Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 103


__ADS_3

"Tuan, meeting nya akan segera di mulai," kata Zen memberitahu Zafa agar segera keruang meeting.


Zafa mengangguk dan membimbing istrinya menuju ruang meeting. "Nanti kalau capek atau ada apa-apa ngomong sama aku ya," pesan Zafa pada sang istri meski mereka duduknya bersebelahan.


"Baik suamiku."


Atas titah Zafa rapat dengan para pemegang saham pagi itu di mulai.Mereka pastinya membahas tentang status saham mereka jika nanti ZF Corp dan GM Group menjadi satu.Dalam rapat itu pastinya ada pro dan kontra tentang keputusan yang di ajukan oleh 2 pimpinan mereka yaitu Zafa dari ZF Corp dan Jira dari GM Group.Kedua pemimpin itu pastinya ingin memberikan putusan yang nantinya adil dan di setujui oleh mereka semua yang hadir pada rapat ini.


Jira mulai tampak memijit pelipisnya, rapat yang di pikirnya akan biasa saja ternyata dapat menguras pikiran, emosi dan tenaganya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Zafa khawatir.


Jira tersenyum dan menggeleng. "Aku baik-baik aja, cuma sedikit pusing karena rapat ini nggak juga mendapatkan keputusan final."


Pasangan suami istri itu kembali berkutat pada kertas dan layar yang ada di dekat dan hadapan mereka.Zafa dan Tristan juga sesekali berdiskusi.Begitu pula dengan Jira, ia pastinya akan meminta pendapat sang kakak, Zen.


Jam makan siang sudah sedikit terlewatkan tapi rapat hari ini tak ada tanda-tanda akan berakhir.Jira juga sudah mulai merasa lelah dan capek.Ia juga meringis memegang perutnya. "AAWW... . " pekik Jira sedikit membungkuk memegang perutnya.Entah karena merasakan sakit atau kaget kita tak tau.


"Kenapa sayang?" Zafa


"Ada yang sakit Ra?" Zen


Mereka berdua bersamaan bertanya dan menghampiri Jira.


Dan Tristan juga ikut bangkit dengan raut wajah khawatir.


"Kita istirahat dulu.Ini udah jam makan siang," terang Jira masih mengelus perutnya.


Zafa memberikan kode pada Zen untuk membubarkan rapat sementara untuk makan siang.


"Kenapa sayang?apa yang kamu rasakan?" tanya Zafa cemas berlutut di depan perut istrinya.


Jira mengembangkan senyum di wajahnya, lalu menarik tangan Zafa menyentuh perut buncitnya. "Kamu rasakan, anak kita bergerak!" terang Jira dengan raut wajah berseri.

__ADS_1


Zafa pun tak kalah kagetnya saat menyentuh perut sang istri ia merasakan gerakan bayinya menendang-nendang seolah ingin mengajak sang papa bermain. "Hey, jagoan ini Daddy, tendangnya jangan terlalu kuat. kasihan mommy, dia sampai kaget," bisik Zafa di perut Jira mengajak anak mereka berbicara.


"Dia nendang lagi sayang," cicit Jira


Wajah Zafa berseri dan mulutnya melengkung membentuk senyuman.Sudut matanya meneteskan sebulir air mata. "Bagaimana dia bisa tumbuh dan hidup disini? aku sangat bersyukur Tuhan masih menjaganya untuk terus tumbuh di dalam rahim kamu, terimakasih Tuhan. Terimakasih istri ku." Zafa mengecup perut Jira lalu beralih mengecup seluruh wajah istrinya meluapkan rasa syukur dan terimakasihnya.


Tristan menghempaskan bokongnya dengan keras pada kursi yang di duduki nya tadi. " Gue pikir kenapa, eh malah mereka cium-ciuman," keluh Tristan bernafas lega.


"Sini" ajak Jira menarik tangan Tristan menyentuh perutnya.


Tristan sedikit kaget dan ragu, tapi Jira terus memaksa akhirnya ia mengikuti kemauan kakak iparnya itu.


