Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 99


__ADS_3

"Mama" panggil Jira menyambut kedatangan mertuanya bersama Tristan sore hari."Papa nggak iku?"


"Nggak sayang, papa ada tamu di rumah makanya mama ajak Tristan."


"masuk yuk!" ajak Jira.


"Zafa mana ra?" tanya Tristan menjelajahi rumah baru kakaknya dengan mata.


"hhmm... nah itu dia panjang umur." jawab Jira menunjuk suaminya yang turun dari lantai dua.


"woi bro." Tristan menghampiri Zafa. "keren banget rumah kalian."


"Ia ra, bagus rumahnya mama suka, pemandangannya juga bagus." timpal Fanya.


"Ini yang atur dan disain Zen ma, aku serahin semuanya sama dia.Aku cuma urus keuangan nya aja." urai Zafa membawa istrinya duduk di sofa karena Jira tak boleh terlalu lama berdiri.


"O, o... hebat ya, ah mereka kan saudara pasti bakatnya hampir sama lah." kagum Tristan yang juga ikut duduk.


Jira mengangguk "Kak Zen itu jauh lebih hebat dari aku, dulu aku sering belajar sama dia kalau lagi di bawa kabur." Jira mengigat masa lalu.


"Gimana kondisi cucu mama?" tanya Fanya


"Baik dan sehat, Jira juga udah boleh beraktifitas kok Mam" jawab Zafa.


"Syukurlah.Oh ya, Mama udah bawa makan malam nih. Semua sesuai pesanan Zen, tadi dia datang kerumah katanya pelayan belum ada di sini."


"Pesanan Zen?" tanya Zafa.


"Ttadi dia tulis memo masakan apa aja yang baik dan bagus untuk ibu hamil, terus juga ada buah sama sayur dan cemilan. Zen juga nggak mau kamu nanti kerepotan masak buat Jira, jadi Zen minta pelayan di rumah mama masak buat kalian." tambah Fanya.


"Perhatian banget ya Zen." timpal Tristan.


"Dia emang protektif sama Jira, bahkan pelayan untuk disini pakai di seleksi segala." balas Zafa.


"Nggak apa-apa sayang. Kita terimakasih loh sama kak Zen, bukan perhatian sama aku aja, sama kamu juga loh" lanju Jira.


"Ia,Zen itu tampak lebih dewasa dari umurnya" timpal Fanya.


"Ya udah kita makan malam bareng yuk." ajak Jira


Mereka berempat menikmati makan malam di meja makan dengan disuguhkan pemandangan pantai dari jendela kaca nan lebar yang langsung mengarah ke lautan luas. bercengkrama dan tertawa lalu membahas kehamilan Jira sampai menggoda Tristan yang masih jomblo.

__ADS_1


"Mama sama Tristan pulang dulu ya sayang." pamit Fanya selesai makan malam.


"Mama nggak nginap di sini?" tanya Jira


"Kapan-kapan ya, kasian papa tidur sendiri." tolak Fanya halus.


"Ya udah deh." kata Jira lesu.


"Jangan gitu, mama janji nanti bakal nginap disini." bujuk Fanya.


Jira mengangguk dan tersenyum. mereka mengantar Fanya dan Tristan sampai halaman rumah.


"Tris, besok ambil mangga yang di rumah Mama ya, tapi yang masih muda terus antar kesini." pinta Jira sebelum Tristan masuk mobil.


"HAH... " kaget Tristan.


"Ia, tapi ambilnya manjat ya Tris aku nggak mau tukang kebun yang ambil. harus kamu" tambah Jira tegas


Tristan hanya melongo menatap kakak dan mamanya bergantian.tapi Zafa hanya cuek bebek.


"Ok sayang, Mama pastikan Tristan akan memenuhi ngidam kamu." sahut Fanya.


Jira tersenyum senang "Hati-hati Mama, dada Tristan".


Mereka menatap bagian belakang mobil melepas kepergian sedan itu meninggalkan halaman hunian baru.


"Kamu ngerjain Tristan?" tanya Zafa membawa masuk istrinya.


Jira mengerutkan dahi. "Maksudnya?"


"Ngapain kamu minta Tristan manjat pohon mangga di rumah mama?"


Jira mengangkat bahu "Nggak tau cuma pengen aja." jawab Jira santai.


Zafa juga sedikit bingung tapi tak maslah buatnya. Masa bodoh lah Tristan pikir Zafa.


Di kamar Jira memilih membersihkan diri dan berganti pakaian lalu di susul Zafa.Jira sudah duduk di atas kasur sambil menonton film.


"Sayang, aku punya kejutan." panggil Zafa yang baru balik dari kamar mandi.


"apa?"

__ADS_1


Zafa menutup gorden dan mematikan lampu kamar menyisakan satu lampu kecil di atas meja. Ia mengambil remote kecil lalu memberikan pada sang istri. "Coba pencet remote nya."


Jira tampak bingung lalu menekan remote yang di berikan Zafa.Terbuka lah atap yang berada tepat di atas tempat tidur mereka. Menampakkan langit malam yang penuh bintang.


"Ini serius?" tanya Jira kagum.


Zafa mengangguk "Kamu suka?"


"Aku suka benget,makasih ya." jawab Jira memeluk suaminya.


"Ia sayang, aku akan berikan apapun untuk kamu dan anak kita." balas Zafa mengelus punggung istrinya.


"Tapi ini amankan?"


"Aman kok, kacanya berlapis berlian, jadi nggak gampang pecah. kamu bisa nikmati hujan, bintang dan bulan saat malam hari, nah pas mau pagi dia akan nutup sendiri." urai Zafa


"iiihh... suamiku baik banget deh, tau aja apa yang aku suka." Jira gemas mencubit pipi Zafa.


"Di penthouse kamu paling suka kalau jendela kamar nggak di tutup gordennya, makanya aku ada ide untuk bikin atap transparan ini, tapi teknologinya di disain sama teman aku yang di jepang." sambung Zafa.


"Pasti mahal ya?"


Zafa mengangguk dan tersenyum "Lumayan lah,


habis 1m lebih sedikit .bisa dibilang ini atap termahal kali y.a" tambah Zafa.


"Hah ... segitunya?" kaget Jira tak percaya.


"Ia sayang, kacanya di pesan khusus ini, belum lagi biaya impornya, terus teknologi nya sama biaya pasang." terang Zafa lagi.


Jira tersenyum lebar "Makasih hubby muach." Jira mengecup pipi Zafa.


"hhmm... aku mau juga dong hadiah, masak cuma di cium sama ucapan makasih doang." rengek Zafa.


"Kamu mau apa?"


"Bercinta." bisik Zafa di telinga istrinya.


Jira tersipu malu. sebenarnya ia juga merindukan sentuhan nikmat dari sang suami.3 bulan belakangan mereka hanya bisa tidur berpelukan.mengigat kondisinya yang memang tak boleh melakukan kegiatan apapun. Jira benar-benar harus bedrest kata dokter kandungannya.


"hhmm... tapi pelan-pelan ya." pinta Jira berbisik.

__ADS_1


Zafa mengangguk, ia memulai aksinya menjamah tubuh sang istri yang sangat ia rindukan.pelan-pelan mereka menaiki puncak surga dunia.merenguh nikmat lewat sentuhan dan belaian lembut. sampai penyatuan itu dilakukan dengan pelan Zafa membawa istrinya terbang melayang bersama menuju nikmatnya bercinta.


__ADS_2