
❣ 3 bulan kemudian....
"Bagaimana kondisi anak kami dok?" tanya Zafa
"Syukur kita bisa melewati trimester pertama.Janin yang ada di kandungan buk Jira sehat dan semua nya sudah normal." jawab dokter kandungan wanita yang menangani Jira.
"Alhamdulillah" syukur Zafa dan Jira.
"Tapi ibu Jira harus tetap istirahat tidak boleh capek dan jangan stres.Makan buah dan sayur serta makanan bergizi lainnya.Sedikit tapi sering itu lebih bagus.Juga konsumsi susu ibu hamil dan vitaminnya ya! "
"Apa saya masih perlu melakukan transfusi darah dok?"
Dokter menggeleng "Tidak perlu, dari hasil tes semua sudah normal mulai dari tekanan darah, HB,kekentalan darah dan lainnya."
"Apa saya sudah boleh melakukan aktifitas dok?" tanya Jira karena selama 3 bulan ini ia hanya di perbolehkan berada di atas kasur.
"Karena kandungan ibu sudah 4 bulan, jadi ibu boleh melakukan aktifitas ringan saja. Pelan-pelan jangan di paksakan jika merasa lelah. ibu juga tidak perlu lagi memakai kursi roda."
Zafa dan Jira tersenyum senang. 3 bulan belakangan adalah hari yang berat untuk mereka berjuang mempertahankan janin di kandungan Jira.
"Apa ada yang mau di pertanyakan lagi?" tanya dokter menatap Jira lalu Zafa.
"Saya boleh ... berhubungan sama istri saya?" tanya Zafa sedikit ragu.
Jira langsung memukul lengan Zafa karena merasa malu mendengar pertanyaan yang dilontarkan suaminya.
Dokter tersenyum "Boleh, asalkan sang ibu nyaman dan jangan terlalu sering."
Zafa seperti mendapatkan angin segar mendengar jawaban dari dokter.Sedangkan Jira hanya tertunduk malu.
"Itu hal biasa kok buk Jira. setiap suami yang mengantar istrinya periksa selalu menanyakan hal yang sama dengan pak Zafa." jelas dokter mengulas senyum di wajahnya.
"Kapan jadwal kontrol lagi dok?" tanya Jira mengalihkan pembicaraan.
"Satu bulan lagi ya."
"Baik dok, terimakasih.Kami permisi pulang dulu." pamit Jira.
Pagi ini Zafa sengaja tidak berangkat kekantor.Karena setiap jadwal kontrol istrinya Zafa tak pernah absen. Malahan ia akan mengosongkan jadwal kerjanya.
"Hati-hati sayang!" kata Zafa membimbing istrinya masuk mobil.
ia memutari mobil lalu masuk dan duduk di balik kemudi dan mulai melajukan mobil sport mahal yang baru saja ia beli.Zafa sengaja membelinya khusus untuk sang istri karena menurut Zafa mobil sport itu getarannya jauh lebih halus dari jenis mobi lainnya. Jadi pasti akan aman untuk sang istri dan janin dalam kandungan Jira.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih tanya kayak gitu sama dokternya?aku kan malu!" kesal Jira
"Sayang... aku udah 3 bulan ini puasa. Jadi aku mau buka puasa makanya biar lebih aman aku pastikan dulu!"
"iiihh... kamu mah ngeselin, mesum." rajuk Jira memanyunkan mulutnya.
"Hahaha...jadi nanti malam boleh ya?" goda Zafa menaik turunkan alisnya.
"Zzzzaafffaa... "Jira memukul-mukul suaminya dari samping.
" Sakit ssaayaanngg..." rengek Zafa.
Jira menghentikan pukulannya "Kita kemana?ini bukan jalan pulang kerumah mama."
"Aku punya kejutan buat kamu."
"Apa?"
"Duduk manis aja dulu sebentar lagi kita sampai."
Jira pun memilih diam dan menikmati pemandangan dari kaca mobil.20 menit perjalanan mereka melewati sebuah pantai.
"Kita kepantai?" tanya Jira
"Bukan"
Zafa membelokkan mobilnya menuju satu perbukitan di ujung pantai. tak lama tampak gerbang besar nan tinggi menjulang.tin... tin... klakson dari mobil Zafa membuat gerbang itu terbuka.Tampaklah sebuah rumah minimalis bergaya moderen berdiri kokoh di sana.
