
mereka sudah menapak di kota J di jemput oleh toni sedang dalam perjalanan menuju kediaman Farjana.
"nanti aku langsung pergi temui Tristan ya, kamu turun duluan. di rumah ada mama kok" jelas Zafa
"hhmm... " angguk Jira yang menyandar di bahu suaminya.
"masih lemas?" tanya Zafa melihat Jira kebawah.
"ia, badan ku remuk semua".
"hahaha... maaf, nanti aku minta mama temani kamu ke spa".jawab Zafa memeluk istrinya.
sampai depan rumah, Jira hanya turun sendiri dan Zafa langsung meluncur ke tempat yang sudah di beritahu Tristan.
" selamat datang non" sapa bik Diah membungkuk.
"panggil Jira aja bik!" pinta Jira menjelajahi rumah dengan matanya. "mama sama papa mana? kok sepi? ".
"tuan pergi menemui rekan bisnis, kalau nyonya di kamar lagi bersih-bersih. nanti saya beri tau kalau non Jira sudah tiba" jelas wanita tua itu.
Jira mengangguk paham. "kalau begitu bisa tunjukkan kamar saya dan Zafa?".
" mari non" ajak bij Diah mengajak Jira jalan terlebih dahulu.
"Jira aja"
"maaf non saya nggak enak sama tuan dan nyonya" jelas bik Diah sungkan.
"ya udah deh, tapi nggak perlu nunduk-nunduk gitu sama aku ya, biasa aja. aku nggak enak, bibik lebih tua dari aku" jelas Jira memegang lengan wanita tua disampingnya.
bik diah mengangguk "silahkan masuk non, saya kekamar nyonya dulu".
Jira membuka pintu yang ada di depannya. ternyata kamar ini kamar Zafa dulu yang sudah di dekor ulang oleh mama Fanya karena sekarang Zafa sudah memiliki istri. mertuanya juga sudah menyiapkan beberapa baju untuk Jira.
"mandi dulu deh" gumam Jira sendiri. tubuhnya terasa lengket,karena saat perjalanan ia hanya tidur saat burung besi membawanya terbang.
terasa segar karena air sudah membasuh tubuhnya Jira melangkah ke arah lemari memilih baju ganti untuk dikenakannya.
Fanya yang tau Jira sudah tiba dari bik Diah langsung mencari menantunya di kamar, tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk.
"ssssaayyaanng... " panggil Fanya pada Jira.
"hah... mama" kaget Jira langsung memakai handuk kimono yang sudah di lepasnya kala hendak memakai baju.
__ADS_1
"e, eh... maaf sayang mama nggak ketuk pintu dulu" pinta Fanya tak enak.
"nggak apa-apa ma, masuk aja! "
"ra, hhmm... mama boleh lihat lagi nggak? " tanya Fanya ragu menghampiri.
"lihat apa ma" Jira mengerutkan dahi.
"itu, badan kamu" tunjuk Fanya.
Jira paham. membuka kembali handuk kimono yang di pakaianya. ia merasa nyaman pada mertua nya karena Fanya pernah mengurus dan merawat saat Jira sakit dulu.
"hhaahh... " Fanya menutup mulut, lalu memutar tubuh menantunya yang hanya memakai dalaman saja."ini ulah Zafa" tanya Fanya khawatir untuk memastikan.
Jira mengangguk dan melanjutkan memakai pakaian lagi. mertuanya hanya menggeleng heran tak percaya melihat tubuh Jira penuh tanda cinta.
"tapi kamu nggak apa-apa kan sayang?kamu nggak dipaksa Zafa kan? kamu nggak histeris lagi kan?" Fanya beruntun menanyai menantunya karena khawatir.
"hahaha... nggak mama, aku nggak apa-apa! ya... meski aku juga kaget lihatnya, tapi aku baik-baik aja kok!. Zafa nggak maksa aku, aku juga sudah sembuh, sudah bisa dimiliki Zafa seutuhnya" jelas Jira menggenggam jemari mertuanya meyakinkan membawa duduk di pinggir kasur.
"hhhuufff... syukurlah. mama ngeri lihatnya" ucap Fanya mengedikkan bahu. "kamu pasti capek, mama panggil tukang pijit mau? "
Jira menggeleng "kita spa yuk rileksasi mumpung Zafa sama papa belum pulang. ini masih siang, aku kangen jalan sama mama.
