
"setiap bagun tidur kamu bisa kesini menikmati udara pagi serta memandangi kota saat pagi hari" kata Zafa merangkul Jira
"aku senang! terimakasih sudah menjaga dan merawat aku" kata Jira sendu mengelus lembut rahang Zafa. "terimakasih karena masih mau menerima aku".
"hei... jangan sedih. aku nggak pengen kamu ingat lagi kejadian itu, dan pastinya aku akan selalu terima kamu apa adanya" jelas Zafa lembut memegang pipi Jira. "udah sore, sekarang kamu istirahat! aku mau bertemu Toni untuk membicarakan lagi pernikahan kita yang harus di tunda" jelas Zafa menyelipkan anak rambut Jira dibalik telinga.
Zafa kemudian turun menemui Toni di ruang kerjanya.ia meminta pada Toni agar pernikahannya di undur 3 minggu kedepan. dan untuk ibu Arsy Zafa sengaja tak memberitahukan keadaan Jira yang sebenarnya karena Zafa takut wanita itu akan khawatir dan menyusul Jira ke kota. sedangkan keadaan panti saat ini tidak bisa untuk di tinggalkan.
...π»π»π»π»π»...
kini Jira dan Zafa sedang bersantai menonton film di ruang keluarga dengan beberapa camilan. Fanya juga sempat menanyakan keadaan Jira lewat telpon pada Zafa karena memang ia belum sempat menjenguk Jira setelah pulang dari rumah sakit.
"besok pagi mama kesini mau jenguk kamu sayang" kata Zafa yang sedang merangkul pundak Jira
Jira hanya mengangguk memasukkan cemilan kedalam mulutnya.
"permisi mas Zafa" panggil suster Meri. "waktunya membersihkan luka dan menganti perban mbak Jira " jelasnya.
"ganti disini aja sus" pinta Jira yang pandangannya masih ke arah tv
Zafa memberi isyarat pada suster dengan anggukan kepalanya. tapi suster itu sedikit ragu karena kehadiran Zafa disana membuat Zafa paham dan pergi untuk meninggalkan Jira dengan suster.
"kamu mau kemana?" tanya Jira menarik tangan Zafa
"aku keruang kerja sebentar! suster Meri mau membersihkan luka kamu, jadi aku nggak enak" jelas Zafa lembut
Jira menggelengkan kepala dengan cepat. "kamu disini aja bantu suster Meri" pinta Jira memaksa. sejak siuman dari pingsan Jira memang tak mau di tinggal oleh Zafa. apalagi saat dirumah sakit Jira hanya mau di temani mama Fanya atau Zafa.
Zafa dan suster Meri akhirnya mengalah. setelah peralatannya disediakan oleh suster Meri. Zafa mulai membuka perban yang ada di punggung Jira dan suster Meri merawat luka yang ada di dada serta paha.
"apa masih sakit?" tanya Zafa
"sedikit" jawab Jira.
lalu suster Meri memeriksa luka di punggung Jira. "dibalut tips saja mas Zafa, lukanya sudah mengering" titah suster Meri dan diikuti oleh Zafa.
__ADS_1
"kamu harus terbiasa melihat tubuhku yang cacat karena bekas luka" kata Jira. "setidaknya kamu sudah melihatnya sebelum pernikahan kita tiba" jelasnya lagi dengan suara bergetar.
Zafa kembali memasang baju Jira. suster Meri juga sudah menyelesaikan pekerjaannya ia pun pamit untuk kembali kekamar dan istirahat.
Zafa berlutut di depan Jira yang masih duduk di sofa. "aku mencintai kamu bukan karena fisik, tapi karena hati kamu" jelas Zafa menunjuk dada Jira.
"karena kamu mencintai aku dengan tulus, aku pun mencintai kamu dengan tulus" jelas Zafa meyakinkan Jira.
"sekarang kita kekamar, istirahat" ajak Zafa yang kembali mengendong Jira ala bridal.sampai dikamar ia membaringkan tubuh Jira di atas kasur dan dirinya juga ikut berbaring memeluk calon istrinya yang tak mau tidur sendiri sejak kejadian malam itu.
"sekarang kamu tidur, aku disini dan nggak akan pergi" jelas Zafa mengelus kepala Jira
"hhmm... kamu juga tidur, kan di rumah sakit kamu nggak tidur karena jagain aku" kata Jira di dada bidang Zafa.