"Dia bergerak" kata Tristan melebarkan matanya.


Jira tersenyum dan mengangguk. "Kakak, sini," panggil Jira pada Zen. Ia juga membawa tangan kekar itu menyentuh perut besarnya.


"Sungguh? ada makhluk kecil yang hidup disini?" tanya Zen kagum tak percaya dengan kuasa Tuhan.


"Sudah, sudah," potong Zafa menarik Jira kedalam pelukannya. "Kalau kalian ingin merasakan kebahagian yang gue rasakan saat ini maka cepat-cepat lah menikah," usul Zafa.


"Itu benar, terutama untuk kak Zen," tambah Jira merangkul Zafa.


"Gue mau makan siang dulu," potong Tristan mengalihkan pembicaraan.


Zen mengangguk. "Nanti kalau kakak ketemu orang yang cocok dan pas, pasti kakak akan menikah," kilah Zen yang tak mau membahas masalah pernikahan untuk sekarang.


"Sebaiknya kita segera makan siang, kasihan baby pasti dia kelaparan," sela Zafa.


"Kita makan di kantin kantor ya, aku kangen suasana di sana," ajak Jira.


"As you wish my wife."


Mereka bertiga pun turun kelantai dua tempat kantin yang menyedikan sarapan pagi dan juga makan siang untuk pegawai kantor.

__ADS_1


"Hai" sapa Jira pada teman-temannya yang juga sedang makan siang di sana.


"Bagaimana kabar lo Ra?" Andika.


"Bagaimana kandungan kamu?kamu sudah sehat?" Siska.


"Miss Jira udah boleh beraktifitas?" Banyu.


"Aduh, aku bigung nih, mau jawab yang mana.Tapi yang pasti kabar aku baik-baik aja.Kandungan aku juga udah sehat dan aku sudah boleh beraktifitas kembali," jawab Jira semangat karena ia sangat senang bisa bertemu kembali dengan teman dan rekan kerjanya dulu.


"Syukurlah, kita sebenarnya khawatir sama kamu Ra.Kita juga pengen jenguk tapi kamu tau sendiri lah," balas Siska.


"Aku ngerti kok. oh ya, Lila mana, kok nggak bareng kalian?"


"Lila, 2 hari yang lalu ibunya meninggal dunia. Sekarang dia sudah jadi yatim piatu.Mungkin sekarang dia sudah sampai dikontrakan," tutur Banyu.


"Kok nggak kasih kabar aku?" tanya Jira


Teman-temannya hanya melirik Zafa sekilas.Pastinya mereka dilarang oleh Zafa untuk menghubungi sang istri.Jira pun mengikuti arah pandangan teman-temannya.


"Aku makan siang dulu ya,nanti setelah ini aku keruangan kalian.Kita ngobrol banyak, ok," lanjut Jira.


"ok.kita tunggu," balas Andika.


Jira dan suaminya juga Zen pergi meninggalkan kawannya menuju meja yang akan mereka duduki.


"Kenapa sih sayang, kamu larang mereka untuk menemui aku dan juga menghubungi aku? aku juga butuh teman!" tanya Jira pada Zafa yang duduk di hadapannya.


"Aku nggak mau nanti kamu mendengarkan berita yang nggak pasti dari mereka,yang akan membuat kondisi kamu memburuk. 3 bulan belakangan kondisi kamu lagi nggak bagus , jadi aku sengaja blokir mereka di ponsel kamu hanya sampai kamu sudah sembuh, nggak selamanya," terang Zafa menjelaskan alasannya.


"Tapi nanti aku boleh ya ke ruangan mereka. juga kasih mereka waktu santai sedikit buat ngobrol sama aku, boleh?" bujuk Jira.


"Boleh, nanti kamu di antar sama Zen, dan Zen akan memberikan mereka waktu luang untuk ngobrol sama kamu. Sekarang kita makan," Zafa setuju.

__ADS_1


__ADS_2