira.
"Gimana urusan pemakaman La? masalah di kampung sudah beres?" tanya Banyu memburu Lila.
"Semua sudah beres, aku juga sudah nggak perlu lagi balik ke kampung. karena aku sudah di usir. rumah bapak dan Ibu juga akan di jual oleh saudara bapak yang ada di sana. aku nggak bisa berbuat apa-apa selain ikhlas."
"Yang sabar ya La, kamu jangan merasa sendiri. ada kita di sini yang selalu ada buat kamu," jelas Siska menghibur.
"Terimakasih mbak."
"Kenapa kamu di usir segala La?" tanya Jira heran.
"Aku cuma seorang anak dari hasil selingkuhan kak, dan mereka memang nggak menerima kehadiran aku dari dulu.bahkan aku kerja di kota ini mereka berpikir aku jual diri, mereka nggak percaya aku kerja di perusahaan yang terkenal milik suami mbak," cicit Lila sedih.
"Kasihan kamu, sini," ajak Jira memeluk Lila.membantu meringankan beban dan rasa sedih gadis itu yang sudah di anggap adik olehnya.
"Kamu mau nggak jadi keluarga aku?" tanya Jira menatap wajah Lila mengurai pelukan.
"Maksud kak Jira apa?"
__ADS_1
"hhmm... besok setelah jam makan siang kakak akan minta Zen untuk bawa kamu kerumah kakak, besok kita bicara di sana."
Lila pun hanya mengangguk mengiakan Jira yang pastinya memiliki niat baik padanya.