"Zafa nyusul Tristan, katanya ada urusan kerjaan"jelas Jira mengetik sebuah pesan di ponsel untuk suaminya.
menantu dan mertua itu langsung menuju tempat yang dapat memanjakan diri mereka.Jira sampai di kota J saat siang hari, makanya kini ia memilih jalan dengan mertuanya.Fanya memang sudah akrab dengan Jira sedari dulu saat gadis itu magang di kantor suaminya karena Fanya tak memiliki anak perempuan jadi dulu ia sudah menganggap Jira seperti putrinya.
...🌲🌲🌲🌲🌲...
"sampai juga lo" sapa Tristan pada Zafa yang baru turun dari mobil. kini mereka sedang di markas tempat latihan para bodyguard dan tim keamanan milik mereka.
"dimana bajingan itu?" tanya Zafa menggulung lengan kemejanya hingga siku.
"nggak sabaran amat lo" ledek Tristan.
"cih... " kesal Zafa langsung masuk meninggalkan adiknya dibelakang.
Tristan berlari kecil menyusul kakak angkatnya. "siang bos" sapa anak buah mereka yang sedang latihan.
"siang" jawab Zafa dingin.
"udah lama gue nggak kesini" kata Zafa
__ADS_1
"ia lah, lo mah sibuk di perusahaan!. gue yang urus nih bisnis biar tetap maju dan berkembang" jawab Tristan sombong menepuk dada.
Zafa tersenyum sinis "bagus,artinya lo pantas jadi adik gue". di terima dengusan kesal oleh Tristan.
"bawa bajingan itu" titah Tristan pada anak buahnya.
dua orang bertubuh besar itu mengiring Miko yang tampak babak belur kehadapan Zafa yang sudah duduk di bangku kebesarannya.
Miko tersenyum mengejek "jadi lo berani karena pakai orang suruhan" ledek Miko
"bukan!, gue cuma nggak ada waktu untuk mengurus lo, karena gue sibuk bulan madu sama istri gue" jawab Zafa santai.
Miko geram "gue akan ambil Jira lagi, dan pastikan di hanya akan jadi milik gue" tantang Miko.
Zafa hanya memasang wajah datar "bawa air satu baskom besar" titah Zafa dingin.
anak buahnya menyiapkan apa yang diminta Zafa.
Zafa menghampiri Miko dan berjongkok.memegang rahang pria di depannya dengan kuat. "gue kesini bukan untuk mendengar ocehan lo, gue kesini cuma untuk membalas apa yang sudah lo lakukan terhadap istri gue" kata Zafa dingin menatap Miko.
"kalau lo berani, lepasin tangan gue, dan kita satu lawan satu" ancam Miko.
Zafa tersenyum sinis "lalu apa yang lo lakukan terhadap Jira saat dia meminta dilepaskan?".
Miko hanya diam.lidahnya terasa berat saat akan bicara.
Zafa menyeret Miko membenamkan kepala pria itu kedalam baskom besar berisi air. cukup lama sampai Miko sulit bernafas Zafa mengangkat kepalanya keluar.
"bagaimana rasanya?" tanya Zafa dingin berbisik ditelinga Miko.
"lepaskan gue, lo berani karena banyak anak buah disini.dasar pengecut" geram Miko berontak.
"oh, lalu apa yang lo lakukan pada Jira saat dia bersama gue? lo hanya berani mengikuti dan mendatangi dirinya saat sendiri" geram Zafa meremas kuat rambut Miko bagian belakang.
"aakkhh... sakit, lepas kepala gue" teriak Miko.
"apa yang lo lakukan saat istri gue memohon untuk dilepaskan?" tanya Zafa lagi lalu membenamkan kepala Miko kedalam baskom.
Zafa menahan tubuh Miko yang berontak dengan kuat. kali ini cukup lama. Tristan sedikit khawatir kalau Miko bisa mati tak bernafas.
"fa... jangan sampai dia mati" ingat Tristan.
Zafa mengangkat kembali kepala Miko.
__ADS_1
"uhuk... uhuk... uhuk... "Miko terbatuk-batuk karena menghirup air.