"hhmm... good nite baby... " kata Zafa mengecup puncak kepala Jira dan mereka bersama-sama menuju alam mimpi malam itu mengistirahatkan badan dan juga pikiran yang beberapa hari ini sangat lelah.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
sesuai janjinya dengan Zafa. Fanya pagi ini datang berkunjung untuk pertama kalinya ke griya tawang milik Zafa dan Jira. sampai di tempat tertinggi itu Fanya disambut oleh 2 pelayan dan menerima buah dan bunga yang dibawa Fanya.
"bunganya tolong di tata dalam vas" pinta Fanya
"mereka belum bangun?" tanya Fanya
"belum nyonya!" jawab Ratih lagi menundukkan kepala.
"kamarnya dimana?" tanya Fanya lagi
"semua kamar ada di lantai 2 nyonya" jelas Dini
"kalian siapkan buah-buahan nya dan sarapan pagi" titah Fanya melihat jam sudah pukul 8 pagi.
Fanya menaiki tangga satu persatu menuju lantai dua. sambil melihat griya tawang yang dibeli anaknya untuk wanita yang dicintainya. sesekali Fanya berdecak kagum dan bangga dengan Zafa. meski terlahir dari keluarga kaya raya tapi Zafa merupakan anak yang mandiri, ia tak pernah bergantung pada mereka.
sampai di lantai dua Fanya bingung yang mana kamar Jira. pasalnya disana ada tiga kamar. tapi Fanya memilih untuk masuk kedalam kamar yang tampak lebih besar. Fanya mencoba membuka pintu yang ternyata tak dikunci dan Fanya pun langsung masuk, tapi ia dikagetkan saat melihat Zafa bertelanjang dada seranjang dengan Jira.
__ADS_1
Zafa yang sudah bangun, saat tengah asik membelai kepala Jira, ia pun kaget melihat mamanya sudah berdiri di depan pintu kamar.
"mama tunggu dibawah" ucap Fanya dengan raut wajah marah langsung turun dan menunggu Zafa di ruang keluarga.
Zafa segera turun dari ranjang tak lupa mengecup kening Jira yang masih terlelap akibat pengaruh obat.ia mencuci muka dan memakai baju kaos serta celana pendek untuk segera kebawah menemui mamanya.
Zafa menghampiri Fanya yang duduk di sofa sambil meminum teh yang disiapkan Ratih.
"hai mam! kok datang nggak telpon aku?" tanya Zafa lalu meminta dibuatkan kopi pada ratih.
"biar mama nggak lihat kamu tidur bareng Jira" kesal Fanya meletakkan cangkir teh di atas meja.
"ya ampun mam, mama kan tau sendiri sejak di rumah sakit Jira emang nggak mau tidur kalau bukan sama aku atau mama" jelas Zafa
"ia mama tau! tapi kenapa tidurnya nggak pake baju?di rumah sakitkan kamu tidur pake baju" tanya kesal Fanya
"mam, aku itu biasanya tidur emang nggak pake baju! kalau di rumah sakit aku nggak enaklah kalau nanti ada suster masuk" jelas Zafa lagi
"ooo... tapi Jira nggak kenapa-kenapa kan? apa Jira tidurnya suka mimpi buruk? atau dia suka gelisah gitu? tanya Fanya khawatir
Zafa menggeleng " nggak ada sih ma. Jira tidurnya nyenyak aja kok. cuma ya itu aku nggak boleh ninggalin dia! mungkin dia masih takut aja kali mam, kan kejadiannya baru beberapa hari. nanti juga pasti normal lagi kalau Jira udah merasa aman disini" jelas Zafa menyeruput secangkir kopi
Fanya menghembuskan nafas lega. "syukurlah, mama takut kalau Jira sampai trauma" terang Fanya dengan raut wajah sedih
"ZAFA"... panggil Jira dari kamar dan terdengar oleh Zafa dan mama Fanya
...----------------...
aku udah up 2 bab artinya udah 2000 kata..
jadi tolong like π dan komen π nya ya..
biar aku semangat up date terus.. πβΊ
apalagi sekarang lagi musim hujanπ§ di daerah aku, jaringan sedikit lemot untuk up date.
__ADS_1
terima kasih dan selamat membaca
ππππππ₯°ππ€©π₯³πππͺππͺπΌπ