"Ayo turun." ajak Zafa membuka pintu mobil untuk istrinya.
Jira turun lalu ia mengedarkan pandangannya "Ini rumah siapa?"
"Rumah kita." jawab Zafa membimbing istrinya berjalan memasuki rumah.
"Serius?"
Zafa mengangguk "Apa kamu suka?"
"Suka! suka baget! ini seperti impian aku." seru Jira dengan wajah berseri mengelilingi rumah.
"Zen yang cerita sama aku, kalau kamu pengen punya rumah di atas bukit dekat pesisir." Zafa menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Terimakasih." Jira megusap lembut pipi Zafa.
"Selamat pagi." sapa Zen
"Pagi" jawab Jira dan Zafa
Tiba-tiba Jira menghampiri Zen dan memeluknya "Terimakasih ya kak, kamu masih ingat dengan rumah impian aku." gumam Jira di dada bidang Zen.
Zen memegang bahu Jira melonggarkan pelukan itu "Kakak akan membayar semua waktu kita yang terbuang. Apa pun yang dulu kamu impikan pasti akan kakak wujudkan."
Jira mengukir senyum di wajahnya "Mari duduk." ajak Jira. mereka pun duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa Zen?"
"Tuan, pengabungan 2 perusahaan sudah 80%.Sisanya kita akan meeting dengan para pemegang saham sebelum penandatanganan ZF Corp dan GM group menjadi JIZA company."
Zafa mengangguk "Kapan meeting nya di adakan?"
" 2 hari lagi Tuan, dan jika semua berjalan lancar acara penandatanganan dan peresmian akan di adakan 2 minggu lagi."
"Baik, kamu urus dan atur semua Zen" Titah Zafa.
"Kakak yakin nggak mau mengurus perusahaan papa? bagaimana pun kakak punya hak loh." timpal Jira
Zen menggeleng "Kakak cukup dampingi Zafa aja. Dan kakak akan selalu ada buat kamu.oh ya... gimana hasil pemeriksaan tadi? ponakan kakak baik dan sehat kan? kamu juga sudah lepas dari kursi rodanya?"
"Alhamdulillah dia sehat kok Kak" jawab Jira sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membesar. "Aku juga udah boleh beraktifitas."
"Syukurlah.Ayah titip salam buat kalian. Beliau akan hadir nanti pas acara pengesahan JIZA company."
Jira menganguk " hhmm... kakak nggak ada rencana gitu untuk memiliki keluarga? menurut aku setelah semua masalah kita selesai kakak juga harus memikirkan diri kakak sendiri loh, cari calon istri gitu." saran Jira
Zen menghembuskan nafasnya lalu menyandar pada sofa "Untuk saat ini kakak nggak kepikiran kesana, kakak cuma mau menebus kesalahan kakak sama kamu. Jadi waktu kakak cukup untuk mengurus pekerjaan dan selebihnya untuk kamu." tutur Zen.
Jira mengangguk paham "Aku ke kamar dulu mau istirahat. Sayang, antar aku ke kamar." pinta Jira pada Zafa.
"Tunggu di ruang kerja Zen." titah Zafa sebelum mengantar sang istri dan Zen mengangguk.
Sampai di kamar Jira di bantu Zafa duduk menyandar pada bantal agar punggung sang istri merasa nyaman.
"Kamu kenapa? kamu kesal sama Zen?" tanya Zafa mengelus rambut istrinya.
Jira menghela nafas "Aku hanya merasa egois aja, kalau kak Zen terus menjaga aku.Aku juga pengen kak Zen itu bahagia dan mulai memikirkan dirinya sendiri.Apalagi sekarang aku sudah punya suami, seharusnya kak Zen nggak perlu khawatir lagi." jawab Jira sedih.
__ADS_1
"Aku mengerti dengan maksud kamu. Mungkin Zen hanya masih merasa bersalah karena meninggalkan kamu saat kecil, jadi dia hanya ingin menebus rasa bersalahnya." imbuh Zafa mencoba memberi pengertian.
"Aku emang marah dan kecewa saat dia meninggalkan aku dulu. Tapi kan sekarang semua sudah membaik, aku juga sudah memaafkan kak Zen".