
...yyyyeeeeaaa.... akhirnya novel pertama ku lulus kontrak... π₯³π€©πΈπ....
...terima kasih buat semua screen reader yang sudah mampir untuk membaca π memberi like π dan juga komen π. apalah artinya karya ku ini tanpa dukungan dari kalian semua ππ....
...kedepannya aku minta terus dukungan dari kalian agar novel ku ini bisa masuk top 10 besar! AMIN ππ...
...jangan lupa saran, kritikan serta masukan dari kalian pastinya akan sangat membantu aku untuk novel ini semakin baik dan bagus....
...maaf juga jika masih ada kekurangan karena aku masih dalam tahap belajar....
...tak bosannya aku minta like π komen π dan juga hadiah π serta vote π dari kalian semua....
...TERIMAKASIH...
...πππ₯°ππ€©π₯³πππͺπΌππ·πΉπ»πΌπΈπΊ...
...----------------...
"udah pada makan belum?" tanya Jira berjalan kearah sofa di ikuti Zafa."ini aku masak banyak buat kalian. makan dulu yuk!" ajak Jira menata rantang makanan yang dibawanya.
Triatan segera menutup laptopnya. wangi dari masakan Jira membuat cacing diperutnya berteriak minta makan. Jira mengambilkan nasi dan lauk untuk Zafa.
"cih, pakai dilayani segala" ledek Tristan.
"calon istri yang baik harus gitu! makanya lo cari istri" balas zafa.
"emang lo kasih gue libur buat cari istri?" umpat Tristan kesal.
Zafa tampak berfikir "eemm ... nggak sih!" jawabnya enteng.
"gimana mau cari istri, cari pacar aja nggak ada waktu! lo malah kasih gue kerjaan mulu" gerutu Tristan kesal.
"eh, makan dulu jangan ribut!".lerai Jira memberi piring berisi nasi dan lauk pada Tristan. "ini buat adik ipar" sodor Jira.
__ADS_1
"terimakasih kakak ipar cantik dan baik hati" pinta Tristan tersenyum menerima piring dari tangan Jira.
"sayang, kok Tristan kamu layani juga? dia kan bisa ambil sendiri! " protes Zafa tak suka.
"nggak apa-apa. makan dulu gih! nanti lanjut ribut lagi" tawa Jira melihat tingkah Zafa dan Tristan yang akurnya cuma masalah pekerjaan.
"kamu nggak makan?" tanya Zafa sambil menyuap nasi kedalam mulut.
"aku tadi udah makan habis masak, laper soalnya" jelas Jira memainkan ponsel.
Zafa menganggukan kepalanya dan melanjutkan menikmati makan siang spesial dari calon istrinya. makanan nikmat yang dapat mengalahkan masakan restoran bintang lima bahkan Tristan juga sempat minta tambah pada Jira saking enaknya masakan calon kakak iparnya itu.
setelah Zafa dan Tristan makan. Jira membereskan meja serta rantang makanannya yang sudah kosong dilahap Tristan dan Zafa.
"kamu masih lama?" tanya Jira
"ia sayang! kamu pulang aja dulu bareng Toni. aku sama Tristan pulangnya agak malaman" jelas Zafa mengelus kepala Jira.
"ia, nanti aku usahain pulang jam 9 biar kamu tidurnya nggak kemalaman." terang Zafa membujuk
Tristan mendengar pembicaraan Zafa dan Jira tentang mereka yang sudah tidur bersama. ada pertanyaan di benaknya. namun ia memilih untuk pura-pura sibu dan fokus pada pekerjaan dan laptopnya.
"aku pulang ya! Tris aku pulang dulu" pamit Jira
"ah, ia hati-hati di jalan. terimakasih makan siangnya tadi.kalau bisa besok antar lagi makanannya" pinta Tristan penuh harap.
"eh, itu calon bini gue! enak aja lo suruh-suruh" kesal Zafa tak suka memukul lengan Tristan.
"apaan sih lu Fa, Jira aja setuju, lo aja yang marah" ledek Tristan
"kalau sempat aku masak besok aku minta Toni yang ngantar. aku pergi ya" jelas Jira pamit memeluk calon suaminya dan menerima kecupan di puncak kepalanya dari Zafa.
"dadada..... " lambai Tristan pada Jira yang sudah masuk lift. "eh Fa gue mau tanya! lo ama Jira udah tidur bareng?" tanya Tristan kepo kembali duduk di sofa.
__ADS_1
"udah" jawab Zafa santai.
"berarti kalian udah... " Tristan tak melanjutkan ucapannya karena pikirannya mulai kotor tentang yang dilakukan Zafa dan Jira.
Zafa menjitak kepala Tristan menyadarkan adiknya dari lamunan buruknya. "gue nggak melalukan seperti yang ada dipikiran lo itu ya" jelas Zafa tegas menunjuk kepala Tristan.
"hehehehe.... yakin cuma tidur aja?" tanya Tristan lagi.
Zafa menghembuskan nafas kasar. "sejak kejadian itu Jira nggak mau gue tinggal sendiri. pokonya harus ada gue atau mama. apalagi 1 minggu sejak dari rumah sakit gue nggak boleh kemana-mana. sampai dia mau mandi pun minta gue yang temani. tapi untung ada mama. tapi sekarang dia udah bisa gue tinggal cuma emang pas malam dia harus tidur sama gue" jelas Zafa panjang lebar.
"O" kata Tristan membulatkan bibirnya. "lo nggak coba bawa Jira ke psikiater gitu, siapa tau dia mengalami trauma."
Zafa menggeleng "kata mama kalau Jira suka mimpi buruk atau tidurnya gelisah mungkin dia trauma. tapi sepertinya dia cuma masih butuh waktu aja sih, buktinya sekarang dia udah nggak perlu gue temani lagi" jawab Zafa yakin.
Tristan mengangguk. "bagus lh kalau begitu, gue cuma kasih saran aja. tapi semoga Jira emang baik-baik aja" harap Tristan. dan mereka kembali melanjutkan pekerjaan dengan semangat karena sudah mendapatkan energi tambahan dari masakan yang dibawa Jira tadi.
Tristan sampai saat ini juga masih memantau Miko. ia sempat mendapatkan kabar kalau Miko sudah sering keluar dari persembunyiannya untuk mengunjungi ibu dan adiknya. Tristan memerintahkan anak buahnya untuk terus mengawasi Miko.
untuk saat ini Tristan sengaja tak memberitahukan pada Zafa tentang keberadaan Miko, karena ia tak mau pikiran Zafa terbagi lagi,setidaknya sampai pernikahannya selesai . maka ia akan akan menangani sendiri penangkapan Miko nanti.
...πππππ...
siang ini adalah hari bahagia Zafa dan Jira. dimana mereka akan melangsungkan akad nikah. saat ini Jira sedang di rias oleh MUA di sebuah kamar. sesuai seleranya Jira hanya mau memakai make up natural dan flawless tapi itu sudah membuatnya tampak cantik sempurna di hari bahagianya.
seorang hair du juga bertugas menata rambut Jira. selama Jira di dandani bu Arsy setia menemani putri angkatnya itu.setelah make up dan rambutnya selesai di tata Jira dibantu oleh seorang disainer memakai kebaya.
"sudah selesai bu, kami permisi dulu" kata ke tiga wanita yang bertugas mendandani Jira. mereka berlalu beriringan dari kamar menyisakan Jira dan bu Arsy.
"cantik sekali anak ibu" puji bu Arsy
begitu lah ya kira-kira visualnya Jira
__ADS_1